Kekhawatiran terhadap Evergrande saat Masuk Masa Tenggang 30 Hari

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Singapura - China Evergrande Group semakin dekat dengan potensi default atau gagal bayar. Para investor mengkhawatirkan situasi ini. Lantaran sampai batas waktu pembayaran bunga obligasi berakhit tanpa pemberitahuan apapun dari pengembang properti itu.

Utang yang menumpuk menakuti pasar global. Jumlah utang China Evergrande USD 305 miliar atau sekitar Rp4347.4 triliun (estimasi kurs rupiah terhadap dolar AS 14.253,85).

Faktor kekurangan uang tunai dan kecemasan investor akan keruntuhan perusahaan menimbulkan risiko sistemik. Imbasnya pada keuangan China dan risiko ini bergema di seluruh dunia.

Batas waktu pembayaran obligasi sebesar USD 83,5 juta atau sekitar Rp 1,19 triliun berlalu begitu saja. Tanpa ada komentar atau tanda-tanda akan melakukan pembayaran dari Evergrande kepada pemegang obligasi. Sekarang, perusahaan memasuki masa tenggang 30 hari. Jadi nasibnya belum dipetakan apakah akan default atau bertahan.

"Ini adalah periode keheningan yang menakutkan. Tidak ada yang mau mengambil risiko besar pada tahap ini. Untuk mengetahui apa yang akan terjadi kita harus melihat dalam 10 hari ke depan. Sebelum akhirnya China memasuki hari libur,” kata Head of Asia Fixed Income di Principal Global Investors di Singapura yang dilansir dari laman ChannelNewsAsia, Sabtu (25/9/2021).

Bank sentral China kembali menyuntikkan uang tunai ke dalam sistem perbankan pada Jumat, 24 September 2021. Tindakan ini dinilai sebagai sinyal dukungan untuk pasar saham.

Sangat disayangkan, pihak berwenang hanya berpangku tangan melihat kesulitan Evergrande. Media pemerintah China pun tidak memberikan petunjuk terkait cara penyelamatan apa yang akan dilakukan pemerintah.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Prioritaskan Investor Domestik

Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Evergrande menunjuk penasihat keuangan dan memperingatkan default pekan lalu. Sejak momen itu pasar dunia sempat stabil hingga akhirnya turun tajam pada Senin, 20 September 2021 di tengah kekhawatiran penularan.

Teka-teki bagi pembuat kebijakan yaitu seberapa tangguh mereka dapat menerapkan disiplin keuangan tanpa memicu kerusuhan sosial. Keruntuhan buruk di Evergrande bisa menghancurkan pasar properti yang menyumbang 40 persen dari kekayaan rumah tangga Cina.

Unjuk rasa oleh pemasok, pembeli rumah dan investor minggu lalu gambaran ketidakpuasan mereka dapat meningkat jika default memicu krisis bagi pengembang lainnya.

Evergande berjanji prioritaskan investor domestik dan menyelesaikan satu pembayaran kupon pada obligasi domestik minggu ini. Pengembang properti China tidak menyebutkan tentang pembayaran bunga luar negeri yang jatuh tempo pada Kamis, 23 September 2021. Nilai pembayaran USD 47,5 juta (Rp677.05 miliar) yang akan jatuh tempo minggu depan.

Pemegang obligasi berpikir untuk menunggu satu bulan untuk melihat semuanya menjadi lebih jelas. Pasar pun telah berasumsi Evergrande akan lakukan pemotongan besar-besaran

"Harga pasar saat ini memperkirakan investor dalam obligasi dolar Evergrande kemungkinan akan pulih sangat sedikit. Hasil yang paling mungkin adalah perusahaan akan terlibat dengan kreditur untuk membuat kesepakatan restrukturisasi. Kehilangan kepercayaan dari pelaku pasar memiliki efek menular," ujar Manajer Portofolio dan Janus Henderson Investors Jennifer James.

Harus Menunggu Waktu

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Pasar global berajak pulih setelah gejolak Evergrande memicu aksi jual tajam. Dengan alasan krisis dapat diatasi. Sekitar USD 20 miliar atau sekitar Rp285,07 triliun utang Evergrande yang bersumber dari luar negeri. Namun, risiko di dalam negeri cukup besar karena berdampak ke sektor properti China yang merupakan lumbung kekayaan yang sangat besar.

"Penjualan dan investasi perumahan pasti bisa melambat. Akan jatuh hampir 1 persen dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Semakin lama pembuat kebijakan menunggu sebelum bertindak, semakin tinggi risiko hard-landing,” ujar Analis di Societe Generale dalam paparan catatan.

Sejauh ini hanya ada sedikit tanda-tanda intervensi resmi. Suntikan tunai CNY 270 miliar atau USD 42 miliar dari People’s Bank of China atau Bank Sentral China minggu ini adalah yang terbesar sejak Januari. Bantuan dana membantu meletakkan Evergrnade di lantai meskipun berada paling bawah.

Bloomberg juga melaporkan regulator China meminta Evergrande untuk menghindari default jangka pendek, ungkap seorang narasumber. Di lain sisi, Wall Street Journal menuliskan, pihak berwenang telah meminta pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi kejatuhan Evergrande.

“Mengingat langkah pembuatan kebijakan China yang disengaja, pihak berwenang mungkin memilih untuk bermain-main dengan waktu,” ujar Macro Strategist DBS Bank Wei Liang Chang.

Chang menuturkan, pemerintah China dapat memperpanjang bantuan likuiditas melalui masa tenggang pembayaran kupon Evergrande. Mengingat tidak ada obligasi dolar AS yang akan jatuh tempo Maret 2022.

Saham Evergrande turun enam persen pada Jumat, 24 September 2021. Sementara saham unit kendaraan listrik Evergrande China turun 18 persen ke level terendah sepanjang empat tahun.

Obligasi sedikit turun pada Jumat. Untuk obligasi luar negeri dengan pembayaran mendekati tenggat waktu terakhir diperdagangkan sekitar 30 sen dolar AS.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel