Keluarga: Manajemen RS Sempat Bohong Jika Korban Dianiaya Sekuriti hingga Tewas

·Bacaan 5 menit
Ilustrasi Penangkapan (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta Cuma gegara wajahnya mirip dengan pelaku pencurian ponsel, seorang warga Johar Baru, berinisial IK (40) dikeroyok dan dianiaya oknum sekuriti RS AR di Salemba, Jakarta Pusat hingga meninggal.

Korban meninggal dunia dengan luka parah di bagian kepala. Mirisnya, manajemen rumah sakit mencoba menutup-nutupi kematian korban dengan memberikan keterangan palsu kepada pihak keluarga. Disebut, korban mengalami kecelakaan lalu lintas, bukan karena penganiayaan.

Salah seorang kerabat korban, Achmad Syarifudin menceritakan secara rinci soal hal tersebut. Dia sendiri mendapatkan informasi, adik iparnya meninggal dunia secara mengenaskan pada Minggu, 24 Oktober 2021 pagi. Adik kandungnya memberitahukan kabar itu lewat sambungan telepon.

Pria yang akrab disapa Dindin tersebut menuturkan, ada lima orang yang datang ke kediaman korban pada Sabtu 23 Oktober 2021 malam. Dindin menyebut, mereka adalah sekuriti dan manajemen dari RS AR, Salemba.

Mereka menginformasikan kondisi adik iparnya sedang terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri di RS AR. Mendengar penjelasan rumah sakit, adiknya lantas syok.

"Di situ disampaikan ke istri korban, bahwa suaminya kecelakaan. Ibu harus tanda tangani surat agar besok segera dioperasi. Kaget lah istrinya, padahal tadi pas berangkat tidak apa-apa kok tiba-tiba kek gini," ucap Dindin saat dihubungi, Rabu (27/10/2021).

Dindin mengungkapkan, pihak manajemen juga memboyong adiknya ke rumah sakit. Di lantai dua RS AR, Salemba, pihak rumah sakit kembali mengintrogasi adik kandungnya itu.

"Ditanyakan segala macam, suami kerja apa, anaknya berapa, kemudian istri korban bertanya, 'Emang kenapa suami saya?' Dijawab suami ibu kecelakaan," kata Dindin menceritakan kembali.

Dindin mengungkapkan adiknya dipaksa mendatanggani surat persetujuan operasi yang rencana dilakukan pada esok hari dan dengan berat hati, adiknya menuruti permintaan dari pihak rumah sakit.

"Istri korban akhirnya tanda tangan," ujar dia.

Dindin menerangkan, adik kandungnya meminta izin pihak rumah sakit untuk menemui suaminya di UGD. Dindin mengatakan, diam-diam adiknya mengambil foto.

"Kondisinya koma waktu itu belum meninggal," ujar dia.

Janggal

Dindin menerangkan, foto itu dikirim ke keluarga besar melalui singkat WhatsApp Messengger. Ia sendiri terima pada Minggu sekitar pukul 08.00 WIB.

Dindin lihat-lihat ada yang janggal dengan kondisi tubuh korban. Memar pada mata dan kepala tak seperti luka kecelakaan lalu lintas.

"Kalau kecelakan itu paling tidak ada memar, memar di badan. Ini timbul kecurigaan dari pihak keluarga," ucap dia.

Apalagi, yang memberitahukan kondisi adik ipar adalah pihak rumah sakit, bukan kepolisian.

Dindin mengatakan, ia memutuskan berangkat ke rumah sakit pada Minggu sore. Dindin ingin mencari informasi dari beberapa karyawan rumah sakit. Hasilnya, nihil.

"Siapa yang antar korban ke rumah sakit, kalau memang kecelakaan. Saya kemudian minta jadwal piket di UGD, tidak dikasih. Saya minta lihat CCTV juga tidak dikasih," terang dia.

Dindin terus mendesak agar mendapatkan informasi benar ke karyawan. Orang itu bergeming setelah Dindin menyatakan membawa kasus ini ke kepolisian.

"Saya bilang di situ, saya mau ke kantor polisi, baru karyawan itu menelpon manajemen sama dan sekuriti," ujar dia.

Lapor Polisi

Dindin mengatakan, ia bertemu dengan pewakilan manajemen dan sekuriti di lantai dua. Ia meminta penjelasan secara rinci. Di situ, Dindin kaget bukan kepalang bahwa adik ipar tewas akibat dianiaya oleh sejumlah orang.

Menurut keterangan sekuriti, wajah adik ipar sempat terekam CCTV pernah melakukan pencurian telepon genggam milik seorang pasien pada 18 Oktober 2021.

