Kembalinya Tiga Jagoan Laga Hollywood

TEMPO.CO , Jakarta:Hollywood selalu mempunyai cara untuk memoles ikon film aksi lawas mereka. Setelah sukses mengajak para penggila film  bernostalgia dengan sederet aktor laga era 90-an dengan film The Expendables (2010) dan sekuelnya The Expendables 2 (2012), para pelaku industri film tampaknya makin percaya diri dengan daya jual bintang-bintang gaek itu. Tak tanggung-tanggung, di awal  tahun ini tiga aktor laga veteran Bruce Willis, Schwarzenneger, Sylvester Stallone kembali bersaing merebut penonton dengan film terbarunya masing-masing.

Mengawali 2013,  Arnold Schwarzenneger tampil sebagai pemeran utama dalam  The Last Stand, sebuah film yang   menceritakan  jaringan mafia kelas kakap narkoba  di perbatasan  Amerika-Mexico. Aktor yang namanya melambung setelah berperan sebagai robot pembunuh dalam Terminator itu berperan sebagai  Ray Owens, sheriff tua yang harus kembali bertugas bertarung melawan gembong narkotika Gabriel Cortez yang jadi buruan FBI .  Dalam film ini,  Schwarzenneger juga dipertemukan kembali dengan  Sonny Landham, lawan mainnya  dalam Predator (1987).

Film yang digarap oleh  sutradara Korea Kim Ji-woon ini sekaligus sebagai tonggak awal kembalinya   aktor berusia 65 tahun itu ke layar lebar setelah absen hampir sepuluh tahun. Film terakhirnya Terminator 3 : Rise Of The Machine dan Around The World in 80 Days . Tak heran bila karakter Ray Owens sepertinya memang sengaja dibuat spesial untuk  Schwarzenneger dan para penggemarnya. Sosok Ray Owens, mengingatkan kita dengan karakter-karakter yang sudah pernah ia perankan sebelumnya, termasuk  cara ia menggunakan memberondong senjata dan quote yang amat melekat, »I'll be back.”

Sayang, entah karena kurang promosi, atau karena akting  bekas gubernur negara bagian California itu  sudah tak segarang dulu, film pertamanya ini kurang sukses di pasaran. Minggu pertama tayang, film tersebut hanya mampu meraup $1,9 juta, perolehan yang sangat rendah untuk ukuran film blockbuster yang biasa diperankannya. Namun, tampaknya Schwarzenneger telah mantap untuk kembali berkarier di dunia film. Setelah The Last Stand,  pada September mendatang Schwarzenneger  kembali berperan  film The Tomb dan  Ten yang rencananya  akan diluncurkan  pada Januari 2014.   Selain itu, Arnold akan berduet kembali dengan Danny DeVito untuk meneruskan film komedi  1988 Twins, dengan judul Triplets.

Seolah tak mau kalah dengan Schwarzenneger, aktor Sylvester Stallone kembali mencoba peruntungannya dalam film laga terbarunya  Bullet to the Head. Dalam Bullet to the Head, Aktor yang masih tetap terlihat prima di usianya yang sudah menginjak 66 tahun ini, akan memerankan seorang pembunuh bayaran asal New Orleans bernama Jimmy Bonomo. Bersama detektif asal New York Taylor Kwong, Bonomo bertekad memburu pembunuh keji bernama Keegan yang telah membunuh teman mereka.

Bullet To The Head  yang diarahkan oleh sutradara Walter Hill ini merupakan  adaptasi  dari cerita komik grafis terkenal yang dibuat oleh komikus asal Prancis, Alexis Nolent. Seperti film-film Stallone sebelumnya,  film ini juga penuh dengan serangkaian adegan berbahaya , mulai dari adegan kejar-kejaran, penembakan, dan perkelahian brutal.

Berbeda dengan Schwarzenneger yang sudah kelihatan rapuh, aktor yang terkenal berkat memerankan karakter jagoan bernama Rambo itu terlihat masih mampu menjaga kondisi fisik tubuhnya hingga masih terlihat kekar. Stallone tampaknya sadar betul jika postur tubuh kekar  berotot adalah aset utamanya sebagai aktor laga. Apalagi Bullet To The Head bukan film aksi laga terakhirnya. Stallone akan tampil lagi dalam film aksi  The Tomb (2013) dan Grudge Match (2014).

Usaha untuk tampil prima juga dilakukan Bruce Willis. Aktor yang juga mengalami masa kejayaan di era 90-an itu kembali berperan sebagai detektif John McClane dalam film A Good Day to Die Hard. Sekuel ke lima dari film Die Hard ini mungkin sudah lama ditunggu-tunggu penggemarnya. Sejak kemunculannya pada 1988, Die Hard dan Willis  telah menyihir jutaan penikmat film laga. Die Hard dan semua sequel film ini- Die Harder (1990),  Die Hard with a Vengeance (1995), Live Free or Die Hard (2007) selalu  merajai tangga box office. Tak heran bila Twentieth Century Fox masih bersemangat untuk melanjutkan serial laris ini.

Tak beda dengan empat serial sebelumnya, film yang disutradarai John Moore ini  masih  menawarkan ketegangan dan aksi gila-gilaan  sang opsir. Dari ledakan dahsyat, adegan baku hantam dan berondongan peluru, hingga kejar-kejaran di jalan raya yang menghancurkan puluhan mobil. Meskipun sudah mulai ngos-ngosan dan kelihatan tua, Willis masih lumayan gesit.

Ceritanya sendiri bisa ditebak, John McLane kembali berada di tempat dan waktu yang salah lagi. Bersama sang anak alias John McLane junior, ia terperangkap diantara konspirasi dua orang teroris Rusia, Yuri Komarov (Sebastian Koch) dan Chagarin (Sergei Kolesnikov) atas kasus kebocoran radiasi nuklir dalam eksperimen mereka di Chernobyl.  Dan seperti biasa,  keberuntungan selalu berpihak pada polisi New York itu.

Sebagai sebuah film laga, The Last Stand, Bullet to the Head, dan  A Good Day to Die Hard  memang tidak menawarkan jalan cerita yang rumit dengan twist di sana sini. Meski demikian, di tengah maraknya film fiksi ilmiah dan superhero  dengan kekuatan yang luar biasa hebat film bergenre aksi  tentang manusia biasa itu mungkin bisa jadi alternatif menarik. Setidaknya mengobati kerinduan penonton pada aktor-aktor laga yang sekarang sudah makin ujur itu. Apalagi hingga saat ini belum muncul aktor laga muda yang berhasil menjadi ikon baru.

NUNUY NURHAYATI

Baca juga

Edisi Khusus: Ayam Kampus

Kecepatan Meteor yang Jatuh di Rusia 54.000 Km/Jam

Beli Rumah, Djoko Susilo Bawa Uang Dibungkus Koran

Ayam Kampus Juga Punya Kode Etik

Tahun ini, Anggun Siap Keluarkan Album Baru

Super Junior Mulai Super Show 5

Aktris Inggris Ini Umumkan Dirinya Pailit

 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.