Kejar Keuntungan, Wakaf Bisa Dipakai Bangun Apartemen Hingga Rumah

Merdeka.com - Merdeka.com - Pandemi Covid-19 telah melahirkan inovasi pengelolaan wakaf di Indonesia. Biasanya pengelolaan wakaf terbatas untuk pembangunan makam, masjid dan madrasah (sekolah). Kini wakaf bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang bisa mendorong perekonomian masyarakat.

"Kalau ada tanah wakaf biasanya cuma dibuat makam, masjid dan madrasah, tapi sekarang bisa dimanfaatkan untuk membangun apartemen, rumah atau renovasi bangunan menjadi lebih bagus," kata Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Arief Hartawan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) 2, Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7).

Arief menjelaskan, inovasi wakaf sebenarnya telah banyak digunakan dan dikembangkan di banyak negara. Salah satunya di Kairo dengan membuat dana abadi untuk membiayai proyek tertentu.

"Kalau di negara lain bisa kenapa kita tidak," kata dia,

Konsep yang sama juga bisa dikembangkan di Indonesia. Sehingga aset dari wakaf bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih menguntungkan.

"Makanya kita bawa wakaf ini sebagai aset produktif. Kalau ada tanah ini jangan semua dibuat makam tapi bisa dibuat sesuatu yang menguntungkan," katanya.

Sebenarnya kata Arief zakat, infaq dan sedekah bisa dikembangkan lebih lanjut. Mengingat zakat jika ditelaah lebih mendalam merupakan konsep untuk menjaga daya beli dan kesetaraan di masyarakat.

Sedekah dapat dimaknai sebagai upaya membangun infrastruktur. Sedangkan wakaf merupakan aset produktif yang bisa dikelola untuk kesejahteraan masyarakat.

"Jadi selama ini kita melihatnya terlalu sempit," kata dia.

Inovasi Wakaf Cross Border

cross border
cross border.jpg

Saat ini kata Arief wakaf tengah dikembangkan menjadi mekanisme pembiayaan lintas batas (Cross Border Waqf). Pengusaha bisa mengajukan proposal pembiayaan atau investasi kepada lembaga wakaf, Awqaf Properties Investment Fund (APIF).

Syaratnya, proyek tersebut harus mendorong perekonomian. Jika proposal diterima, APIF akan mendanai proyek tersebut dengan ketentuan 25 sendiri dan sisanya 75 persennya akan diberikan APIF. Selain itu, setelah proyek berjalan, dana yang diberikan harus dikembalikan sesuai dengan perjanjian awal.

"Dana 75 persen dari APIF yang nanti harus dikembalikan dalam durasi pengembalian dana 5 sampai 15 tahun, sesuai dengan perjanjian yang buat," tuturnya.

Sebagai informasi, APIF merupakan program inovasi dari Islamic Development Bank (IsDB) yang melibatkan investasi wakaf. APIF mengintegrasikan keuangan sosial dengan komersial. Instrumen keuangan sosial syariah itu membangun kemitraan dengan wakaf atau nazir pada proyek-proyek wakaf produktif di negara lain.

APIF memiliki misi tidak hanya memobilisasi sumber daya dari kolaborasi dana sosial dan komersial, tapi juga mendorong dampak sosial di masyarakat. Pengembangan APIF saat ini telah menjalin kerja sama dengan berbagai penerima manfaat nirlaba mulai dari pemerintah, pusat riset, dan juga organisasi amal. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel