Kekayaan Generasi Boomers Amerika Mulai Menguap

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Saat pandemi Covid-19 pertama kali diumumkan pada bulan Maret, Kelly Kearney, pemiliki katering Pacific Fine Food di Alamadea, California, mengira bahwa dalam waktu beberapa bulan, situasi akan kembali seperti normal kembali.

Kearney sendiri membeli perusahaan tersebut pada tahun 2004 dan membangun bisnisnya dengan beberapa karyawan loyal dan sejumlah pelanggan setia. Di umur 58 tahun, Kearney tidak mempunyai rencana untuk pensun dalam waktu dekat.

Tetapi dirinya dan suaminya yang sekarang sudah berumur 66 tahun, mulai perlahan-lahan menikmati kerja keras yang sudah mereka rintis bertahun-tahun lamanya. Pasangan ini baru saja membeli sebuah apartemen di Italia dan setiap 2 minggu, mereka akan menginap di tempat tinggalnya tersebut.

Seperti banyak orang lain, krisis pandemi Covid-19 ini membuat banyak perubahan. Dengan tidak adanya acara yang biasa memesan katering, keuntungan bisnis Kearney sendiri turun sebanyak 85 persen.

Dia pun terpaksa harus memberhentikan 17 orang karyawan karena kerugian tersebut. Larangan untuk terbang juga membuat Kearney dan suaminya tidak bisa mengunjungi tempat jalan-jalan favorit mereka berdua, seperti melansir laman CNBC, Selasa (10/11/2020).

"Sekarang ini saya bekerja 350 hari dalam setahun," ujar Kearney.

Setelah itu, ayahnya pun meninggal dunia di bulan Mei. Dari kejadian tersebut pun membuat Kearney akhirnya memutuskan untuk mempertimbangkan pensiun. Saat ini, dirinya sedang sibuk untuk menjual bisnis tersebut kepada karyawan dengan harga diskon.

Pandemi Covid-19 telah membunuh begitu banyak bisnis skala kecil, termasuk sejumlah usaha yang dimiliki oleh generasi "baby boomer".

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Center for New Middle Class, terdapat 25 persen penurunan atas kewiraswastaan yang dimiliki baby boomer pada kuartal dua. Sebagai tambahan, lompatan besar terhadap pengangguran rumah tangga, atau mereka yang mempunyai rating kredit dibawah 700, di mana kebannyak berumur 55 sampai 64 tahun.

Berdasarkan data Projetc Equity, angka tersebut pun bisa menjadi pengaruh besar untuk kondisi ekonomi secara menyeluruh, mengingat bahwa kebanyakan baby boomers (kelahiran 1946- 1964), memiliki setidaknya setengah dari kepemilikan bisnis privat yang mempunyai sejumlah karyawan.

Berarti setidaknya 2,34 juta usaha dengan 24,7 jumlah karyawan dan total USD 5 triliun terancam selama pandemi berlangsung, berdasarkan data Census Bureu AS.

"Bukan bermaksud untuk meremehkan poin tersebut, tapi suara hisapan yang sekarang anda dengar, merupakan para baby boomer yang terdoronh keluar dari roda ekonomi selama pandemi Covid-19 berlangsung," ujar Direktur Eksekutif Center for the New Middle Class, Jonathan Walker.

Pertumbuhan bisnis skala kecil itu penting untuk perputaran roda mesin dari ekonomi, dan dengan imbas yang sekarang ini dirasakan daripada usaha boomer ini bisa melemahkan perkembangan dan pemulihan.

Meskipun bisnis skala kecil penting untuk kesehatan dan pertumbuhan ekonomi, riset menunjukan bahwa terjadi penurunan angka entrepreneurship selama satu dekade.

Berdasarkan data US Small Business Admnistration, kurang dari 2% millenial merupakan seorang wiraswasta, dibandingkan dengan 7,6 persen Gen X dan 8,3 persen baby boomers.

"Yang kita hilangkan tidak hanya dari mesin ekonomi, kita perlu berbagai bisnis skala kecil keluar dari masa resesi, tapi kekayaan itu berpindah," kata Walker.

Kekayaan Boomer Menguap

Ilustrasi Grafik Perkembangan, Penjualan, dan atau Pencapaian Perusahaan dan Bisnis. Kredit: Freepik
Ilustrasi Grafik Perkembangan, Penjualan, dan atau Pencapaian Perusahaan dan Bisnis. Kredit: Freepik

Sudah banyak yang berekspektasi bahwa sebanyak USD 68 triliun perpindah kekayaan akan terjadi, saat boomer akan meninggalkan warisan mereka kepada generasi selanjutnya.

Sekarang pun, kelihatannya beberapa jumlah kekayaan tersebut akan menguap akibat krisis dari pandemi.

"Banyak orang mendengar angka-angka besar dan berfikir untuk pasar saham perumahaan , tapi kebanyak porsi tersebut datang dari bisnis keluarga skala kecil sampai menengah," ujar Andrew Sherman yang merupakan rekan dari Seywarth Shaw di Wahington D.C.

Dengan sejumlah bisnis menderita dan tingkat pengangguran meningkat, jumlah simpanan tabungan juga pasti akan turun secara bersamaan.

Angka boomer yang mempunyai rekening simpanan masa pensiunan terus turun selama krisis pandemi. Berdasarkan data Center for the New Middle Class, hanya sebanyak 20 persen dari nonprime boomers yang mengatakan mempunyai rekening tabungan pensiun, di mana angka tersebut turun 36 persen dari tahun lalu.

