Kekalahan di Depan Mata, Armenia Coba Seret-seret NATO dalam Perang

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Langkah Presiden Armenia, Armen Sarkissian, meminta bantuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menjadi sorotan. Selain bisa memancing kemarahan Rusia yang merupakan sekutu terbesarnya, tindakan Sarkissian ini dianggap sebagi sinyal jika Armenia sudah berada di ambang kekalahan perang dengan Azerbaijan.

VIVA Militer melaporkan dalam berita sebelumnya, Sarkissian mencoba meminta dukungan NATO tanpa memperhitungkan status Rusia. Padahal, Armenia bukan salah satu anggota NATO dan merupakan bagian dari Pakta Pertahanan Keamanan Bersama (CSTO) yang dibentuk Rusia.

Sebagai akibat dari kerugian besar yang ditelan akibat perang melawan Azerbaijan, Armenia ditengarai sudah putus asa. Keengganan Rusia memberikan dukungan militer dalam perang, membuat Armenia mengambil langkah menuju NATO.

Sarkissian terbang ke Brussels, Belgia, untuk bertatap muka dengan Sekrtaris Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg. Politisi 67 tahun itu mencoba meyakinkan NATO untuk ikut menyelesaikan konflik di Nagorno-Karabakh (Artsakh).

VIVA Militer: Presiden Armenia, Armen Sarkissian (kiri), dan Jens Stoltenberg
VIVA Militer: Presiden Armenia, Armen Sarkissian (kiri), dan Jens Stoltenberg

Sayang, permintaan Sarkissian ditolak mentah. Dengan tegas Stoltenberg menyatakan jika NATO tidak akan ikut-ikutan dalam konflik bersenjata Armenia dan Azerbaijan. Walaupun, Stoltenberg mengakui baik Armenia dan Azerbaijan memiliki hubungan baik dengan NATO selama lebih dari dua dekade.

"Saya mengingatkan Presiden (Armenia) bahwa NATO bukan bagian dari konflik ini. Baik Armenia dan Azerbaijan telah menjadi mitra NATO yang dihargai selama lebih dari 25 tahun," ujar Stoltenberg dikutip VIVA Militer dari Anadolu Agency.

Namun demikian, Stoltenberg meminta kepada Sarkissian dan jajarannya, termasuk Azerbaijan, untuk bisa menahan diri dan menghargai kesepakatan gencatan senjata. Stoltenberg mengecam keras serangan kedua negara yang menargetkan warga sipil.

"NATO sangat prihatin dengan pelanggaran gencatan senjata yang sedang berlangsung, yang telah menyebabkan hilangnya nyawa secara tragis. Sangat penting bahwa semua pihak saat ini menunjukkan pengekangan, mengamati gencatan senjata, dan menurunkan ketegangan. Setiap penargetan warga sipil tidak bisa diterima dan harus dihentikan, kata Stoltenberg.