Keluarga Santri AM Sesalkan Ponpes Gontor Minta Maaf Setelah Viral: Kenapa Terlambat?

Merdeka.com - Merdeka.com - Keluarga almarhum AM mengapresiasi kinerja kepolisian yang bergerak cepat dalam mengungkap penyebab kematian pemuda 17 tahun itu. Sikap sebaliknya mereka sesalkan dari Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai tempat korban belajar.

Kuasa hukum keluarga AM, Titis Rachmawati mengatakan, mereka sangat mendukung proses autopsi yang dilakukan Polri sebagai upaya mengetahui penyebab kematian AM. Polres Ponorogo terus berkomunikasi dengan pihak keluarga, bahkan datang ke Palembang untuk menggali informasi.

"Kami mengapresiasi sepenuhnya tindakan dari penyidik Ponorogo yang datang ke sini untuk melakukan autopsi. Kami harap segera didapatkan siapa pelakunya dan semuanya terungkap," ungkap Titis, Kamis (7/9).

Puji Kerja Sigap Kepolisian

Kesigapan Polres Ponorogo berbanding terbalik dengan tindakan pesantren Gontor. Menurut dia, manajemen Gontor baru mengambil tindakan setelah kasus ini viral dan menjadi konsumsi publik.

"Kami sangat menyesalkan sekali. Setelah viral, baru ponpes melapor dan mengajukan permohonan maaf. Kenapa harus terlambat?" kata Titis.

Dikatakan, respons lamban Gontor membuat keluarga menanggung risiko dari beragam proses penyelidikan oleh polisi. Keluarga 'terpaksa' menyetujui permintaan penyidik untuk melakukan autopsi terhadap korban yang sudah dimakamkan 15 hari lalu.

"Kalau mereka cepat lapor kan tidak begini, diautopsi saat sudah dikubur," ujarnya.

Tantang Ponpes Gontor Transparan

Sedari awal, Ponpes Gontor terkesan menutupi kejadian itu dan seakan melindungi para pelaku. Gontor juga baru mengeluarkan statement permintaan maaf dan mengaku terjadi tindak kekerasan karena kasus itu menjadi perbincangan banyak orang setelah keluarga mengadu ke Hotman Paris.

Kini, Gontor menyebut akan transparan dan siap membantu penyidik mengungkap kasus tersebut. Keluarga berharap itu sebuah komitmen yang direalisasikan agar semuanya terungkap.

"Kalau mereka mengatakan tidak menutupi, silakan buka semuanya, kami sangat mendukung. Kalau mungkin pada awalnya miskomunikasi, sekarang silakan dibuka selebar-lebarnya, seluas-luasnya dan beri informasi sebanyak mungkin," tegasnya. [lia]