Bahkan generasi baby boomer yang jauh lebih kaya angka simpanan pun turun. Sebanyak 38 persen boomer yang dengan tingkat kredit prime mengatakan bahwa mereka mempunyai tabungan pensiunan, turun sebesar 45 persen dari tahun lalu.

Saat krisis terus berkelanjutan, sejumlah bisnis terpaksa harus membuat keputusan yang sulit. Tergantung dengan industrinya, pengusaha boomer yang mungkin mempertimbangkan untuk menjual usahanya saat sebelum pandemi, mungkin sudah kehilangan kesempatannya dan mungkin perlu mengganti bisnis model mereka.

"Semuanya terjadi tanpa dikira-kira, dan semuanya direfleksikan dalam data bahwa beberapa mengatakan akan menjual usahanya pada tahun lalu," ujar Bob House, yang merupakan Presiden dari BizBuySell.com, yang merupakan sebuah pasar bisnis online.

Pat Roque yang merupakan seorang pelatih karir di New Jersey, mengatakan bahwa dirinya banyak melihat temannya yang memutuskan untuk menutup operasi bisnis untuk mengurangi kerugian finansial.

Bahkan beberapa diantaranya memutuskan untuk mencari kerja demi mengamankan situasi finansialnya terlebih dahulu.

"Saya melihat bahwa tema serupa yang terlihat saat ini adalah banyak orang berfikir bahwa harus menghemat dan mempunyai rencana cadangan untuk mengantisipasi kalur ekonomi yang akan bergelombang setidaknya untuk tahun ini," jelas Roque.

Vicki Riordan, 74 tahun yang merupakan seorang pemiliki dari Studio of Rhythm, sebuah studio menari di Pennsylvania, mengklaim bahwa dirinya melihat banyak perubahan drastis semenjak masa pandemi Covid-19. Tempat latihannya tersebut berawal dari 500 pelajar sampai akhirnya menjadi sangat sepi selama krisis pandemi Covid-19 berlangsung.

"Kami hanya memilki biasanya 16 orang paling banyak untuk seharinya, karena alasan protokol social distancing, dan normalnya saya bisa menghadirkan 50 pelajar secar bersamaan di studio ini", kata Riordan.

Banyak Pemilik Usaha Merencanakan Jalan Keluar

Beberapa pihak percaya, bahwa krisi pandemi merupakan peringatan bagi berbagai pemilik bisnis untuk merencanakan sebuah jalan keluar, khususnya untuk generasi boomers.

"Sama seperti terakhir kali resesi terjadi, kondisi krisis mengingatkan banyak orang bahwa mereka memerlukan banyak rencana dan akan ada selalu kejadian tak terduka setidaknya tiap dekade," kata Bob House.

Sherman mengatakan bahwa dirinya berekspektasi untuk melihat "uptick signifikan" untuk penjualan bisnis keluarga skala kecil maupun sedang untuk setidaknya dalam 18 sampai 24 bulan kedepan. Berdasarkan laporan terbaru dari BizBuySell, transaksi dari bisnis turun sebesar 5% dari tahun lalu di bulan September jika dibandingkan dengan tahun lalu. Angka tersebut pun ternyata jauh lebih baik jika dibandingkan pada bulan April, dimana saat itu angka penjualan anjlok sebesar 51%.

Kebanyakan dari ketertarikan pembelian biasanya datang dari kepercayaan diri dari pihak kostumer. Studi dari BizBuySell Small Business Confidence menemukan bahwa dari 57% pembeli bisnis percaya bahwa mereka bisa membelisebuah usaha dengan nilai yang jauh lebih baik dari tahun lalu, jika dibandingkan dengan 17% tahun lalu.

"Saat ini merupakan waktu yang buruk untuk memiliki sebuah bisnis tapi waktu yang baik untuk membeli sebuah usaha, kondisi pasar sekarang lambang dan juga murah," kata Kearney dari Pacifc Fine Food, dimana saat ini dirinya sedang menyiapkan menjual usahanya tersebut kepada karyawannya. Dirinya saat ini juga sibuk melatih staffnya untuk hal marketing dan memaksimalkan penghasilan. Kearney merasa untuk melakukan hal tersebut saat usaha sedang sibuk-sibuknya akan susah untuk dilakukan.

Mike Goldman (60 tahun), dirinya memiliki bisnis manufaktur di High Point, North Carolina. Mike mengaku dengan kondisi krisis saat ini, bisa membuat dirinya untuk bisam mengorganisir dan memperkenalkan efisiensi terbaru untuk bisnisnya tersebut. Bisnis furnitur sendiri sempat sangat anjlok di awal tahun saat semua kegiatan di seluruh dunia shutdown.

Tapi setelah itu bisnis dari Furnitur sendiri sudah dinilai jauh lebih baik. Goldman menyatakan bahwa saat ini tantangan terbesarnya adalah mencari pekerja dan mempertahankan staffnya.

"Kondisi semuanya ini tidak membuat saya membuat saya memikirkan rencana jalan keluar," ujarnya. "Saya pernah di posisi ini sebelumnya," tambah Goldman. Dirinya sendiri memang pernah di masa krisis finansial, dan Goldman sempat menutup bisnisnya, tapi untungnya bisa mempertahankan bisnisnya tersebut.

"Saya mempunyai banyak investasi emosional di usaha saya ini, tidak hanya investasi finansial, jadi merupakan tujuan utama saya untuk bisa memperthankanya," ujar Goldman.

Reporter: Yoga Senjaya Putra

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: