Keluarga Bayi Meninggal Usai Disuntik Kembalikan Santunan ke RSUP Wahidin Makassar

Merdeka.com - Merdeka.com - Keluarga bayi berusia satu bulan, Danendra Atharprazaka Nirwan yang meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Wahidin Sudirohusodo Makassar mengembalikan uang santunan yang diberikan manajemen rumah sakit. Mereka juga menagih hasil audit atau Root Cause Analysis (RCA) yang dijanjikan.

RCA merupakan pendekatan terstruktur untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada satu atau lebih kejadian-kejadian atau audit dilakukan rumah sakit.

Perwakilan keluarga Danendra, Syahril Akbar mengatakan manajemen RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar menjanjikan akan memberikan RCA pada hari Senin (25/7). "Kami ingin pertanyakan itu RCA yang katanya hari Senin akan keluar," ujarnya saat mediasi yang dilakukan anggota Komisi IX DPR RI, Aliyah Mustika Ilham di RSUP Wahidin, Selasa (26/7).

Syahril menyebut dengan adanya RCA tersebut, pihak keluarga bisa mengetahui penyebab meninggalnya Danendra. Apalagi bayi itu meninggal dunia setelah diduga salah diberikan suntikan obat.

Sementara kakek Danendra, Mansyur mengembalikan uang santunan yang diberikan RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar atas meninggalnya cucunya. Ia menilai nyawa cucunya tidak bisa dinilai dengan uang.

"Saya kembalikan uang (santunan) yang diberikan kemarin. Karena nyawa anak cucu saya tidak bisa dinilai dengan uang," ucapnya singkat.

Dipantau Kementerian Kesehatan

Direktur Utama (Dirut) RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, Prof dr Syafri K Arief mengaku belum bisa menyatakan ada tidaknya kesalahan prosedur dalam kasus meninggalnya Danendra. Ia mengaku masih menunggu RCA dari Komite Keperawatan yang melakukan audit atas kejadian tersebut.

"Tadi dibilang Direktur Medik dalam dua hari akan keluar (RCA). RCA itu sebetulnya Komite Keperawatan. Tentunya hasil itu kalau misalnya nanti dirasa memang ada yang ingin dipertanyakan silakan diangkat lebih jauh lagi," kata dia.

Syafri mengatakan pihaknya akan tegas mengawal kasus ini. Pasalnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memantau kasus kematian Danendra.

"Kami juga mendapatkan dan Kemenkes menunggu itu. Saya sebagai penanggung jawab wajib melaporkan ke Menkes," kata dia.

Perawat Dinonaktifkan

Ia mengatakan jika ada kesalahan prosedur, maka pihaknya akan memberikan Punishment. Apalagi, kasus meninggalnya bayi Danendra memberikan dampak luar biasa atas pelayanan kesehatan RSUP Wahidin Sudirohusodo.

"Saya sebagai pimpinan mengambil tanggung jawab itu. Barangkali ke depan kami akan lebih banyak lagi memberikan edukasi dan tentunya memberikan secara tegas pelayanan-pelayanan yang ada di RSUP Wahidin bisa lebih baik," tuturnya.

Syafri mengungkapkan kondisi perawat yang diduga salah menyuntikkan obat kepada Danendra sempat mengalami stres. Syafri menyebut kini perawat tersebut dinonaktifkan sementara sambil menunggu hasil audit.

"Ya stres, pastilah. Karena bagaimana pun dia (menyuntikkan obat). Tapi adalah bahwa dia harus diaudit karena dia adalah pelaksana keperawatan sehingga terjadi ini," ungkapnya.

Syafri juga mengungkapkan obat yang disuntikkan ke Danendra merupakan antibiotik. Ada dua unsur dalam suntikan obat tersebut, yakni Amphisilin dan Xetriason.

"Pertanyaannya adalah apakah obat ini membuat perburukan (kondisi Danendra) atau tidak. Kita akan melihat dan menganalisa itu," tegasnya.

Dimediasi Anggota DPR RI

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Aliyah Mustika Ilham mengatakan pihaknya memediasi antara keluarga Danendra dan manajemen RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar. Mediasi dilakukan agar ada titik temu antara keluarga Danendra dengan RSUP Wahidin Sudirohusodo.

"Kami tidak berharap kejadian ini berulang, mungkin ini jadi cambuk dari RSUP Wahidin bagaimana ke depan sangat berhati-hati melakukan pelayanan kesehatan kepada pasien. Mudah-mudahan ada hikmah," kata dia.

Terkait RCA yang diminta keluarga korban, politisi Partai Demokrat ini siap mendampingi keluarga korban. Meski demikian, Aliyah meminta kepada keluarga Danendra untuk bersabar menunggu hasil audit.

"RCA itukan kesimpulan, dia bukan seperti mesin ATM yang kasih masuk kartu langsung keluar. Itukan butuh dari proses daripada apakah diklarifikasi atau klasifikasi," tuturnya.

Ia mengaku berdasarkan keterangan Dirut RSUP Wahidin, hasil RCA akan keluar dalam dua hari. "Tapi kan penjelasan dari Dirut Wahidin juga mengatakan dan menjanjikan dalam satu dua hari ke depan RCA akan diterbitkan dan diberikan kepada keluarga," ucapnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel