Kekhawatiran Perempuan Berkulit Hitam yang Melahirkan Putri Berkulit Putih

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Suami Quiana Glide berkulit putih, sedangkan dirinya sendiri berkulit hitam. Ketika mereka mengetahui bahwa mereka akan memiliki anak perempuan, mereka dengan cepat menetapkan tujuan bagaimana mereka akan membesarkannya, ia harus menjadi anak yang kuat dan bahagia.

Quiana berharap putrinya akan menyukai buku dan membaca, dan menjadi seseorang yang percaya diri, terutama dengan rambut aslinya. Dengan tujuan inilah, Quiana membajiri dirinya dengan buku Barnes dan Noble saat sedang hamil, buku-buku yang akan berguna baginya sendiri karena ia masih sering memaksakan standar kecantikan putih pada dirinya sendiri.

Yang jelas, ia tidak ingin anaknya mengalami masalah yang sama dengan dirinya. Dalam minggu-minggu menjelang kelahiran bayi, ia mengikuti beberapa keluarga ras campuran di media sosial, mencoba mempelajari cara mereka membesarkan keluarga.

Terkadang, Quiana melihat foto-foto bayi campuran dan mencoba membayangkan seperti apa rupa putrinya kelak. Untuk semua lamunannya tentang putrinya, ada satu hal yang konstan, yaitu Quiana tahu ia akan berkulit cokelat sepertinya, karena menurut Quiana, melanin adalah gen yang lebih kuat.

Setelah putrinya yang diberi nama Luna lahir, Quiana berkata pada dirinya sendiri bahwa anak tersebut akan semakin gelap seiring waktu. Kebanyakan orang kulit hitam yang Quiana kenal mengalami perubahan warna kulit saat masih bayi.

Namun, seiring berlalu waktu, hal itu tidak terjadi. Luna yang berkulit cokelat dan berambut keriting dalam lamunan Quiana tidak ada.

Quiana mendapati putrinya berkulit putih

Ilustrasi ibu dan anak. Sumber foto: unsplash,com/Courtney Kenady.
Ilustrasi ibu dan anak. Sumber foto: unsplash,com/Courtney Kenady.

Luna di kehidupan nyata berkulit pucat dengan mata abu-abu atau cokelat tua dan rambut pirang ikal. Ibu Quiana mengatakan bahwa ia menginginkan bayi berkulit hitam, ia harus menikah dengan pria kulit hitam, namun ia menikahi pria yang ia cintai dan mencintainya dalam ukuran yang sama.

Ini tidak meredakan kekacauan batin Quiana, ia tidak melihat dirinya sendiri pada diri Quiana, ia merasa dikucilkan di rumahnya sendiri, perasaan yang membuatnya berjuang sepanjang hidup. Saat tumbuh dewasa, ia berjuang untuk merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

Dalam keluarga perempuan kulit hitam yang keras kepala dan tegas, Quiana bukanlah salah satu dari mereka. Ia selalu pendiam dan sensitif.

Di perguruan tinggi, seorang profesor menyuruh Quiana merangkul budayanya sendiri, ia harus sadar bahwa ia akan selalu hitam. Akhirnya, Quiana membuka dirinya untuk mencintai rasnya, mencintai identitasnya, mencintai sebagian besar dirinya.

Quiana dan keluarganya tinggal di sebuah kota di negara bagian. Hubungan antar ras adalah hal biasa, namun perempuan kulit hitam dengan pria kulit putih masih sering dianggap aneh.

Quiana bersama suaminya belajar untuk menertawakan komentar sinis yang mereka dapatkan. Suatu hari ibu Quiana mengajaknya dan Luna berbelanja bahan makanan.

Quiana yang sempat meragukan dirinya sendiri akhirnya bisa melihat dirinya dalam diri putrinya

ilustrasi ibu dan anak/copyright by antoniodiaz from Shutterstock
ilustrasi ibu dan anak/copyright by antoniodiaz from Shutterstock

Saat Quiana memasukkan Luna ke dalam kereta, seorang pria tua berkulit putih terus menerus menatap mereka, sampai ibunya ingin membentak pria tersebut, namun ditahan oleh Quiana. Inilah fakta yang harus dihadapi Quiana dan membuatnya sakit hati.

Luna, bagaimanapun tidak terpengaruh oleh hal-hal ini, dia memandang dunia dengan optimisme. Sedangkan Quiana dan suaminya melihat Luna sebagai bayi terpintar, terlucu, dan tercantik di seluruh dunia.

Mereka tahu bahwa di masa depan mereka harus membicarakan identitas dan warna kulitnya, mereka akan menangani masalah itu secara langsung, mengatakan padanya bahwa ia berkulit hitam dan putih, serta tidak ada yang memalukan dari hal itu. Suatu malam, Quiana membuka beberapa kotak tua yang berisi barang-barangnya, untuk mencari foto dirinya ketika bayi.

Quiana hampir menangis, saat itu juga ia menyadari bahwa Luna benar-benar anaknya, tidak salah lagi, sampai ke pipi tembem dan celah di giginya, mereka sangat mirip. Dengan bersemangat, Quiana memberikan foto dirinya saat bayi kepada sang suami dan berkata, "Itu Luna!"

Suaminya tertawa kecil dan menyetujuinya. Quiana menggendong Luna, memeluknya erat, dan melihatnya, untuk pertama kalinya, Quiana melihat dirinya sendiri dalam diri putrinya, wajah Luna adalah wajahnya sendiri.

#Elevate Women