Kemendag angkat potensi sektor jasa RI di TEI-DE

·Bacaan 2 menit

Kementerian Perdagangan berkolaborasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menggelar Virtual Employment Business Forum sebagai bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia Digital Edition (TEI-DE) untuk mengangkat potensi sektor jasa di Indonesia.

"Di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu, salah satu upaya untuk meningkatkan penerimaan negara adalah dengan pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI). Perwakilan RI di luar negeri diharapkan terus mempromosikan PMI kepada pengguna potensial di negara penempatan masing-masing," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Didi Sumedi lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Dalam forum tersebut, Kepala BP2MI Benny Ramdni menyampaikan kondisi ketenagakerjaan Indonesia di tengah pandemi COVID-19.

"Saat ini, Indonesia memiliki angkatan kerja sebesar 127 juta jiwa. Permintaan terhadap pekerja PMI cukup banyak. Selain negara tradisional, BP2MI juga memulai penempatan di negara baru, seperti Jerman untuk tenaga kesehatan Indonesia. Hal ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi PMI untuk penempatan di Eropa," jelas Benny.

Benny mengharapkan seperti TEI yang digelar secara daring, forum bisnis ini juga dapat memfasilitasi terwujudnya berbagai kesepakatan kerja sama penempatan PMI formal di tengah pandemi COVID-19.

"Presiden RI Joko Widodo telah memberi perhatian khusus dalam dua tahun terakhir untuk peningkatan sumber daya manusia melalui program vokasi dan pelatihan. Di dalam negeri, BP2MI telah bekerja sama dengan banyak pemangku kepentingan melalui penandatangan nota kesepahaman dan pemberian fasilitasi lain, termasuk kemudahan bagi calon PMI," jelas Benny.

Hadir sebagai narasumber Duta Besar RI untuk Afrika Selatan Salman Al Farisi, Wakil Duta Besar RI untuk Belanda Freddy Panggabean, dan Fungsi Ekonomi Duta Besar RI untuk Suriname Hanggorono Nurcahyo.

Bertindak sebagai moderator yaitu Direktur Penempatan Kawasan Amerika Dan Pasifik BP2MI Yana Anusasana.

Salman menerangkan terjadi kekurangan tenaga kerja di Afsel. Untuk itu, pemerintah Afsel didorong untuk membuka diri terhadap pekerja migran.

"Afsel banyak membutuhkan profesi seperti insinyur; spesialis teknologi dan informasi; pengajar bahasa asing seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda; spesialis pemasaran dan media, profesional perawatan kesehatan, dan profesional akuntansi," jelas Salman.

Salman juga memberikan gambaran PMI di kawasan Afrika. Menurutnya, banyak PMI merupakan karyawan kantor perwakilan perusaahan Indonesia, pekerja sektor teknologi informasi, pekerja di organisasi internasional seperti UNHCR, dosen, dan misionaris.

Baca juga: Kemendag fasilitasi imbal dagang dengan Meksiko
Baca juga: Hari ketiga TEI-DE bukukan transaksi 802,38 juta dolar AS
Baca juga: Kemendag gelar diskusi tangkap peluang pasar busana di Australia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel