Kekerasan dalam Pacaran Mengubah Hidupku, Kusadari Perempuan Layak Dicintai dengan Lembut

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Marta Marselina

Sejak kecil aku sering dibawa oleh orangtua untuk menghadiri acara pernikahan. Bagiku itu adalah awal mula impianku untuk memiliki pesta pernikahan yang indah dan penuh dengan kegembiraan. Namun seiring berjalannya waktu jalan menuju impian itu tak semudah cerita di dongeng-dongeng sebelum tidur.

Semua bermula dari pertemuanku dengan seorang pria yang awalnya hanya teman biasa namun sekuat apa pun hati mengelak aku dan dia jatuh pada sesuatu yang dibilang orang cinta. Berbeda dengan perjalanan cintaku sebelumnya, pria ini dari awal menyatakan perasaannya langsung berkata ingin menjadikan aku istrinya. Sebagai wanita yang dimabuk asmara aku tanpa ragu menyetujuinya.

Saat itu usiaku dan dia 23 tahun. Saat itu aku baru lulus kuliah, yang pada rencana semula aku ingin merantau mencari kerja atau melanjutkan studi, semua berubah haluan, "Ingin menjadi istri soleha." Itu tidak salah namun kenyatannya semesta tidak mendukung.

Orangtuaku menentang, keluarga tidak ada satu pun yang mendukung. Bahkan para sahabat juga tidak ada yang setuju dengan keputusanku. Semua tidak menyukai pria itu. Aku sedih sekaligus marah dan kesal. Hingga aku memutuskan untuk backstreet. Hingga ada momen saat aku wisuda ayahku mengejar pria itu dengan kunci inggris ditengah keramaian, aku malu. Tapi aku tetap tak peduli.

Diam-diam aku merantau bersamanya. Selama di perantauan ternyata sikap buruk pria ini mulai terkuak. Aku tidak boleh dandan, tidak boleh berteman dengan laki-laki. Bahkan aku harus meminta persetujuannya untuk melamar kerja.

Ketika aku sudah bekerja ia juga sering minta uang dengan mengiba tapi ketika ada perbuatanku yang tidak berkenan dihatinya aku akan menjadi sasaran kemarahannya baik secara verbal bahkan fisik. Ia juga sering minta putus namun aku tetap bertahan dengan alasan aku percaya ia akan berubah. Meski seluruh orang di sekitarku berkata jangan teruskan, aku tetap tegar.

Hingga ayahku meninggal dan tetap tidak ada restu yang terucap, aku masih bertahan. Hingga akhirnya pada suatu hari di bulan Ramadan ia yang sangat hemat memaksaku berbuka di masjid, di saat waktu sudah masuk berbuka, aku menolak dan ia marah. Aku mengikuti sampai masjid bahkan berbuka dengan air wudu. Namun saat aku selesai salat dan keluar dari masjid ia hilang. Nomorku diblokir. Saat itu bagaikan sebuah titik balik. Aku merasa jatuh dan bercerita pada ibuku. Saat bertemu ibu aku menangis dan memohon.

Setelah kejadian itu aku dan ia makin renggang. Aku fokus memperbaiki diri hingga akhirnya aku bisa berkata, "Kita putus."

Menemukan Cinta yang Lebih Indah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89

Tuhan juga sangat baik padaku. Tak berselang waktu yang lama aku dikenalkan dengan abang teman kerjaku. Kami jalan beberapa kali lalu dia meminta bertemu ibuku. Ajaibnya ibuku langsung menyetujui bahkan sebelum bertemu dengan orangnya.

Seluruh keluarga besar pun begitu. Semua restu begitu mudah kami dapatkan. Persiapan pernikahan juga terbilang singkat dan cukup menyita pikiran dan tenaga karena hanya dilakukan oleh kami berdua. Mencari gedung, katering, vendor dan lainnya kami lakukan sendiri. Dan syukurnya saat lamaran kami disponsori oleh tanteku. Bisa dibilang itu sangat meringankan secara tenaga dan finansial karena kami yang membiayai pernikahan kami tanpa bantuan siapapun.

Di saat Hari H rasanya semua impianku jadi nyata. Hanya saja tidak ada ayahku di momen berharga ini. Saat hari itu ternyata masih ada masalah seperti aku yang lupa memberikan list photo, sound yang bermasalah, aku yang harus makan sambil disuapi bridesmaid karena dikejar waktu. Bahkan yang paling sedih gelang emas ibuku hilang pada saat acara. Sampai sekarang aku merasa tidak enak pada ibu tapi ibuku selalu menenangkan aku.

Setelah acara berakhir esoknya aku dan suami langsung honeymoon ke Bali. Di sana kami traveling ala backpacker dan touring keliling Bali dengan motor. Tidak mewah tapi semua kegilaan saat mempersiapkan pernikahan terasa terbayarkan.

Saat ini kami sudah memiliki balita yang sedang aktif-aktifnya. Dan sepenggal ceritaku ini nantinya akan kusampaikan pada anakku bahkan jika umur panjang juga pada cucuku. Bahwa restu adalah kunci utama dari indahnya sebuah pernikahan.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel