Kemenangan Biden, Apa Dampaknya pada Konglomerat China di Indonesia?

Syahdan Nurdin, GoenardjoadiGoenawan
·Bacaan 1 menit

VIVA - Secara gamblang perbedaan Donald Trump dan Biden, Donald pro kalangan atas, Biden pro rakyat Amerika.

Karena Donald Trump memberi keringanan pajak, perusahaan besar banyak yang beroperasi di Amerika. Dana investasi dari Tiongkok bisa kembali ke Amerika.

Biden menerapkan pajak yang tinggi.

Secara umum, kedaulatan atau kekuasaan presiden Amerika sekarang sudah berkurang, diambil alih oleh World Bank.

Oleh karena itu, dampaknya apa, Biden menang bagi konglomerat Tionghoa? Ya beda tipis.

Sebelumnya sepanjang tahun 2020 World Bank menetapkan target Dana investasi masuk ke Republik Indonesia terbesar dibandingkan negara-negara lain.

Dengan demikian, baik itu Donald Trump atau Biden beda tipis.

Tapi karena Trump sudah lepas dari jabatan, maka bisnis Trump Junior akan lebih difokuskan masuk ke Indonesia. Akibatnya efek kepada konglomerat lebih bergairah.

Dampak bisnis Harry Tanoe setelah Donald Trump kalah.

Bisnis Trump di Indonesia sudah masuk tahun 2019 dengan launching Trump residence di Lido dan Nusa dua Bali.

Trump akan lebih agresif mengurus duitnya di Indonesia bersama Harry tanoe.

Tahun 2013 saat Harry Tanoe masih di Hanura, dia lebih dulu menjadi kadidat capres. Donald Trump menyusul Harry tahun 2016 saat Ahok sibuk didemo 411 dan 212.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membahas tudingan punya utang sekitar US$ 400 juta (Rp 4,8 triliun). Tudingan itu muncul dari bocoran pajak Trump yang disebar oleh The New York Times.

Topik itu menjadi perbincangan pada acara town hall Donald Trump di Miami, Florida. Ketika dikonfrontasi mengenai kabar utang itu, Donald Trump cenderung menghindar dan berkata rasio utangnya lebih kecil dari kemampuannya membayar (underleveraged).

Berdasarkan data Forbes, Donald Trump punya kekayaan US$ 2,5 miliar (Rp 36,7 triliun). Kekayaan Trump terpantau menurun semenjak jadi presiden AS. Namun, hingga kini, Donald Trump adalah presiden AS terkaya sepanjang masa. (Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM, Alumni IPB Teknologi Pangan, dan Magister Manajemen Universitas Indonesia Lulus 1989)