Kemendag Dorong Digitalisasi Layanan Kesehatan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, bekerja sama dengan KBRI New Delhi menggelar forum bisnis Harnessing Digital Economy in India-Indonesia Health Sector Cooperation secara daring, pada Selasa (2/11).

Forum bisnis tersebut dihadiri oleh 72 peserta dan merupakan bagian dari rangkaian pameran dagang tahunan internasional Trade Expo Indonesia ke-36 Digital Edition (TEI-DE).

Digelar secara interaktif daring, TEI-DE berlangsung pada 21 Oktober—4 November 2021, sementara showcase berlangsung hingga 20 Desember 2021.

"Digitalisasi dan integrasi harus terus didorong, termasuk di sektor layanan kesehatan. Selain mengurangi risiko penularan, layanan kesehatan digital juga dapat mendukung pemerataan kesehatan masyarakat. Salah satunya melalui konsultasi kesehatan jarak jauh atau telemedicine," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Didi Sumedi dalam pernyataan terpisah, dikutip dari siaran pers Kemendag, Rabu (3/11/2021).

Sementara itu, Kuasa Usaha Ad Interim KBRI di New Delhi Mochammad Rizki Safary mengatakan, Indonesia dan India telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait kerja sama bilateral di bidang kesehatan pada kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada Mei 2018 lalu.

"Kedua negara bersepakat untuk berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan bahan farmasi aktif (active pharmaceutical ingredients) dan peralatan medis berbasis teknologi informasi," bebernya.

Ditambahkannya, tindak lanjutnya adalah pertemuan joint working group yang digelar Februari 2019 di New Delhi, India. Indonesia mengumpulkan draf rencana aksi implementasi MoU yang termasuk sektor penelitian dan pengembangan dan berbagi pengalaman praktik kedua negara.

Layanan kesehatan digital, menurut Rizki, dapat meningkatkan akses pasien ke layanan kesehatan, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia dan area perdesaan yang infrastruktur kesehatannya tidak banyak tersedia.

Masyarakat kelas menengah cenderung sangat sadar isu health and wellness dan menuntut akses ke pelayanan yang lebih nyaman dan lebih baik. Layanan kesehatan digital mampu menghadirkan layanan yang lebih baik dan terjangkau.

"Terdapat beberapa inisiatif yang digulirkan pemerintah Indonesia untuk membesarkan telemedicine dalam rangka melonggarkan tekanan yang dihadapi rumah sakit. Tren digitalisasi layanan kesehatan juga dipercepat oleh transformasi digital yang berlangsung selama pandemi COVID-19. Diharapkan diskusi dapat membawa ke pemahaman bagaimana Indonesia dan India dapat mengekplorasi berbagai peluang untuk memperdalam kerja sama di bidang kesehatan,” pungkas Rizki.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Industri Kesehatan

Petugas Kesehatan menyiapkan vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) untuk TBC di sebuah Pukesmas di Banda Aceh, Aceh, Senin (15/6/2020). Memasuki tatanan normal baru, pelayanan imunisasi anak kembali dibuka setelah sebelumnya sempat terhenti akibat pandemi COVID-19. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)
Petugas Kesehatan menyiapkan vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) untuk TBC di sebuah Pukesmas di Banda Aceh, Aceh, Senin (15/6/2020). Memasuki tatanan normal baru, pelayanan imunisasi anak kembali dibuka setelah sebelumnya sempat terhenti akibat pandemi COVID-19. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Adapun narasumber yang turut hadir dalam forum Harnessing Digital Economy in India-Indonesia Health Sector Cooperation, yaitu perwakilan PWC India Rana Mehta, perwakilan Kementerian Kesehatan Rico Mardiansyah, Associate Director & Project Director Sanjeevani Sanjay Sood, Commercial Group Head Siloam Hospitals Group Indonesia Amelia Hendra, dan Senior Vice President Tata 1mg Varun Gupta.

Hadir juga Charles Somara, yang bertindak sebagai moderator dalam forum bisnis tersebut.

Dalam kesempatan itu, Rana Mehta menguraikan tantangan industri kesehatan secara umum.

Secara umum, menurut Rana, tantangan industri kesehatan meliputi populasi yang menua, biaya yang semakin mahal, kekurangan tenaga kesehatan terampil, infrastruktur yang tidak memadai, penyakit kronis yang semakin bertambah, akses yang tidak merata, dan meningkatnya kelas menengah.

“Untuk itu, perlu dibangun pondasi untuk kesuksesan telemedicine. Pertama, menciptakan pengalaman virtual yang sebanding dengan pengalaman riil pasien saat konsultasi. Kedua, menggunakan teknologi yang pas. Ketiga, menciptakan regulasi yang kondusif dan dinamis. Keempat, membuat integrasi dengan sistem kesehatan yang lebih besar,” paparnya.

Sementara itu, Rico menyampaikan potensi pasar kesehatan digital.

Diketahui pada tahun 2017, pendapatan layanan kesehatan digital di Indonesia sebesar USD 85 juta. Kemudian pada 2020 lalu, diperkirakan telah mencapai USD 726 juta.

“Dibutuhkan perbaikan layanan kesehatan di Indonesia. Sistem yang lebih baik akan meningkatkan kesehatan masyarakat yang berujung peningkatan ekonomi nasional," pungkas Rico.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel