Keluarga Vs Polisi: Polemik Larangan Buka Peti Jenazah Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus polisi tembak polisi yang menewaskan Brigadir J masih misterius. Saling tuding dan bantah antara polisi dan keluarga almarhum terjadi. Salah satunya, soal kondisi jenazah saat di dalam peti.

Kuasa Hukum Keluarga Brigadir J, Johnson Pandjaitan menyebut, Karopaminal Brigjen Hendra Kurniawan melarang keluarga untuk membuka peti jenazah Brigadir J. Brigadir J tewas usai baku tembak dengan Bharada E pada Jumat (8/7) sekitar pukul 17.00 Wib di rumah bosnya, Kadiv Propam nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo.

Menurut Johnson, larangan membuka peti itulah yang menjadi salah satu alasan pihaknya meminta agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menonaktifkan Karopaminal Div Propam Polri tersebut.

"Karopaminal itu harus diganti, karena dia bagian dari masalah dan bagian dari seluruh persoalan yang muncul. Karena dia yang melakukan pengiriman mayat dan melakukan tekanan kepada keluarga untuk (melarang) membuka peti mayat," kata Johnson saat dihubungi, Rabu (20/7).

Tak hanya melanggar asas keadilan saja, ternyata Karopaminal juga dituding melanggar prinsip-prinsip hukum adat.

"Jadi selain melanggar asas keadilan juga melanggar prinsip-prinsip hukum adat yang sangat diyakni oleh keluarga korban. Menurut saya itu harus dilakukan. Tapi yang jauh lebih penting adalah, Kapolres itu yang melakukan memimpin proses penyidikan," sebutnya.

Masuk Rumah Tanpa Izin

Karopaminal dikatakannya terlalu keras dan juga diduga melakukan tindakan intimidasi terhadap keluarga Brigadir J.

"Karopaminal itu terlalu keras. Kemudian dia dianggap tidak berperilaku sopan kepada kami. Datang ke kami sebagai Karopaminal di Jambi dan terkesan intimidasi keluarga alamarhum, dan memojokan keluarga sampai memerintah untuk tidak boleh memfoto, tidak boleh merekam, tidak boleh pegang HP," ungkapnya.

"Masuk ke rumah tanpa izin, langsung menutup pintu dan itu tidak mencerminkan perilaku Polri sebagai pelindung, pengayom masyarakat. Apalagi beliau Karopaminal, harusnya membina mental Polri, tetapi ini justru mengintimidasi orang yang sedang berduka," tambahnya.

Polri Bantah Larang Buka Peti Brigadir J

Secara terpisah, Pemeriksa Utama Divpropam Polri Kombes Leonardo Simatupang membantah jika pihaknya telah melakukan pelarangan untuk membuka peti jenazah. Terlebih, jenazah itu diantar olehnya. Bukan oleh Karopaminal Div Propam Polri seperti yang dituduhkan keluarga.

"Yang mengantar jenazah itu saya, enggak Karo Paminal. Itu ya, salah ngikuti informasi-informasi yang enggak benar. Video itu saja, itu awal saya bicara, saya enggak pernah bicara apa-apa, menyodorkan kertas juga tidak ada. Video itu saja dilihat, itu sudah kelihatan. Jadi kalau ada yang tadi WA itu yang mengantar jenazah itu saya," kata Leonardo saat dihubungi, Rabu (20/7).

"Tidak pernah ada saya untuk melarang buka peti ya, karena enggak bagus dilihat keluarga, kita punya keluarga juga. Dilihat saja video saya itu, dengar enggak permintaan-permintaan buka peti silakan saja, bisa dilihat," sambungnya.

Dia menjelaskan, Karopaminal datang ke rumah almarhum itu setelah jenazah Brigadir J sudah dikebumikan. Selain itu, kedatangan Karopaminal saat itu dijelaskannya atas permintaan keluarga untuk menjelaskan kronologi, permintaan untuk upacara dan mutasi adiknya supaya minta dibantu secara tuntas.

"Itu ada video dan bisa dilihat apa yang saya lakukan, dan apa yang saya bicarakan. Nah silakan itu dilihat saja, itu kan fakta," jelasnya.

"(Bantah tuduhan keluarga) Iya itu saja kan ada video itu, itu saya berbicara awal saya mengantarkan jenazah 2 jam perjalanan sampai di situ, itu saja kan dan awal saya sudah mempersilakan," sambungnya.

Dia menegaskan, Karopaminal tidak melakukan pelarangan untuk membuka peti jenazah Brigadir J. Hal ini karena dirinya yang mengantar jenazah untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

"Enggak ada lah (Karopaminal larang buka peti), saya yang mengantar. Tuduhan melarang buka peti tidak benar dan tolong diluruskan sesuai fakta yang ada di video," tutupnya.

Perwira hingga Dua Jenderal Dicopot

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mencopot Irjen Pol Ferdy Sambo dari Kadiv Propam Mabes Polri. Hal ini berkaitan kasus tembak menembak antara ajudan di rumah dinas Ferdy Sambo.

"Irjen pol Ferdy Sambo untuk sementara jabatannya dinonaktifkan. Jabatan tersebut saya serahkan kepada bapak Wakapolri," jelas Sigit di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/7).

Kapolri menegaskan, hal ini dilakukan untuk membuat terang kasus penembakan antara Bharada E dan Brigadir J. Dalam kasus ini, Brigadir J meninggal dunia.

Karopaminal dan Kapolres Jaksel Dinonaktifkan

Polri kembali menonaktifkan dua personelnya terkait dengan kasus baku tembak Brigadir J dengan Bharada E di rumah singgah Irjen Ferdy Sambo pada Jumat (8/7) sore.

Kali ini, dua orang yang dinonaktifkan yakni Karopaminal Brigjen Hendra Kurniawan dan Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi.

"Memutuskan untuk menonaktifkan 2 orang, pertama menonaktifkan Karo Paminal Brigjen Pol Hendra Kurniawan. Kedua yang dinonaktifkan pada malam ini adalah Kapolres Jaksel, Kombes Pol Budhi Herdi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (20/7).

Terkait untuk pejabat yang akan mengisi kekosongan Kapolres Metro Jakarta Selatan, nantinya akan ditunjuk oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran.

"Nanti siapa pejabat sementaranya, nanti secara administrastif akan di tunjuk Kapolda Metro Jaya," ujarnya. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel