Keluar dari Ajang All England 2021, Segini Hadiah yang Lepas dari Tangan Pemain Indonesia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Para pebulu tangkis Indonesia dipaksa mundur dari ajang All England 2021. Ini setelah mereka mendapat email dari Pemerintah Inggris yang menyatakan satu pesawat dengan orang positif Covid-19. Dari 24 anggota tim Indonesia, yang mendapat email hanya 20 orang.

Dalam rilis resmi PBSI yang diterima Liputan6.com, Kamis (18/3/2021), Manajer Tim Indonesia Ricky Soebagdja mengatakan Hendra Setiawan dan kawan-kawan harus mundur dari turnamen bulu tangkis tertua di dunia itu.

Semua bermula saat penerbangan dari Istanbul ke Birmingham pada Sabtu, 13 Maret lalu, terdapat salah satu penumpang yang terkena covid-19.

Sesuai dengan regulasi Pemerintah Inggris, maka tim Indonesia harus menjalani isolasi. "Sesuai dengan regulasi pemerintah Inggris, jika berada pada satu pesawat yang sama dengan orang positif Covid-19, maka diharuskan menjalani isolasi selama 10 hari," ucap Ricky.

"Sehingga, tim Indonesia terpaksa mundur dan melakukan isolasi sampai 23 Maret 2021 di Crowne Plaza Birmingham City Center, terhitung 10 hari sejak kedatangan tim ke Birmingham pada Sabtu lalu," tambahnya.

Ini artinya Indonesia kehilangan peluang mendapatkan hadiah cukup besar pada turnamen bulu tangkis tertua di dunia itu. Total hadiah yang diberikan pada ajang All England Open 2021 mencapai USD 850.000 setara Rp 12,2 miliar.

Mengutip berbagai sumber, hadiah yang diberikan kepada para pemenang All England terbagi bagi beberapa kategori:

TUNGGAL:

Pemenang: USD 59.500 (Rp 857,5 juta)

Finals: USD 28.900 (Rp 416,5 juta)

Semi-finals: USD 11.900 (Rp 171,5 juta)

Quarter-finals: USD 4.675 (Rp 67,37 juta)

Last 16: USD 2.550 (Rp 36,7 juta)

Last 32: USD 850 (Rp 12,2 juta)

GANDA

Pemenang: USD 62.900 (Rp 906,5 juta)

Finals: USD 29.750 (Rp 428,7 juta)

Semi-finals: USD 11.900 (Rp 171,5 juta)

Quarter-finals: USD 5.312,5 (Rp 76,5 juta)

Last 16: USD 2.762 (Rp 39,8 juta)

Last 32: USD 850 (Rp 12,2 juta)

Kemlu Minta Inggris Klarifikasi Kasus Tim Indonesia Dipaksa Mundur dari All England

Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mengalahkan Kunlavut Vitidsarn dari Thailand pada babek pertama All England 2021 di Utilita Arena Birmingham, Inggris, Rabu, 17 Maret. (foto: BWF-limited acces)
Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mengalahkan Kunlavut Vitidsarn dari Thailand pada babek pertama All England 2021 di Utilita Arena Birmingham, Inggris, Rabu, 17 Maret. (foto: BWF-limited acces)

Pemain badminton Indonesia mundur dari turnamen All England di Inggris akibat kasus COVID-19. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah meminta pemerintah Inggris agar memperlakukan pemain badminton Indonesia secara adil.

"Menlu RI juga telah memberikan arahan yang jelas ... untuk pastikan tidak ada diskriminasi dan unfair treatment terhadap partisipasi atlit bulutangkis Indonesia pada turnamen All England tersebut," jelas pihak KBRI London, Kamis (18/3/2021).

Lebih lanjut, Duta Besar Indonesia untuk Inggris Desra Percaya, juga telah menghubungi Duta Besar Inggris di Jakarta Owen Jenkins, agar memberikan klarifikasi terkait aturan isolasi dan meminta agar tak ada diskriminasi.

"Dubes RI sudah lakukan kontak langsung kepada Dubes Inggris di Jakarta, Owen Jenkins dan meminta agar beliau lakukan intervensi ke otoritas kesehatan Inggris (NHS) untuk pastikan alasan dan narasi kewajiban isolasi mandiri 10 hari, tidak ada diskriminasi dan unfair treatment terhadap atlit Indonesia; dan opsi kemungkinan dilakukan tindakan yang mungkinkan atlit Indonesia lanjutkan kompetisi di All England," jelas pihak KBRI.

KBRI London juga akan berkomunikasi dengan National Health Service (NHS) untuk menanyakan hal serupa terkait nasib atlet badminton Indonesia di London.

Rencananya, sore ini KBRI London dan Ketua Timnas Ricky Subagja akan menggelar konferensi pers.

KBRI menyebut pemerintah Inggris masih memberlakukan lockdown dan pengaturan protokol kesehatan yang ketat mengingat angka penularan Covid-19 yang relatif masih tinggi.

"Turnamen All England pun diselenggarakan dgn pengaturan khusus, ketat dan tertutup tanpa penonton," jelas pihak KBRI London.

Saksikan Video Ini