Keluarga Korban Dilarang Naik KRI Ikut Pencarian Sriwijaya Air

Dedy Priatmojo, Ridwansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Perwira TNI Angkatan Laut melarang keluarga korban ikut dalam operasi pencarian korban Sriwijaya Air menggunakan KRI Semarang 594. Aksi pelarangan itu terjadi sebelum KRI Semarang 594 bertolak dari Pelabuhan JICT Jakarta Utara, ke lokasi pencarian, Senin, 11 Januari 2021.

Lina bersama suami yang merupakan salah seorang kerabat penumpang Sriwijaya Air terlihat dihalau seorang perwira TNI AL saat hendak menaiki tangga KRI Semarang.

"Ibu mau ke mana? Enggak bisa sembarang orang naik kapal ini," kata perwira TNI berpangkat melati tiga ini.

Mendapat penolakan tersebut, Lina berusaha menjelaskan bahwa ia adalah kerabat korban yang ingin melihat langsung proses pencarian dan penyelamatan korban pesawat jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

"Saya sudah mendapat izin untuk naik, karena saya kerabat korban," ujarnya. Namun demikian, perwira berpangkat kolonel TNI ini tetap melarang Lina dan suami untuk naik ke atas kapal.

Kepada VIVA, Lina mengatakan hanya ingin mengetahui proses pencarian, karena banyak kerabat di Pontianak yang menanyakan perkembangan terbaru dari operasi pencarian dan penyelamatan Sriwijaya Air SJ 182.

"Namanya keluarga, ya mereka penasaran bagaimana proses pencarian berlangsung, saya yang ada di Jakarta tentu membantu," ujar wanita berkerudung yang tinggal di kawasan Cibubur ini.

Terkait penolakan tersebut, Lina dan suami mengaku tidak kecewa. Ia berusaha memahami bahwa anggota SAR gabungan memang sedang bekerja dan pasti sangat melelahkan. Namun, ia juga ingin mengetahui informasi terkini.

"Ya enggak masalah dilarang ikut operasi pencarian, karena kita dijanjikan akan dinaikkan ke salah satu kapal yang menuju lokasi pencarian," tuturnya.

Sementara itu, perwira TNI AL yang sempat melarang kerabat korban ikut bersama KRI Semarang saat dikonfirmasi mengatakan bahwa KRI Semarang diperuntukkan bagi wartawan meliput operasi SAR jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di perairan Kepulauan Seribu.

"Karena di sana untuk wartawan. Sehingga belum disiapkan jika ada kerabat korban yang datang. Tentu perlakuan terhadap kerabat korban berbeda dengan wartawan, jika kerabat korban melihat temuan terbaru kemudian histeris tentu akan mengganggu proses pencarian," ujarnya.

Meski demikian, perwira TNI AL ini memastikan jika Lina dan suami bisa ikut serta memantau operasi pencarian bersama tim yang sudah ada, jika ada pendampingan dari petugas medis.