Keluarga Abraham Samad Sudah Terbiasa Teror

Makassar (ANTARA) - Keluarga besar Ketua KPK Abraham Samad di Makassar mengaku pihaknya sudah terbiasa menghadapi ancaman teror saat, apalagi dengan terpilihnya Abraham Samad menjadi Ketua KPK akan memungkinkan adanya risiko itu.

"Yang pertama-tama saya mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena impian suami saya untuk berbuat demi kepentingan rakyat dan negara bisa terealisasi," ujar istri Abraham Samad, Indriani Kartika, di Makassar, Jumat.

Ia mengatakan, jabatan Ketua KPK merupakan amanah yang harus diemban yang tentunya juga diiringi dengan kemungkinan adanya risiko-risiko seperti teror dan lainnya.

Namun harapan terbesarnya adalah mendukung suaminya untuk tetap berada pada "garis tak berpihak" sehingga penegakan hukum untuk tindak pidana korupsi itu bisa tanpa istilah "tebang pilih" dan "pandang bulu".

"Kami mohon dukungan teman-teman pers agar bisa mengawal beliau (Abraham) guna membawa Indonesia bebas korupsi," tegasnya.

Ia mengungkapkan, sejak suaminya menjadi aktivis legal hukum dan bekerja sebagai advokat itu, tak jarang Abraham Samad dan keluarganya mendapatkan teror oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

"Teror itu sudah terbiasa kami terima, meskipun saya pribadi merasa cemas dengan adanya teror melalui telepon, bahkan melempari rumah dengan batu dan lainnya," ungkapnya.

Sebelumnya Dr. Abraham Samad, SH, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 27 November 1966 (44 tahun) telah menyelesaikan studi pada pendidikan hukum dari Strata Satu (S1) hingga Strata Tiga (S3) di Universitas Hasanuddin Makassar dan meraih gelar doktornya di Unhas.


Pria dengan enam bersudara ini sejak 1966 hingga saat ini masih berkarier sebagai advokat dan membangun Lembaga Swadaya Masyarakat berlatar belakang antikorupsi.

Putra purnawirawan TNI Andi Samad itu juga penggagas sekaligus Koordinator Anti-Corruption Committee (ACC) di Sulsel dan telah membongkar banyak kasus-kasus korupsi dalam mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik serta sistem pelayanan publik yang maksimal dengan sasaran pemberantasan korupsi.


Dalam seleksi ketua KPK, Komisi III DPR akhirnya memilih Abraham Samad sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011-2015.

Keputusan tersebut dilakukan secara voting dari 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi, Jumat (2/12).

Abraham mendapat perolehan 43 suara mengalahkan rivalnya yakni Busyro Muqoddas yang hanya mendapatkan lima suara, Bambang Widjojanto empat suara, disusul Zulkarnain tiga suara dan Adnan Pandu Praja hanya satu suara.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.