Keluhan Pengusaha Tempe di Medan Harga Kedelai Mahal Hingga Terancam Gulung Tikar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Medan Masih tingginya harga komoditas bahan pokok termasuk kedelai di kalangan para importir hingga distributor, menyebabkan sejumlah produsen atau pengrajin usaha tempe dan tahu di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut) gulung tikar.

Seorang produsen tempe di Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Widodo, mengeluhkan kenaikan harga kedelai di tingkat distributor sejak 2 bulan lalu. Hal ini juga berpengaruh pada hasil produksi.

"Sebelum adanya kenaikan harga kedelai, kami bisa memproduksi 70 hingga 80 Kilogram (Kg) kedelai," kata Widodo, Rabu (6/1/2021).

Dijelaskannya, dari jumlah tersebut mereka bisa menghasilkan 300 hingga 350 bungkus plastik tempe dengan berbagai ukuran dan harga. Untuk saat ini, mereka hanya berani produksi 25 hingga 30 Kg kedelai.

"Karena, harganya juga naik. Saya juga enggak tahu, bisa bertahan atau enggak kalau harganya terus naik," sebutnya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Ukuran Dikurangi

Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di kawasan Sunter, Jakarta, Senin (4/1/2021). Perajin tempe setempat berupaya mengurangi kerugian akibat melonjaknya harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran tempe dan menaikan harga jual kisaran Rp1.000 - Rp2.000 per potong. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di kawasan Sunter, Jakarta, Senin (4/1/2021). Perajin tempe setempat berupaya mengurangi kerugian akibat melonjaknya harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran tempe dan menaikan harga jual kisaran Rp1.000 - Rp2.000 per potong. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Disebutkan Widodo, untuk mengatasi agar tetap memproduksi, pihaknya mengurangi berat dan ukuran tempe dari sebelumnya dengan harga tetap. Dengan begitu, mereka bisa menekan biaya pengeluaran anggaran produksi.

"Terpaksa (kurangi) ukuran dan berat tempe, supaya enggak rugi. Kalau harga tetap, enggak ada kenaikan," sebutnya.

Sebelumnya harga kedelai Rp 6.500 per Kg. Saat ini naik hingga Rp 9.300 per Kg. Diakui Widodo, dengan kenaikan harga tersebut omzet penjualan merosot hingga 50 persen. Sebelumnya mendapat penghasilan Rp 1,1 juta dalam sehari, saat ini hanya Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Covid-19 juga berpengaruh," ujarnya.

Sidak KPPU

Sidak dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di salah satu gudang perusahaan importir di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan
Sidak dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di salah satu gudang perusahaan importir di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan

Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di salah satu gudang perusahaan importir di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, harga kedelai Rp 8.550 per Kg.

Kepala KPPU Wilayah I, Ramli Simanjuntak mengatakan, permasalahan kedelai sudah terjadi di awal Desember 2020, karena masalah harga pengangkutan yang naik, dan jadwal yang juga berubah-ubah.

"Juga permasalahan gagal panen di negara produse, Amerika dan Argentina. Saat ini pasokan cukup, dan dijawadwalkan 14 Januari 2021 akan masuk lagi," sebutnya.

Disampaikan Ramli, diharapakan kepada para importir agar tidak mempermaikan harga dan pasokan kedelai. Untuk para distributor di bawah importir, diharapkan tidak melakukan kesepakatan-kesepakan harga dan pasokan, atau menahan pasokan.

"Untuk Sumut, kebutuhan kedelai 58 ribu ton per tahun," ucapnya.

Penyebab Kenaikan Harga

Pengrajin menunjukkan kedelai yang akan diolahnya menjadi tempe di kawasan Sunter, Jakarta, Senin (4/1/2021). Perajin tempe setempat berupaya mengurangi kerugian akibat melonjaknya harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran tempe dan menaikan harga jual. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Pengrajin menunjukkan kedelai yang akan diolahnya menjadi tempe di kawasan Sunter, Jakarta, Senin (4/1/2021). Perajin tempe setempat berupaya mengurangi kerugian akibat melonjaknya harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran tempe dan menaikan harga jual. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai akibat lonjakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat (AS) selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020 permintaan kedelai China naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan AS seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah, sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain, termasuk Indonesia.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: