Kematian Kasus COVID-19 di AS Tembus 500 Ribu, Lebih Parah dari 3 Perang

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Washington, D.C. - Kasus kematian COVID-19 di Amerika Serikat tembus 500 ribu. Angka kematian tertinggi berada di California dengan 49 ribu kematian.

Menurut data Johns Hopkins University, Selasa (23/2/2021), total kematian mencapai 500.159. Kematian pertama di AS terjadi pada Februari 2020, lalu empat bulan kemudian mencapai 100 ribu.

AP News menyebut kematian di AS setara dengan jumlah korban kematian di tiga perang: Perang Korea, Perang Vietnam, dan Perang Dunia II.

Selain California, jumlah negara bagian dengan kematian tertinggi adalah New York dengan 46 ribu kematian. University of Washington memprediksi jumlah kematian akan mencapai 589 ribu hingga 1 Juni 2021.

Kasus kematian AS di dunia adalah yang tertinggi di dunia, namun hal itu bisa jadi karena banyak kematian di banyak wilayah dunia yang tidak tercatatkan, terutama saat di awal pandemi.

Berdasarkan data CDC AS, tidak semua jumlah kematian itu akibat COVID-19. Ada ratusan ribu yang terkena penyakit penyerta, seperti 53 ribu juga terkena henti jantung, 72 ribu menderita diabetes, dan 91 ribu disertai hipertensi.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Lebih Parah dari Perang

Seorang wanita berlari joging di dekat Monumen Washington di Washington DC, Amerika Serikat (AS) (16/4/2020). Jumlah kasus COVID-19 di AS menembus angka 650.000 pada Kamis (16/4) pukul 16.00 waktu setempat atau Jumat (17/4) pukul 03.00 WIB, menurut CSSE di Universitas Johns Hopkins. (Xinhua/Liu Jie)
Seorang wanita berlari joging di dekat Monumen Washington di Washington DC, Amerika Serikat (AS) (16/4/2020). Jumlah kasus COVID-19 di AS menembus angka 650.000 pada Kamis (16/4) pukul 16.00 waktu setempat atau Jumat (17/4) pukul 03.00 WIB, menurut CSSE di Universitas Johns Hopkins. (Xinhua/Liu Jie)

Semasa Perang Dunia II, AS mencatat 405 ribu kematian. Di Perang Vietnam ada 58 ribu korban tewas, dan 36 ribu orang kehilangan nyawa di Perang Korea.

Jumlah kematian di berbagai negara bagian AS tidaklah setara. Contohnya, ada 49 ribu orang meninggal di California, tetapi di daerah Alabama, Virginia, Connecticut, Colorado, Minnesota, dan banyak lainnya, jumlah kematian tidak sampai 10 ribu.

California memiliki jumlah kematian yang tinggi meski telah mengambil kebijakan lockdown yang relatif ketat ketimbang negara bagian lainnya.

Saat ini program vaksinasi di AS masih terus berjalan. Angka kematian harian pada Februari 2021 dilaporkan mulai menurun menjadi 1.900, ketimbang bulan sebelumnya yang bisa mencapai 4.000 kematian per hari.

Lawan Hoaks Pandemi Covid-19 dengan Literasi Digital Kritis

Orang-orang berjalan untuk pulang setelah jam kerja di terowongan Kendal, Jakarta, Kamis (7/1/2021). Kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia hari ini pecah rekor dengan tambahan 9.321. Total kasus positif Corona di Tanah Air menjadi 797.723. (merdeka.com/Imam Buhori)
Orang-orang berjalan untuk pulang setelah jam kerja di terowongan Kendal, Jakarta, Kamis (7/1/2021). Kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia hari ini pecah rekor dengan tambahan 9.321. Total kasus positif Corona di Tanah Air menjadi 797.723. (merdeka.com/Imam Buhori)

Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang terus meningkat semakin menimbulkan keresahan di masyarakat. Kondisi tersebut diperparah dengan kemuculan informasi salah dan palsu alias hoaks tentang Covid-19 yang beredar di media sosial, sehingga menciptakan kekhawatiran di tengah masyarkat.

Dilansir dari theconversation.com, Kini, penggunaan alat komputasi seperti bot ikut memperkeruh perdebatan seputar Covid-19 di media sosial. Kenyataannya, persebaran informasi oleh bot selalu melampaui kecepatan informasi yang dibagikan oleh lembaga resmi sehingga pada akhirnya masyarakat lebih cepat terpapar oleh informasi yang tidak benar.

Ini menjadi tantangan baru dalam menghadapi pandemi di era media sosial dan pandemi Covid-19. Usaha menghadapi gempuran infodemi tidak akan efektif jika hanya bergantung pada pemerintah, lembaga kesehatan dan perusahaan digital. Keterlibatan masyarakat secara penuh menjadi suatu keniscayaan.

Maka, konsep literasi digital kritis sebagai lanjutan dari literasi media dan digital dapat menjadi acuan utama dalam menghadapi krisis informasi di tengah pandemi yang belum kunjung berakhir.

Lebih dari sekadar literasi media dan digital yang memampukan pengguna menjadi trampil menggunakan teknologi digital untuk terlibat aktif di dunia maya, konsep literasi digital kritis menganggap perlunya pemahaman mengenai landasan filosofis bagaimana informasi diakses dan diproduksi, serta peran ambivalen media digital di masyarakat.

Kemampuan literasi digital yang kritis menempatkan seseorang sebagai konsumen informasi yang lebih aktif, misalnya mampu menilai konten digital apakah tepercaya atau mengandung bias tertentu.

Memiliki kemampuan literasi digital yang kritis juga berarti memiliki pemahaman yang lebih. Misalnya pemahaman lebih luas tentang ruang digital, bagaimana perusahaan raksasa seperti Facebook dan Google beroperasi dan mendapat laba, dan peluang dan hambatan yang dimiliki internet bagi proses demokrasi dan partisipasi politik.

Pengguna media sosial yang kritis tidak hanya mampu untuk mempertanyakan kebenaran suatu informasi, namun juga akan melakukan aksi nyata memerangi misinformasi.

Infografi COVID-19:

Infografis 5 Tips Cegah Covid-19 Saat Beraktivitas dengan Orang Lain. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 5 Tips Cegah Covid-19 Saat Beraktivitas dengan Orang Lain. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: