Kematian meningkat di Brazil ketika gelombang pandemi menyerang Amerika Latih

Rio de Janeiro (AFP) - Brasil mengalami jumlah kematian akibat virus corona terbanyak pada Selasa, lebih dari empat bulan setelah COVID-19 pertama kali muncul di China, ketika gelombang pandemi mulai menyerang di Amerika Latin.

Lonjakan di Brasil terjadi ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setuju untuk meluncurkan penyelidikan atas penanganan terhadap penyakit itu, yang penyebarannya belum berhenti di seluruh dunia sejak tahun lalu dan telah menyebabkan lebih dari 320.000 orang meninggal dan kegiatan ekonomi hancur berantakan.

Penyakit yang dipandang oleh Presiden Brasil Jair Bolsonaro hanya semacam "flu ringan" itu telah menewaskan 1.179 orang di sana dalam 24 jam terakhir, pertama kali jumlah harian di Brasil yang melebihi angka 1.000.

Infeksi - yang di Brasil merupakan tertinggi ketiga di dunia - juga meningkat dengan jumlah ribuan, dan penyebaran wabah di negara terbesar keenam di dunia itu dikhawatirkan terus meningkat, dan puncaknya diperkirakan setidaknya sampai awal Juni.

Chile juga melaporkan lonjakan kasus, dan mengerahkan tentara di lingkungan kawasan miskin di ibu kota Santiago menyusul protes keras terhadap kekurangan makanan dan pengangguran.

Di AS, prospek pandemi juga masih tetap suram, karena diperkirakan kematian akibat virus ini dapat melampaui angka 113.000 pertengahan Juni yang kian menegaskan status Amerika Serikat sebagai negara yang paling parah terkena pandemi dan menambah tekanan kepada Presiden Donald Trump.

AS telah mencatat lebih dari 91.000 kematian dan 1,5 juta kasus COVID-19, sejauh ini merupakan yang terbanyak di dunia.

Inggris mengalami jumlah kematian tertinggi kedua di lebih dari 41.000 meninggal; sementara Rusia memiliki jumlah infeksi tertinggi kedua, lebih dari 300.000.

Trump dengan keras membela tanggapan pemerintahannya terhadap krisis, berulang kali mengarahkan kesalahan penyebaran virus ke Beijing dan Organisasi Kesehatan Dunia.

Pada hari Senin ia menuduh WHO sebagai "boneka" China, dan mengancam akan membekukan sementara dana AS untuk badan tersebut.

Beijing membalas pada Selasa, ketika kementerian luar negeri negara itu menuduh AS berusaha "menggunakan China sebagai alasan untuk mengelak dari tanggung jawab dan tawar-menawar atas kewajiban internasionalnya kepada WHO".

Rusia juga mengecam ancaman Trump.

"Kami menentang pelanggaran yang ada demi preferensi politik atau geopolitik terhadap suatu negara," kata wakil menteri luar negeri Sergei Ryabkov seperti dikutip oleh kantor berita Interfax.

Uni Eropa juga mendukung WHO, dengan mengatakan itu "bukan waktunya untuk menyalahkan" - menempatkan Brussels sekali lagi dalam posisi berlawanan terhadap Washington ketika menyangkut perlakuan Trump terhadap organisasi internasional itu.

Karena pertikaian yang terjadi bisa mengancam respons global terhadap pandemi, negara-negara anggota WHO mengadopsi resolusi yang menyerukan "evaluasi yang tidak memihak, independen dan komprehensif" dari respons internasional, dan langkah-langkah yang diambil oleh badan tersebut.

Baik Amerika Serikat dan China memberikan suara untuk resolusi tersebut, yang dibawa oleh Uni Eropa pada pertemuan tahunan WHO, meskipun sebelumnya ada kekhawatiran bahwa ketegangan mungkin membuat konsensus penuh menjadi tidak mungkin.

Sementara pertikaian politik terus bergejolak, negara-negara di seluruh dunia berusaha menemukan keseimbangan antara menghidupkan kembali ekonomi mereka dan mengambil resiko akan terjadinya gelombang kedua penyakit ini.

Bank Dunia memperingatkan Selasa bahwa krisis berpotensi membuat sekitar 60 juta orang terperosok ke dalam jurang kemiskinan ekstrem. Bank mengantisipasi kontraksi lima persen dalam ekonomi dunia tahun ini, dengan efek parah pada negara-negara termiskin.

Di AS, Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan ekonomi Amerika berisiko menderita "kerusakan permanen" jika kuncian diterapkan lebih lama. Sementara itu, pembangunan rumah AS anjlok 30 persen.

Data baru juga menunjukkan jumlah pengangguran di Inggris melonjak hampir 70 persen menjadi 1,3 juta dalam tiga bulan hingga Maret.

Kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh virus telah menyebabkan langkah-langkah stimulus darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh pemerintah dan bank sentral, dan yang terbaru datang dari Eropa ketika Perancis dan Jerman mengusulkan dana senilai 500 miliar euro.

Namun, jalan kembali ke kondisi normal seperti akan berjalan lambat.

Para pemain sepak bola di Liga Premier Inggris mulai kembali berlatih secara terbatas pada Selasa, tetapi liga mengalami pukulan ketika muncul berita bahwa ada enam pemain positif.

Salah satu efek dari lockdown ini adalah penurunan emisi dari bahan bakar fosil yang menyebabkan pemanasan global, dengan pengurangan 17 persen secara global dalam polusi karbon pada bulan April dan penurunan yang diprediksi sebesar tujuh persen pada tahun 2020, demikian menurut hasil penelitian Nature Climate Change, Selasa.

Para ahli telah memperingatkan bahwa langkah-langkah jarak sosial yang telah mempengaruhi lebih dari setengah umat manusia akan tetap diperlukan sampai vaksin atau pengobatan yang layak ditemukan.