Kejati Tak Berani Seret Pejabat PLN

Laporan Wartawan Tribun Timur Rudhy

·

TTRIBUNNEWS.COM MAKASSAR, -- Tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel mengaku masih ragu menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan dan pembangunan pembangunan jaringan kabel bawah tanah (undergraound cable/UGC) dan transmisi line (T/L) 150 kV Tanjung Bunga-Bontoala yang ditaksir merugikan keuangan negara miliaran rupiah.

Hal tersebut disampaikan langsung Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sulsel Chaerul Amir, saat dimintai tenggapannya perihal perkembangan penanganan tidak pidana korupsi PLN tersebut, Jumat (5/10).

“Kami belum berani menetapkan tersangka atau pihak yang paling bertanggungjawab secara pidana dalam kasus itu sebelum hasil kerugian negara yang ditimbulkan belum pasti,” tegas Chaerul kepada wartawan saat ditemui di kantornya, sore tadi.

Menurutnya, pihaknya bisa saja menetapkan tersangka dalam proyek yang total anggarannya mencapai Rp 100 juta, jika pihak kejaksaan telah mendapatkan hasil perhitungan atau penelisakan jumlah pasti kerugian negara yang dilakukan tim ahli dari Unhas dan Puslitbang PT PLN (persero).

Meski pihak Kejati Sulsel, telah mengantongi sejumlah nama pejabat PLN yang bakal menjadi calon tersangka, namun Chaerul mengaku, masih perlu pembuktian kuat adanya tindakan melawan hukum dalam perkara itu.

“Kami harus memiliki bukti kuat, sebelum menetapkan siapa tersangkanya,” tegas mantan Kajari Tangerang itu.

Untuk membuktikan adanya keterlibatan pihak lain termasuk pejabat dan mantan pejabat PLN dalam kasus itu, penyidik bagian pidana khusus (pidsus) Kejati Sulsel terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang dinilai mengetahui perkara ini. termasuk kembali memeriksa mantan General Manager PT PLN Sultanbatara Ahmad Siang.

Berdasarkan pantuan Tribun di kejaksaan, mantan pejabat orang nomor satu di PLN Sultangbatara menjalani proses pemeriksaan selama kurang lebih lima jam. Mulai pukul 09.00 wita hingga pukul 14.35 wita.

"Pemeriksaan Ahmad Siang masih sebatas saksi dan juga sebagai kuasa pengguna anggaran pada saat dirinya menjabat selaku GM PLN,” ujar Chaerul.

Menurutnya, pemeriksaan yang dilakukan untuk mendalami posisi kasus tersebut. selain itu, keterangan saksi akan dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan

Mantan Kajari Palopo  menyatakan, hasil pemeriksaan terhadap Ahmad Siang diketahui kalau pada tahun 2007 pihak PLN telah menunjuk perusahaan penyedia kabel, akan tetapi pada tahun 2008 perusahaan yang melakukan pemasangan tidak sama dengan perusahaan yang jadi rekanan pengadaan kabel.

Pada proses pemasangan dimana alokasi anggaran mencapai Rp28 miliar, realisasinya panitia tender memangkan perusahaan yang mengajukan penawaran sebesar Rp18 miliar.

"Dari keterangan itu sebenarnya sudah dapat disimpulkan siapa sebenanrya pelaku yang diduga bertanggungjawab secara pidana dalam kasus ini. namun kami masih perlu data dan bukti lainnya,” ungkap Chaerul, mengaku

Untuk mengungkap secara jelas kondisi proyek pembangunan jaringan kabel bawah tanah (undergraound cable/UGC) dan transmisi line (T/L) 150 kV Tanjung Bunga-Bontoala yang dikerjakan pada tahun 2007 ini, pihak Kejati Sulselbar telah menggandeng tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) PT PLN (persero) untuk melakukan pemeriksaan terhadap kabel yang digunakan dan tekhnis pemasangannya.

Sebelumnya pihak kejaksaan juga sudah menggunakan tim ahli dari Universitas Hasanuddin untuk melakukan pemeriksaan terhadap kabel yang digunakan pada proyek dibawah naungan PT PLN UIP Ring Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulmapa).

Bahkan, pihak kejaksaan juga sudah merilis nilai kerugian negara sebesar Rp13 miliar, bahkan ada pula pendapat kalau kerugian negara dalam perkara ini sebesar Rp82,6 miliar atau masuk kategori total lose.

Chaerul Amir menjelaskan alasan pihak kejaksaan menggandeng tim dari PLN karena pemeriksaan kabel yang digunakan dalam proyek ini sifatnya sangat tekhnis dan pihak kejaksaan tidak bisa melakukan.

Pemeriksaan fisik dan kualitas kabel juga menurut Chaerul hanya bisa dilakukan dengan alat yang canggih di Jakarta selain juga membutuhkan biaya yang mahal.

Mantan Asisten Pengawasan Kejati Sulsel itu hanya mengingatkan kalau pihak kejaksaan dalam kasus ini mendalami dugaan penyimpangan pada dua hal yakni pengadaan kabel dan material undergraound cable (UGC) dan transmisi line (T/L) 150 kV Tanjung Bunga-Bontoala dengan total anggaran Rp82,6 miliar serta pemasangannya yang anggarannya mencapai Rp18 miliar, sehingga total anggaran dua proyek tersebut mencapai Rp 100 juta lebih tidak termasuk dana pemeliharaan.

Hingga kini, pihak kejaksaan belum menetapkan orang yang dinilai bertanggungjawab secara pidana sebagai tersangka, walaupun pihak kejaksaan juga sudah berkali-kali melansir kalau sudah ada calon tersangka.

Diketahui, proyek senilai Rp82,6 miliar lebih dan dikerjakan oleh tiga perusahaaan yakni PT Multi Fabrindo Gemilang, PT Temacom Manunggal, PT Trimulti Sarana Makmur.

Kesimpulan pada tahap penyelidikan ditemukan adanya penururnan kualitas kualitas dan kuantitas bahan kabel yang membuat kabel tidak bisa digunakan hingga kini, ditemukan perbedaan kandungan lokal, selain itu ditemukan pula perbedaan harga barang.

Terpisah, Sejumlah aktivis penggiat anti korupsi di Makassar mempertanyakan keseriusan pihak kejaksaan dalam menyelesaikan perkara tersebut. “kejaksaan harus transparan dalam mengusut kasus ini. alasannya, karena jumlah kerugian negaranya berskala besar. Jadi diharapkan dalam waktu dekat kejaksaan sudah bisa menetapkan siapa tersangkanya,” kata Koordinator Anti Corruption Commite (ACC) Sulsel Abdul Mutalib. (rud)

Baca Juga  :

  • KPK Bentuk Tim Supervisi Kasus Bansos 30 menit lalu
  • Sultan Dilantik 10 Oktober di Gedung Agung 37 menit lalu
  • Kejari Tanjungpinang Terima SPDP Komisaris PT Gandasari 37 menit lalu
  • Pemkot Dukung KPK Tuntaskan Kasus Bank Tanah 1 jam lalu
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.