Kekerasan Sektarian di Myanmar Berlanjut

Liputan6.com, Rangoon: Sejumlah laporan dari Myanmar Barat menyebutkan kekerasan sporadis antara kelompok Muslim dan Buddha di dan seputar Sittle, ibu kota negara bagian Rakhine terus berlanjut. Seorang petugas bantuan, Birke Herzbruch dari badan sosial Malteser Internasional mengatakan kepada BBC bahwa keadaan di Sittwe sangat tegang dan rawan. Toko-toko dan pasar di kota itu ditutup, kata Herzbruch.

Pejabat pemerintah Myanmar, Win Myaing mengatakan sekitar 600 warga Muslim melarikan diri dari Sittwe karena kekerasan masih terus berlanjut. Herzbruch juga mengatakan suasana tegang membuat para petugas bantuan sulit untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi di luar kota-kota utama di Rakhine. "Para staf khawatir untuk meninggalkan kota untuk mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi," kata Herzbruch.

"Daerah ke arah perbatasan Bangladesh, kami dengar relatif aman namun di dan seputar Sittwe, kebakaran terjadi di banyak desa sehingga banyak korban," tambahnya.

Lebih dari 60 puluh orang tewas akibat bentrokan sektarian yang telah berlangsung selama satu bulan terakhir. Juru bicara pemerintah negara bagian Rakhine, Win Myaing mengatakan selain 62 korban tewas, puluhan lainnya luka-luka dalam kerusuhan antara tanggal 8 dan 19 Juni.

Kekerasan yang terjadi termasuk kerusuhan, pembakaran dan saling menyerang antara dua komunitas. Puluhan ribu orang mengungsi akibat kekerasan ini dan sebagian besar berupaya masuk ke Bangladesh. Namun Bangladesh memulangkan lebih dari 2.000 warga Muslim yang berupaya masuk ke negara itu.(ADO)