Kematian Tembus 500 Ribu, Rakyat Brasil Demo Presiden Jair Bolsonari

·Bacaan 2 menit

VIVA – Rakyat Brasil turun ke jalan pada Sabtu waktu setempat untuk memprotes sikap Presiden Jair Bolsonaro dalam penanganan pandemi COVID-19. Salah satu protes yang disuarakan karena Jair tidak tanggap dalam mengupayakan vaksin untuk rakyatnya.

Ribuan orang itu juga mempertanyakan kembali pernyataan Jair soal tidak perlunya memakai masker. Angka kematian di Brasil akibat COVID-19 sudah melampaui 500.000 hingga per Sabtu.

Laporan Kementerian Kesehatan, angka kematian tersebut tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat.

Pemerintah Brasil menuai kritik keras karena melewatkan kesempatan awal untuk membeli vaksin. Pembuat farmasi Pfizer menyampaikan tak mendapat tanggapan soal tawaran menjual vaksin kepada pemerintah Brasil antara Agustus dan November tahun lalu.

“Kami memprotes pemerintah Bolsonaro yang membunuh massal yang tidak membeli vaksin dan tidak melakukan apa pun untuk merawat rakyatnya pada tahun lalu,” kata Aline Rabelo, 36 tahun, saat memprotes di mal nasional di Brasilia yang dikutip dari Antara, Minggu, 20 Juni 2021.

Untuk diketahui, hanya 11% warga Brasil yang sudah divaksin lengkap. Pun, baru 29% warga yang menerima dosis pertama, data Kementerian Kesehatan menunjukkan.

Media Brasil melaporkan protes telah diadakan di 26 negara bagian serta ibu kota Brasilia.

Banyak demonstran menyebut 500.000 orang tewas sebagai bentuk genosida yang dilakukan pemerintah terhadap rakyat Brasil. Mereka berteriak, menabuh genderang, dan mengangkat spanduk yang menuntut Bolsonaro dicopot dari jabatannya.

"Setengah juta (nyawa) alasan untuk menggulingkan Bolsonaro," tulis salah satu pengunjuk rasa di pusat kota Sao Paulo.

Sementara, penyelenggara menjanjikan demonstrasi terbesar di lebih dari 300 kota, pertemuan di Rio de Janeiro dan Brasilia pada Sabtu pagi tampaknya tidak lebih besar dari protes besar terakhir pada 29 Mei.

Protes di Sao Paulo, kota dan pusat keuangan terbesar di Brasil, memblokir jalan raya utama di pusat kota. Saat itu, pengunjuk rasa membentangkan spanduk seukuran blok kota yang menuntut "Kehidupan, Roti, Vaksin, dan Pendidikan." Tidak jelas bagaimana kerumunan dibandingkan dengan protes 29 Mei di sana.

Komite Senat khusus sedang menyelidiki tanggapan pandemi pemerintahan Bolsonaro, menyoroti upaya yang tertunda untuk memperoleh vaksin sambil memprioritaskan perawatan yang belum terbukti untuk COVID-19.

Bulan lalu, sebuah jajak pendapat menunjukkan popularitas Bolsonaro telah melorot ke posisi terendah. Hanya 24% warga Brasil yang mengatakan pemerintahannya baik atau hebat. Jajak pendapat yang sama menunjukkan saingan sayap kiri Bolsonaro, mantan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, akan menang dalam pemilihan putaran kedua jika pemilihan 2022 diadakan hari ini. (Ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel