Kekhawatiran kebangkitan polio di AS membuat pejabat kesehatan waspada – ahli virologi jelaskan sejarah penyakit yang ditakuti ini

Ketakutan akan polio mencengkeram Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20. Orang tua takut mengirim anak-anak mereka ke pesta ulang tahun, kolam renang umum atau tempat yang anak-anak berbaur. Anak-anak di kursi roda menjadi pengingat akan kerusakan akibat penyakit ini.

Untuk mencegah wabah polio, pejabat pemerintah menggunakan taktik yang sekarang akrab pada era COVID-19: Mereka menutup ruang publik serta restoran, kolam renang, dan tempat berkumpul lainnya.

Pada 1952, dua tahun sebelum pengenalan vaksin polio percobaan, diperkirakan ada 58.000 kasus polio dan 3.145 kematian akibat polio di AS. Kasus-kasus ini termasuk anak-anak yang lumpuh seumur hidup. Tapi angka-angka itu turun secara dramatis setelah kampanye vaksinasi yang meluas terhadap polio, dimulai pada tahun 1955.

Pada 1970-an, ada kurang dari 10 kasus kelumpuhan karena polio di AS, dan virus polio dianggap hilang dari negara tersebut pada 1979. Sejak itu, ketakutan kolektif terhadap virus ini sebagian besar telah hilang dari sejarah. Banyak orang yang hidup di masa kini cukup beruntung karena tidak mengenal seseorang yang pernah mengalami polio.

Jadi, ketika tersiar kabar pada Juli 2022 bahwa laki-laki dewasa yang tidak divaksinasi di New York telah terjangkit polio – kasus pertama di AS sejak 2013 – dan menjadi lumpuh akibat penyakit ini, hal itu mengirimkan riak ketakutan ke seluruh komunitas kesehatan masyarakat dan menimbulkan pertanyaan apakah musuh lama akan bangkit kembali.

Saya seorang ahli virologi dan profesor imunologi dan mikrobiologi dan telah menghabiskan karier saya mengajar dan meneliti tentang bagaimana virus dapat menyebabkan penyakit.

Tidak ada obat untuk polio. Satu-satunya pengobatan adalah pencegahan. Dan alat untuk pencegahannya adalah vaksinasi, alat yang sama yang menghilangkan polio di AS pada wabah awal.