Kematian karena COVID-19 di Jawa Timur Tembus 3.899 Orang, Bagaimana Upaya Menekannya?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Jawa Timur masih memiliki pekerjaan rumah menekan angka kematian karena COVID-19. Jumlah kematian karena COVID-19 termasuk tertinggi di Indonesia.

Mengutip infocovid19.jatimprov.go.id, kasus kematian karena COVID-19 bertambah 15 orang pada 8 November 2020. Total kasus kematian karena COVID-19 menjadi 3.899 orang. Angka kematian karena COVID-19 itu 7,14 persen dari total kasus terkonfirmasi positif COVID-19.

Sementara itu, kasus terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 54.631 orang, kasus aktif COVID-19 sebanyak 2.162 orang, dan sembuh 48.570 orang.

Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menuturkan, kondisi Jawa Timur membaik seiring kasus aktif COVID-19 yang turun dan angka kesembuhan meningkat.

Akan tetapi, Windhu menyoroti kasus baru COVID-19 di Jawa Timur masih stagnan. Kondisi tersebut menurut Windhu juga belum aman. Ini menunjukkan penularan COVID-19 di masyarakat masih terjadi.

"Kasus aktif COVID-19 turun agak lega di hilir. Hulu belum turun, kasus baru masih stagnan. Ingat Jawa Timur angka kematian tinggi masih stagnan 7,2 persen, dan tidak turun. Ini dua kali lipat dari nasional. Problem di Jawa Timur kematian dan kasus baru yang stagnan. Seharusnya (kasus baru turun)," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin (9/10/2020).

Windhu menuturkan, Jawa Timur punya pekerjaan rumah menurunkan angka kematian, positivity rate (tingkat positif), dan kasus baru COVID-19.

”PR turunkan positivity rate, kematian, kasus baru, dan tingkatkan jumlah testing dan tracing sekaligus menerapkan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun,” ujar dia.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Upaya Menekan Angka Kematian karena COVID-19

Ilustrasi Virus Corona. (Bola.com/Pixabay)
Ilustrasi Virus Corona. (Bola.com/Pixabay)

Juru Bicara Satgas COVID-19 Jawa Timur, dr Makhyan Jibril juga mengatakan hal sama. Ia mengatakan, menekan angka kematian karena COVID-19 di Jawa Timur menjadi pekerjaan rumah bersama.

"Jadi memang ada fenomena yang cukup menarik, diprediksi juga dapat dilihat persentase kematian cenderung melandai tapi penurunannya lambat," ujar dia.

Ia menuturkan, padahal rumah sakit situasi bed occupancy rate/BOR atau tingkat okupansi tempat tidur relatif aman, BOR ICU 19 persen, BOR isolasi 42 persen, artinya bukan karena rumah sakit penuh.

Dokter Jibril menuturkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian karena COVID-19 di Jawa Timur tinggi. Salah satunya, melihat kasus-kasus di lapangan, ada orang yang sudah kena, berisiko tinggi, dan bergejala, tetapi tidak ke rumah sakit.

"Akibatnya terjadi happy hypoxia, ketika gejala sudah terlanjur berat sudah terlanjur sesak berat, baru berangkat ke rumah sakit. Akhirnya ketika di rumah sakit, kondisinya lebih sulit ditangani," tutur dia.

Ia mengatakan, berbeda dengan orang yang ketika berisiko tinggi terpapar segera dites dan diisolasi, seperti contoh di RS Darurat Indrapura, kematiannya bisa nol persen dengan kesembuhan tembus 2.900 pasien per 6 November 2020.

Dokter Jibril mengatakan, untuk menekan kematian karena COVID-19 tersebut, saat ini fokus dengan pembagian alat-alat canggih seperti high flow nasal canul yang telah dibagikan ke beberapa RS. "200 lebih ventilator telah dibagikan ke RS rujukan COVID-19 bulan lalu," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini