Kembali cetak ARA, BSBK optimistis prospek saham tetap positif

Emiten properti dan real estate PT Wulandari Bangun Laksana Tbk optimistis prospek saham perseroan tetap positif ke depannya setelah saham BSBK kembali mengalami auto reject atas (ARA) atau naik 35 persen kedua kalinya berturut-turut sejak tercatat di bursa pada Selasa (8/11) kemarin.

Direktur Operasional BSBK Tjia Daniel Wirawan dalam keterangan di Jakarta, Rabu, mengatakan, secara fundamental perseroan menunjukkan performa positif dan daya tahan sebelum dan selama pandemi.

Rasio EBITDA margin BSBK selama tiga tahun terakhir dari 2019 hingga 2021 masing-masing sebesar 3,5 persen, 29,4 persen, dan 494,3 persen. Perseroan juga mencatatkan Return on Assets (ROA) dari 2019 hingga 2021 masing-masing sebesar 7,68 persen, -11,19 persen, serta 55,81 persen.

"Kami optimistis, saham BSBK ke depan sangat menarik untuk investor selain fundamental yang bagus dan berkesinambungan, status perusahaan sedang dalam mode ekspansi, serta prospek pengembangan bisnis juga terbuka lebar ," ujar Tjia.

Perusahaan yang berbasis di Balikpapan, Kalimantan Timur, itu sukses melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui proses penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada Selasa (8/11). Pada saat perdagangan perdana, saham BSBK mengalami auto reject atas (ARA) karena harganya mengalami kenaikan hingga 35 persen. Saat ini saham BSBK berada di level Rp182 per saham.

Dalam aksi korporasi tersebut, BSBK melepas sebanyak 2,75 miliar lembar saham atau 12,09 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan pasca IPO. Adapun harga saham IPO BSBK sebesar Rp100 per saham. Dengan demikian. perseroan berhasil menghimpun dana sekitar Rp275 miliar.

Usai sukses melantai di bursa, BSBK siap memacu kinerja dengan merealisasikan sejumlah rencana bisnis. Perseroan yang berdiri sejak 2005 itu, memiliki dan mengelola kawasan dengan nama Balikpapan Superblock, yang merupakan kawasan komersial terpadu dan hunian dengan luas 14 Hektar.

"Konsep pengembangan kami adalah pengembangan properti berskala besar yang terdiri dari ritel, hunian dan area komersial dalam sebuah kompleks bangunan yang dirancang dengan mengusung tema "One Stop Living"," kata Tjia.

Untuk diketahui, Wulandari Bangun Laksana antara lain telah menjual unit apartemen dan kondotel. Perseroan juga memiliki pusat perbelanjaan yang disewakan bernama Mall Ewalk dan Mall Pentacity Shopping Venue, penyewaan gedung perkantoran yang bernama PAM Tower gedung yang disewakan menjadi hotel bintang 5 yaitu Grand Jatra Hotel, Astara Hotel, dan hotel bintang 2 yaitu J-Icon Hip Hotel.

"Dari semua bisnis yang dijalankan ini, Wulandari Bangun Laksana pada tahun 2019 hingga Maret 2022 mengalami kecenderungan peningkatan yang cukup signifikan. Kenaikan ini terutama disebabkan karena adanya penilaian kembali atas aset tetap dan aset properti investasi yang dimiliki perseroan," ujar Tjia.

Baca juga: Enam perusahaan catatkan saham perdana bareng di BEI
Baca juga: Dana IPO untuk bayar utang, Blibli dinilai jadi fleksibel kelola aset
Baca juga: BSBK alami kelebihan permintaan 25,37 kali saat IPO