"Di situ dijelaskan pihak rumah sakit, si korban dicurigai oleh mereka melakukan tindak pidana. Ada pencurian handphone keluarga pasien. Kemudian korban ditahan oleh sekuriti di pos dengan kondisi tangan diborgol," ujar dia.

Dindin mempertanyakan sejumlah luka yang ada di tubuh adik iparnya. Di situ, Dindin murka dengan jawaban sekuriti.

"Saya tanya kenapa bisa babak belur, dia bilang itu dipukulin massa. Dari situ saya bilang, saya info ke ke keluarga besar. Kalau gak terima siap-siap diminta keterangan sama pihak kepolisian," ucap dia.

Dindin menerangkan, ia telah membuat laporan ke Polres Metro Jakpus pada Senin 25 Oktober 2021 kemarin. Adiknya telah di BAP. Demikian juga dengan Jasad adiknya, telah diotopsi oleh pihak kepolisian.

"Sudah diselidiki pihak kepolisian," kata Dindin.

Kasat Reskrim Polres Jakpus Kompol Wisnu Wardana saat dikonfirmasi Liputan6.com soal dugaan pihak RS sempat berbohong soal fakta kematian korban, belum memberikan respons sejak pukul 18.45 WIB hingga pukul 20.57 WIB.

Ada yang Mengaku Pukul Kepala Korban

Dindin mengatakan, informasi terakhir yang diterima ada seorang sekuriti yang mengaku telah menganiaya adik ipar.

"Katanya ada yang mengaku pukul si korban pada bagian kepala sebelah kiri sampai keluar darah," ujar dia.

Dindin berharap kasus ini diusut tuntas oleh pihak berwajib. Ia yakin korban meninggal secara tak wajar. Selain dari luka, sepeda motor korban juga tak mengalami kerusakan.

Sebelumnya, Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat AKP Sam Suharto menerangkan, pihaknya sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk mengungkap penyebab kematian IK (41). Hasil rekam medis menyatakan, ada pendarahan pada bagian kepala.

"Diduga (meninggal) karena pendarahan di kepala," kata dia kepada awak media, Selasa (26/10/2021).

Sam membenarkan bahwa, korban sebelumnya dihajar oleh sejumlah orang pada Sabtu 23 Oktober 2021, sekira pukul 15.00 WIB.

Namun demikian, Sam belum bersedia membeberkan secara gamblang kronologi kejadiannya termasuk latar belakang para pelaku. Dia hanya menyebut, pelaku lebih dari satu orang.

"Pelaku diduga lebih dari satu orang. Sementara masih proses lidik," ujar dia.

Kasus ini ditangani oleh Satreskrim Polres Metro Jakpus. "Sudah ditangani dan sementara dalam proses lidik Satreskrim Polres Metro Jakpus," tandas dia.

Polisi Pelajari CCTV dan Periksa Saksi

Kasat Reskrim Polres Jakpus Kompol Wisnu Wardana angkat bicara terkait kematian IK (40), yang diduga dianiaya oleh oknum sekuriti Rumah Sakit (RS) AR, Salemba.

Wisnu menerangkan, pihaknya telah memeriksa delapan saksi terkait penganiayaan itu. Adapun latar belakang mereka adalah karyawan dan sekuriti setempat. Pemeriksaan berlangsung di Polres Metro Jakpus hari ini.

"Dari sekuriti kemudian dari pihak rumah sakit, kurang lebih ada 8 orang saksi yang kami periksa," kata dia kepada wartawan di Jakarta Pusat, Rabu (27/10/2021).

Wisnu menerangkan, berdasarkan kesaksian sejumlah orang yang telah dimintai keterangan. Ia mengungkapkan korban, dituduh sebagai pencuri.

"Si korban dicurigai sebagai pencuri, tukang ambil barang di rumah sakit," ujar dia.

Wisnu mengatakan, korban ketika itu berada di rumah sakit. Oleh sejumlah sekuriti, kata Wisnu di bawa ke pos. Kemudian, terjadilah penganiayaan.

"Karena dicurigai dibawalah ke posnya mereka sekuriti kemudian diduga dilakukan penganiayaan di sana," ujar dia.

Wisnu belum bisa membeberkan berapa orang pelaku penganiayaan. Menurut dia, pihaknya masih mencari bukti-bukti untuk mengidentifikasi para pelaku. Salah satunya dengan menganalisis rekaman CCTV.

"Ini kan lagi kita lidik, untuk berapa orangnya kita belum tahu. Kita lagi proses memeriksa saksi saksi yang ada, untuk memastikan CCTV dulu," ujar dia.

Namun, Wisnu menyebut, dugaan sementara korban meninggal secata tak wajar. Lebih lanjut, kata dia menunggu hasil autopsi dari RSCM.

"Makanya kita lakukan otopsi nanti tunggu hasilnya," tandas dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel