Kekalahan legislator Steve King jadi momen pemersatu Republik dan Demokrat

DES MOINES, Iowa (AP) - Semakin lama Steve King bertugas di Kongres dalam membangun repertoar retorika dan sentimen nativis rasisnya, semakin tanpa dia sadari menjadi kekuatan pemersatu dalam politik Amerika.

Partai Republik dan Demokrat sama-sama senang menyaksikan dia keluar Selasa karena kalah dalam pemilihan pendahuluan setelah sembilan periode berada di Kongres mewakili Iowa dan setelah dilucuti dari tugas-tugas komisinya.

"Steve King tidak mewakili Partai Republik, dan sudah waktunya dia meninggalkan Kongres," kata Matt Brooks dari Koalisi Yahudi Republik, salah satu dari sejumlah kelompok yang mendukung saingan King yang menang, Randy Feenstra, setelah bertahun-tahun dibuat frustrasi oleh King.

King, yang selama bertahun-tahun mengibarkan bendera Konfederasi di atas mejanya, kehilangan kursinya di tengah-tengah momen pengingat bagi Amerika Serikat ketika negeri ini menghadapi sejarah panjang perlakukan buruk terhadap warga Afrika-Amerika dan reaksi keras terhadap kebijakan nasionalistis Presiden Donald Trump. Kekalahan anggota kongres ini terjadi lima bulan sebelum rakyat Amerika Serikat memutuskan apakah akan memilih kembali Trump yang pada 2014 pernah menyebut King "orang pintar dengan pandangan yang benar-benar kanan pada hampir semua hal."

King, mantan senator negara bagian yang dikenal karena memperjuangkan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi Iowa, pertama kali terpilih sebagai anggota Kongres pada 2002. Ia telah lama menjadi pembela fanatik pandangan-pandangan garis keras semacam itu saat mengakhiri kewarganegaraan otomatis untuk anak-anak imigran yang lahir di Amerika Serikat atau untuk anak-anak yang dibawa orang tua mereka secara ilegal ke negara itu.

Pada 2006, dia menyarankan agar pagar perbatasan AS-Meksiko dialiri listrik di atas tembok yang diusulkannya, dengan menegaskan "kita melakukan hal itu terhadap ternak-ternak setiap waktu." Pada 2013, menentang keputusan Presiden Barack Obama dalam membolehkan anak-anak yang memasuki AS secara ilegal bersama orang tuanya, agar bisa menetap, King berkata, "Bagi setiap valedictorian (orang yang mengucapkan pidato perpisahan), ada 100 lainnya di luar sana yang berbobot 130 pound dan mereka punya betis seukuran blewah karena mereka mengangkut 75 pon ganja setelah melintasi padang pasir."

Pada 2008, King mengatakan dalam sebuah program radio bahwa jika Obama terpilih, maka "Islam radikal, Al-Qaeda, kaum islamis dan pendukung mereka akan menari di jalan-jalan dalam jumlah lebih besar ketimbang yang mereka lakukan pada 11 September."

King tidak secara eksplisit menyebut Obama bersahabat kepada para ekstremis islamis, tetapi sindiran itu tak terhindarkan. "Saya tak ingin meremehkan siapa pun karena ras mereka, etnis mereka, nama mereka, apa pun agama ayah mereka," jelas King, namun bertanya kepada orang-orang "pikirkan optik Barack Obama yang berpotensi terpilih sebagai presiden."

Beberapa pemimpin GOP mengatakan ada tempatnya untuk pandangan ekstrem, sepanjang itu semua memiliki tujuan demi kebaikan bersama.

"Adalah satu hal memiliki pandangan keras soal imigrasi. Adalah hal lain menggunakan mimbar pengganggu Kongres untuk pernyataan-pernyataan yang provokatif, yang mematahkan punggung unta (di luar batas)," kata mantan Legislator New York Tom Reynolds yang adalah mantan ketua lengan kampanye Kongres GOP (Partai Republik).

Namun terpilihnya lagi King -dari tahun ke tahun- hampir dipastikan terjadi di distrik itu, yang berakar pada Gereja Reformasi Kristen yang konservatif secara sosial di mana jumlah pemilih yang terdaftar di Partai Republik lebih banyak daripada Demokrat sampai 60.000.

Ketika Trump muncul, King menjadi kian berani, meningkatkan argumen yang telah lama dianutnya bahwa masyarakat Kristen Barat telah menjadi penyumbang terbesar peradaban manusia, dengan hati-hati mengemukakan argumen dalam hal budaya, bukan ras.

"Saya akan meminta Anda menelusuri sejarah dan mencari tahu di mana kontribusi-kontribusi ini yang telah dibuat oleh kategori-kategori orang lain yang sedang Anda bicarakan," kata dia pada 2016. "Di manakah sumbangan sub-kelompok lain untuk peradaban?"

Adalah sebuah artikel dalam New York Times pada Januari 2019 yang menandai awal dari akhir. King dilucuti dari tugas-tugas komisinya setelah dikutip dalam artikel itu bertanya soal "Nasionalis kulit putih, supremasi kulit putih, peradaban Barat - bagaimana bahasa itu jadi ofensif?"

King mengatakan komentar itu disampaikan di luar konteks dan berlanjut mengatakan, meskipun litani dari retorika yang sama selama bertahun-tahun, dia tak pernah dituduh oleh orang-orang yang mendiskriminasikan mereka dengan ngotot menggambarkan dirinya korban.

"Ini serangan bias terhadap saya," kata King dalam wawancara dengan Associated Press bulan lalu. "Dari semua orang yang telah dipersiapkan oleh media sosial beberapa tahun terakhir, orang-orang seperti Brett Kavanaugh, paling tidak mereka menghadapi penuduh."

Tetapi hukuman yang jarang terjadi karena menelanjangi King dari tugas-tugas komisinya --peradilan, di tengah jalan menuju pemakzulan Trump, dan, lebih praktisnya di distrik King yang penuh perkebunan, pertanian - terjadi ketika publik Partai Republik menjauhkan diri dari kelompok ultra kanan (alt-right) yang muncul kembali saat berupaya menggusur patung-patung Konfederasi dari tempat umum.

Meski demikian, Feenstra tidak mengalahkan King dengan menyebut dia rasis, seorang penasihat taktik mengatakan akan menjadi bumerang jika membuat para pendukung King dalam posisi terpojok. Sebagai gantinya, dia menepis kurangnya suara King, misalnya, dalam hal kebijakan pertanian di sebuah distrik dengan hasil pertanian, pangan dan mesin yang menghasilkan keuntungan lebih kecil ketimbang Distrik 3 Nebraska yang besar.

"Ini kemajuan, bukan perumpamaan," kata ahli strategi dari Iowa, Jon Stineman. "Tetapi karena dia dilucuti dari komisi-komisinya maka di sini hal itu memberikan pembukanya, jendelanya."

Dan ketika kelompok kemapanan GOP secara nasional dan para pendukung di Iowa mengabaikan komentar King, hanya untuk diguncang oleh kehilangan kekuasaannya pada bidang-bidang kebijakan penting, sejumlah pendukung lama King seperti Senator negara bagian Annette Sweeney sudah bosan terhadap pernyataan-pernyataan King.

"Beberapa dari komentar-komentar itu mungkin menjelaskan dia berusaha melucu dan bermanis-manis, tapi kenyataannya tidak. Bahkan, sejumlah komentar sudah menjijikkan," kata Sweeney, yang mendukung Feenstra. "Saya tahu kita warga Iowa memiliki spektrum pemikiran yang lebih baik dan lebih luas daripada yang dibahas oleh Anggota Kongres King."