Kemenag Harap Pemulangan Jemaah Tak Ada Kendala, Termasuk Keterlambatan Penerbangan

Merdeka.com - Merdeka.com - Direktur Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Hilman Latief, melakukan rapat evaluasi bersama seluruh Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) 1443H/2022 Arab Saudi. Rapat membahas tahapan akhir dari penyelenggaraan ibadah haji yakni fase pemulangan.

"Kami seluruh tim melakukan evaluasi menyeluruh di akhir bulan Juli. Karena Insya Allah proses pemulangan jemaah terus berlanjut dan bahkan hari ini sudah masuk 50 persen. 50 Persen lagi akan terus berjalan hingga pertengahan Agustus," kata Hilman kepada tim Media Center Haji (MCH) 2022 di Kantor Urusan Haji (KUH) di Jeddah.

Hilman sangat meminta pemulangan jemaah ke Tanah Air tidak ada hambatan berarti. Apalagi sampai terjadi keterlambatan penerbangan.

"Jangan sampai ada kendala lagi, baik ada keterlambatan, baik ada jemaah pergi kemana-mana tidak ada koordinasi. Intinya dari kementerian ingin jemaah kembali ke Tanah Air dengan sehat dan selamat," katanya.

Meskipun berharap tidak lagi ada keterlambatan, Hilman menginginkan antisipasi tetap dilakukan. Keterlambatan penerbangan pernah dialami empat kloter yang terbang dari Bandara King Abdulaziz International Airport (KAIA), Jeddah.

"Sempat dibahas simulasi-simulasi andaikan ada keterlambatan baik pesawat, itu hal-hal yang sebelumnya tidak sempat terbaca secara detail. Karena ternyata dalam beberapa hal, fasilitas di dalam bandara Jeddah tidak semua sama dengan yang di Madinah. Itu kita antisipasi, kita siapkan tim," jelas Hilman.

Konsekuensi Keterlambatan Penerbangan

Keterlambatan satu penerbangan bukan hanya berdampak pada penerbangan berikutnya. Konsekuensi lainnya bisa merembet pada kebutuhan hotel dan makanan untuk jemaah sambil menunggu jadwal penerbangan berikutnya tiba.

Hilman mengaku terus berkomunikasi dengan pihak airlines sebagai mitra kerja agar benar-benar membuat kepastian soal jadwal penerbangan. Sebab soal jadwal penerbangan sudah tertuang jelang dalam kontrak.

"Itu di dalam kontrak tertuang juga, kalau ada konsekuensi tersebut maskapai provider harus ikut bertanggung jawab. Alhamdulillah untuk di Jeddah kemarin, yang terlambat disediakan hotelnya di Garuda, makannya juga sama," katanya.

Peringatan tegas yang disampaikan pada pihak maskapai, sambung Hilman, semata-mata untuk mencegah kendala serupa di kemudian hari.

"Kita ingin memastikan jadwal terkunci dengan baik," tegas Hilman.

Diskusikan Jatah Air Zamzam Galon buat Jemaah

Dalam kesempatan yang sama, Hilman sempat menyinggung masih banyaknya temuan air zamzam di koper jemaah. Tetapi karena aturan penerbangan, air zamzam tidak bisa dibawa secara mandiri, dan pemerintah sudah menyiapkan 5 liter di debarkasi.

Hilman mengatakan, pihaknya sedang mendiskusikan dengan pihak Saudi bagaimana simulasi yang tepat bila kemudian ada penambahan jatah air zamzam yang dibawa jemaah ke Tanah Air.

"Andaikan ditambah untuk jemaah tahun berikutmya, simulasinya bagaimana. Apakah akan mengambil yang komersial artinya harus beli tapi dapat izin. Atau yang khusus untuk jemaah. Tapi prinsipnya, problem yang paling utama itu adalah shippingnya," katanya.

"Jemaah minta banyak, semuanya juga minta banyak, tapi problem shipping, kalau 10 liter kali 200 ribu jemaah, bisa dihitung. Mungkin gak dibawa?"

Jika memang pihak Saudi menyepakati adanya penambahan, maka Kementerian Agama akan coba menyiapkan simulasinya. Sehingga keinginan bisa membawa zamzam ke Tanah Air lebih dari 5 liter bisa diakomodir.

"Kalau sudah disepakati dan menteri juga berkenan kemudian secara jumlah memungkinkan, Insya allah kami akan membuat simulasinsya dan mana yang lebih proporsional," tutup Hilman. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel