Kelurahan Winongo Madiun jadi percontohan program Desa Sensor Mandiri

Kelurahan Winongo, Kota Madiun, Jawa Timur, terpilih sebagai daerah proyek percontohan pelaksanaan program Desa Sensor Mandiri yang digagas oleh Lembaga Sensor Film (LSF).

Wali Kota Madiun Maidi mengatakan Kota Madiun terpilih karena kemajuan digitalisasi di wilayah setempat dalam bidang komunikasi dan informasi. Terlebih saat ini Kota Madiun memiliki program layanan internet gratis atau WiFi gratis.

"Digitalisasi yang terus berkembang harus diimbangi dengan kemampuan bagaimana menyensor film, tontonan, ataupun informasi yang layak atau tidak layak. Kalau keliru, harus dibenarkan secara mandiri. Kota semakin maju memang harus ada itu," ujar Maidi pada pengukuhan desa sensor mandiri dan sahabat sensor mandiri di aula kantor Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Rabu.

Baca juga: LSF dan GPBSI kampanyekan Budaya Sensor Mandiri lebih masif

Menurut dia, saat ini desa sensor mandiri difokuskan pada Kelurahan Winongo. Ke depan kelurahan/desa yang ditunjuk itu diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa atau kelurahan lainnya bahwa masyarakatnya memiliki pengetahuan yang cukup untuk memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia.

"Kegiatan ini sejalan dengan program WiFi gratis yang telah terpasang di 1.936 titik lokasi di wilayah Kota Madiun," kata dia.

Maidi menambahkan, literasi tentang penggunaan IT dinilai sangat penting. Ia tidak ingin masyarakat menyalahgunakan fasilitas internet gratis yang saat ini disediakan Pemkot Madiun.

"Untuk mencegah penyalahgunaan, pemkot akan membatasi jam koneksi internet mulai pukul 21.00 WIB hingga pagi. Saya berterima kasih karena kota kita ditunjuk sebagai desa sensor mandiri yang pertama di Indonesia," katanya.

Baca juga: UMSU dan LSF RI kolaborasi sosialisasi budaya sensor film mandiri

Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto mengatakan program Desa Sensor Mandiri bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat agar secara mandiri dapat memilah dan memilih tontonan sesuai dengan penggolongan usia.

"Melalui kegiatan ini, LSF mengajak masyarakat untuk mengedepankan program Budaya Sensor Mandiri (BSM)," kata Rommy Fibri.

Ia menjelaskan, kemajuan digitalisasi di Kota Madiun dalam bidang komunikasi dan informasi memang sangat bagus. Apalagi Kota Madiun memiliki program WiFi gratis.

"Ini berarti masyarakatnya bisa menonton apapun menggunakan jaringan internet dengan sangat mudah. Tapi kalau tidak diberi pembekalan, dikhawatirkan berdampak negatif. Padahal melihat sesuatu itu ada tuntunannya," katanya.

Baca juga: LSF sebut sensor film tidak kekang kreativitas

Selain menggalakkan budaya sensor mandiri, menurut dia, melalui desa sensor mandiri, LSF juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk menyebarkan informasi baik sekaligus memberikan literasi kepada masyarakat agar mampu memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia.

Dengan gerakan budaya sensor mandiri itu diharapkan dapat menekan dampak negatif dari tontonan atau informasi hoaks di masyarakat.

"Utamanya, untuk konten-konten terlarang yang mengarah pada radikalisme, pornografi, dan lain sebagainya," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel