Keluarga Anak-anak Korban Tewas Ledakan di Sekolah Afghanistan Langsungkan Pemakaman

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta- Keluarga korban yang tewas dalam ledakan di luar sebuah sekolah di Kabul, Afghanistan telah menguburkan anak-anak mereka.

Dilansir BBC, Senin (10/5/2021) lebih dari 60 orang, kebanyakan perempuan, tewas dalam serangan yang menimpa para pelajar sekolah saat mereka meninggalkan kelas.

Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Dasht-e-Barchi, daerah yang sering dilanda serangan oleh kelompok militan Islam Sunni.

Pemerintah Afghanistan menyalahkan militan Taliban atas ledakan itu, namun kelompok tersebut telah membantah tuduhan.

Pemenang Hadiah Nobel dan aktivis Malala Yousafzai - yang ditembak oleh Taliban pada tahun 2012 - juga ikut mengometari tentang serangan di sekolah itu di Twitter.

"Hati saya bersama keluarga korban di sekolah Kabul," tutur Malala.

Ledakan itu terjadi dengan latar belakang meningkatnya kekerasan saat Amerika Serikat berusaha menarik semua tentaranya dari Afghanistan pada 11 September.

Lingkungan di Kabul barat tempat ledakan terjadi adalah rumah bagi banyak komunitas minoritas Hazara, yang merupakan keturunan Mongol dan Asia Tengah dan sebagian besar adalah komunitas Muslim Syiah.

Hampir tepat setahun yang lalu, fasilitas bersalin di rumah sakit di Kabul juga mengalami penyerangan, menewaskan 24 perempuan, termasuk anak-anak dan bayi.

Heather Barr, yang bekerja untuk Human Rights Watch, mengomentari sebuah rekaman video yang menunjukkan sebuah sekolah di Kabul - termasuk tur ke bagian-bagian sekolah yang diberikan oleh salah satu siswa.

Bom Mobil-Alat Peledak Rakitan Diduga Sebagai Penyebab Ledakan

ilustrasi ledakan bom. (iStockphoto)
ilustrasi ledakan bom. (iStockphoto)

Sesi pemakaman pertama dilangsungkan di taman "Makam Martir", untuk para korban ledakan.

Laporan kantor berita AFP menyebut, para keluarga korban tanpa mengungkapkan dukanya ketika menyaksikan anak-anak mereka hendak dikubur.

Salah satu penduduk daerah itu, menurut laporan AFP, mengatakan: "Saya bergegas ke tempat kejadian dan menemukan beberapa jasad".

"Semuanya perempuan. Tubuh mereka bertumpuk," ungkapnya.

Ledakan tersebut diyakini disebabkan oleh bom mobil dan dua alat peledak rakitan yang ditempatkan di daerah tersebut.

Seorang korban selamat, bernama Zahra, mengatakan kepada wartawan bahwa dia berhasil meninggalkan sekolah saat ledakan terjadi.

"Teman sekelas saya meninggal. Beberapa menit kemudian ada ledakan lagi, dan ledakan lagi. Semua orang berteriak dan ada darah di mana-mana," katanya.

Lebih dari 150 orang terluka dalam serangan itu. Laporan dari Kabul mengatakan bahwa kota tersebut tengah sibuk dengan pembeli menjelang perayaan Idul Fitri pekan depan.

Najiba Arian, juru bicara Kementerian Pendidikan Afghanistan, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa sekolah yang dikelola pemerintah terbuka untuk anak laki-laki dan perempuan.

Sebagian besar korban yang terluka adalah anak perempuan, yang belajar di sesi kedua dari tiga sesi kelas, menurut Arian.

Saksikan Video Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel