Keluarga Rezza Tak Puas Dengan Rekontruksi

TRIBUNNEWS.COM, GUNUNGKIDUL - Pihak keluarga Rezza Eka Wardhana merasa tidak puas atas rekontruksi yang digelar di depan gedung DPRD, Kamis (22/11/2012).
Bibi Rezza, Novi Dwi Nugraheni menyatakan banyak adegan yang tidak sesuai dengan keterangan saksi.

“Kami dari keluarga tadi nggak bisa mendekat untuk melihat. Kami berusaha untuk tahu. Namun memang banyak hal yang tidak sesuai dengan keterangan saksi kepada keluarga,” jelas Novi usai rekontruksi.

Menurut Novi, beberapa adegan seperti adanya barikade polisi saat pertama kali Rezza memasuki jalan Katamso, menurut keterangan saksi, hal itu tidak ada.

Terlebih saat proses Rezza jatuh dari motor, faktor yang menyebabkan korban terluka juga masih janggal.

Jika pukulan polisi hanya mengenai sepeda motor Rezza, juga cukup janggal. “Nah, itu patah tulang hidung sebabnya apa?” tanya Novi.

Begitu Rezza jatuh dan momen sekitar 10 menit ketika Rezza jatuh, tidak digambarkan secara jelas. Padahal, dari keterangan kawan-kawan Rezza, polisi sempat menghalang-halangi saat mereka mendatangi TKP.

“Saat Rezza jatuh, sebenarnya langsung diblokade oleh polisi,” jelasnya. Novi juga menyatakan kejanggalan itu juga cukup kuat, karena polisi juga menghalangi untuk warga atau saksi yang akan menolong. Hal itu menimbulkan tanda tanya di pihak keluarga.

Sementara, Koordinator Kesatuan Aksi Rakyat Gunungkidul (Karag), Danang Ardianta menilai ada semacam missing moment (bagian hilang) dalam rekonstruksi tersebut.

“Setelah Rezza terjatuh sampai dibawa ke rumah sakit itu ada waktu yang cukup lama. Sehingga memunculkan pertanyaan baru, apa yang dilakukan petugas di sekitar kejadian saat setelah Rezza jatuh,” kata Danang.

Danang tetap memberikan apresiasi kepada Polda DIY atas terselenggaranya rekonstruksi. Dikatakan, hal ini sebagai langkah maju penyelesaian kasus Rezza dengan melaksanakannya di TKP. Ia yakin Polda DIY cukup serius dalam menyelesaikan kasus Rezza ini.

“Yang jelas dengan rekonstruksi ini berkas perkara kasus Rezza segera lengkap untuk dibawa ke kejaksaan dan disidangkan di pengadilan. Sehingga masyarakat segera memperoleh kepastian hukum dan nantinya hukuman yang dijatuhkan bisa memberikan rasa keadilan bagi keluarga dan masyarakat,” jelasnya.

Pemanggilan Janggal
Kejanggalan terhadap kasus Rezza juga terjadi. Pihak Polda DIY memanggil Kartilah, warga Wonosari.

Diketahui bahwa Kartilah merupakan ibu dari saksi A, satu di antara dua saksi yang memberikan keterangan adanya ayunan tangan tersangka kepada Rezza.

Surat pemanggilan yang dianggap janggal tersebut bernomor S.Pgl/1938/XI/2012/DitReskrim. Surat tersebut bertanggal 19 November 2012.

Dalam surat tersebut, Kartilah diminta menghadap penyidik Polda DIY, Rabu (21/11) untuk diminta keterangan sebagai saksi terkait kasus dugaan tindak penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya Rezza.

Dihubungi Tribun Jogja, Ayah Rezza, Nugroho P Widiatmoko merasa surat panggilan tersebut cukup janggal.

“Tidak ada hubungannya ibu saksi dalam kasus ini,” ujar Nugroho. Hal tersebut sangat lucu karena saksi dalam peristiwa ini adalah putra Kartilah.

“Seharusnya panggil neneknya sekalian karena neneknya yang melahirkan ibunya,” tandasnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.