Kemen PPPA: Jika TPAK perempuan naik PDB naik 135 miliar dolar AS

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA Lenny N. Rosalin mengatakan bila tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan naik, diyakini bisa menaikkan produk domestik bruto sebesar 135 miliar dolar AS.

"Mengutip studi dari McKinsey Global itu menyebutkan kalau kita bisa menaikkan partisipasi angkatan kerja perempuan 3 persen saja, itu PDB Indonesia bisa naik 135 miliar dolar AS. Ini jadi opportunity di sela-sela banyaknya tantangan yang kita hadapi," kata Lenny dalam acara dialog Forum Medan Merdeka Barat 9 dengan tema "Perempuan Berdaya untuk Pulih Bersama", yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, dari data Badan Pusat Statistik 2021, TPAK laki-laki mencapai 82,14 persen, sementara TPAK perempuan baru 54,03 persen.

Kesenjangan ini merupakan tantangan yang harus diatasi bersama. RPJMN 2020-2024 menargetkan angka TPAK perempuan mencapai 55 persen.

"Ini (kesenjangan) hampir 30 persen ya, kita harus mengejar ketertinggalan ini dengan memberikan kesempatan kepada perempuan karena kalau kita bisa memberdayakan perempuan sebetulnya PDB kita bisa naik," katanya.

Baca juga: Pemberdayaan perempuan jadi fokus G20 atasi masalah perempuan anak

Dia mengatakan Indonesia akan mengagendakan konsep care economy untuk dibahas pada pertemuan Ministerial Conference on Women’s Empowerment (MCWE) G20 2022 di Bali pada Agustus mendatang. Pihaknya optimistis care economy dapat menjadi solusi isu kesetaraan gender.

"Bagaimana kalau terjadi kesetaraan di dalam pembagian tugas, baik di keluarga, di tempat kerja, di masyarakat, di ruang publik. Semuanya akan menjadi salah satu solusi ya. Jadi investasi dalam care economy nanti akan menjadi pembahasan di antara 20 negara G20 khususnya para menteri yang menangani pemberdayaan perempuan," kata Lenny.

Baca juga: G20 RI dorong pendekatan "concrete deliverables" agar hidup lebih baik

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel