Kembalinya berang-berang: Cara mengenalkan lagi predator yang bermanfaat untuk ekosistem

Washington (AFP) - Berang-berang laut pengunyah kerang sudah menjadi pembawa sial untuk keberadaan nelayan sejak dimasukkan ke pantai barat Kanada pada 1970-an - tetapi hasil penelitian terbaru membuktikan berang-berang lebih membawa manfaat ekonomi ketimbang kerugiannya.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Universitas British Columbia dan Universitas Vancouver Island serta diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis.

Penelitian memberikan contoh tentang apa yang mungkin terjadi jika spesies terancam punah lainnya -dari predator-predator di puncak rantai makanan seperti serigala dan hiu, hingga bison herbivora yang dulunya berlimpah besar di dataran besar- dibawa kembali ke habitat aslinya.

Menjelang akhir abad ke-19, berang-berang di Pasifik barat laut diburu hampir sampai titik kepunahan karena adanya permintaan bulu tebal nan mewah - mantel terpadat di dunia hewan, yang digunakan oleh mamalia air untuk insulasi dalam air dingin yang membeku.

Berang-berang memangsa terutama invertebrata seperti kepiting, kerang, dan landak. Jangan tantang makhluk gemuk ini untuk lomba makan, karena setiap hari mereka mengonsumsi sekitar seperempat dari bobot badannya.

Karena berang-berang menghilang, maka industri perikanan kerang pun meledak.

Namun pemerintah Kanada memutuskan untuk memperkenalkan kembali berang-berang pada 1970-an - tanpa berkonsultasi dengan penduduk setempat, termasuk penduduk asli First Nations.

Berang-berang perlahan-lahan melahap sumber utama mata pencaharian nelayan, yang awalnya tampak sebagai contoh buku teks dari pertentangan antara ekologi dan ekonomi.

Tapi itu tidak begitu mudah, kata para penyusun makalah baru itu. Kembalinya berang-berang juga menyebabkan dampak tidak langsung terhadap ekosistem yang dikenal sebagai "kaskada trofik."

Berang-berang memakan landak yang memakan rumput laut di dasar laut. Ukuran hutan alga ini sekarang telah berlipat ganda dibandingkan dengan dua puluh tahun lalu, kata para peneliti.

Dan rumput laut menyediakan habitat pelindung bagi sejumlah spesies ikan seperti ikan haring, yang, pada gilirannya, menguntungkan nelayan.

Tidak hanya itu, rumput laut juga menyerap karbon dioksida, mengurangi pengasaman laut dan jumlah gas rumah kaca di atmosfer.

Manfaat finansial langsung terbesar datang melalui pariwisata.

"Berang-berang laut adalah spesies yang sangat karismatik," kata Russell Markel, rekan penulis makalah yang menjalankan Ekspedisi Pesisir Luar. "Wisatawan senang bisa melihatnya di alam liar dan, yang terpenting, bersedia membayar demi pengalaman ini."

Para penulis studi memperkirakan keuntungan dolar dari memiliki berang-berang laut tujuh kali lebih banyak dibandingkan dengan kerugian yang diderita industri kerang.

"Ketika Anda mengembalikan predator, biasanya kontroversial. Dan pada umumnya ini terjadi karena predator pada akhirnya bersaing dengan manusia guna mendapatkan sumber daya," kata Jane Watson, profesor pada Universitas Vancouver Island.

Tetapi kembalinya hutan rumput laut "meningkatkan produktivitas dekat pantai" dan "menciptakan habitat bagi spesies-spesies yang tergantung kepada rumput laut," kata dia.

"Ekosistem yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia adalah bayang-bayang dari kejayaan mereka sebelumnya, tertahan oleh para pemain ekologis yang hilang tepat ketika berang-berang laut menghilang dari pantai ini selama puluhan tahun," tambah Kai Chan, penulis senior makalah penelitian itu, dari Universitas British Columbia.

"Jadi kita menyaksikan di tempat lain bagaimana memperkenalkan kembali serigala bisa memicu riak manfaat bagi sejumlah besar spesies dan juga bagi manusia di seluruh AS dan bahkan di Eropa," tambah dia.

Bagaimana membawa serigala membantu kembali manusia? Pemusnahan mereka dari Amerika Serikat bagian barat tengah dan timur menguntungkan coyote yang pada gilirannya menyebabkan populasi rubah menjadi berkurang.

Rubah memangsa mamalia-mamalia kecil yang populasinya sudah meledak yang mengantarkan kepada melonjaknya kutu dan penyakit Lyme.

Makalah baru ini menggarisbawahi kebutuhan dalam menganalisis ekosistem secara menyeluruh, daripada melihat semata-mata apa yang dimaksud dengan memperkenalkan kembali predator dalam hal hilangnya ternak.
ico/ia/ch/st