Kematian Anak Indonesia Akibat COVID-19 Tertinggi di Asia Pasifik

Donny Adhiyasa, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Meski jumlah anak yang terinfeksi virus corona atau COVID-19 tidak sebanyak orang dewasa, namun anak-anak memiliki risiko yang sama besarnya untuk terinfeksi virus ini seperti orang dewasa. Mirisnya, jumlah kasus kematian anak yang terinfeksi COVID-19 di Indonesia, merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) per 29 November 2020, menunjukkan proporsi kematian anak akibat COVID-19 dibanding seluruh kasus kematian di Indonesia sebesar 3,2 persen.

Ketua IDAI, dr.Aman Pulungan Sp.A, mengatakan satu dari sembilan kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun. Anak yang tidak bergejala atau bergejala ringan dapat menjadi sumber penularan kepada orang di sekitarnya.

"Bukti-bukti menunjukkan anak juga dapat mengalami gejala COVID-19 yang berat dan mengalami suatu penyakit peradangan hebat yang diakibatkan infeksi COVID-19 yang ringan yang dialami sebelumnya," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Berikut beberapa gejala yang harus diwaspadai orangtua yang mengindikasikan anak terinfeksi COVID-19:

Demam
Demam ringan adalah tanda umum infeksi pada anak-anak. Hampir 54 persen anak dalam penelitian tersebut dilaporkan menderita demam. Perlu dicatat bahwa demam juga merupakan salah satu tanda infeksi yang paling umum di antara orang dewasa, terjadi pada lebih dari 75-80 persen kasus, baik ringan maupun berat.

Kelelahan dan lemas
Kelelahan dan lemas adalah tanda lain yang dapat ditunjukkan oleh virus penyebab COVID-19 di antara usia yang lebih muda. Berdasarkan penelitian, kelelahan kronis dan lemas menjangkiti 55 persen anak-anak. Ini bisa menjadi tanda yang agak mengkhawatirkan karena kelelahan yang disebabkan oleh virus juga membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Sakit kepala
Sakit kepala bukanlah gejala COVID-19 yang umum. Ini hanya memengaruhi 14 persen orang dewasa. Namun, sakit kepala bisa menjadi keluhan umum pada anak-anak dan kemungkinan merupakan tanda infeksi. Lebih dari 50 persen anak dalam penelitian ini menderita sakit kepala ringan.

Hilangnya indera penciuman dan rasa
Kehilangan penciuman dan rasa, atau anosmia, mungkin merupakan gejala paling aneh dari COVID-19 sejauh ini juga dapat memengaruhi anak-anak, meskipun jarang.

Temuan terbaru menunjukkan, sebagian kecil dari anak-anak tersebut dilaporkan menderita kehilangan indera penciuman dan rasa, selain sakit tenggorokan dan pilek. Gejala lain, seperti diare, badan pegal, kehilangan nafsu makan, juga cukup umum terjadi.

Gejala lain yang tidak biasa
Para peneliti mengatakan, selain tanda-tanda yang disebutkan di atas, gejala lain yang harus diwaspadai untuk kemungkinan tanda-tanda infeksi adalah ruam kulit dan pembengkakan, yang kemudian disebut sebagai 'jari kaki COVID' yang terkenal.

Jika seorang anak mengalami ruam atau kemerahan yang tidak biasa pada kulit, yang bukan merupakan gejala flu biasa, itu mungkin gejala COVID-19.

Seperti diketahui, jumlah kasus COVID-19 saat ini masih tinggi. Untuk itu, cara yang paling efektif dilakukan untuk mencegah penularan yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu melakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#cucitanganpakaisabun
#jagajarak