Kemendag: Dorong Ekspor dengan Produk Bernilai Tambah

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa untuk mendorong peningkatan ekspor Indonesia salah satunya bisa ditempuh dengan melakukan ekspor produk-produk yang memiliki nilai tambah.

"Jika melakukan ekspor produk-produk bernilai tambah, mungkin volume produknya akan tetap, namun akan bernilai lebih," kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Bayu menjelaskan, peningkatan nilai tersebut telah dibuktikan dengan ekspor produk yang memiliki nilai tambah dari kakao, sawit, dan rotan.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, volume ekspor kakao pada periode Januari-Oktober lalu sebesar 141,2 juta ton atau senilai 330,9 juta dolar AS, sementara produk olahan kakao diekspor sebanyak 169,2 juta ton senilai 509,3 juta dolar AS.

Sementara untuk ekspor Crude Palm Oil (CPO) periode Januari-Oktober sebanyak 5,5 juta ton atau senilai 5,3 juta dolar AS, dan untuk produk turunan CPO sebanyak 10,9 juta ton atau senilai 10,8 juta dolar AS.

"Jika hal ini terus dilakukan, maka kita akan memiliki struktur ekspor yang kuat dan lebih baik, karena untuk saat ini ekspor Indonesia masih didominasi dengan komoditi dan bukan barang yang memiliki nilai tambah yang tinggi," kata Bayu.

Namun, lanjut Bayu, untuk pada 2013 ini diharapkan peningkatan tersebut juga bisa diterapkan untuk barang-barang tambang.

"Diharapkan, hal serupa juga bisa diterapkan untuk tambang, karena arahnya juga demikian," ujar Bayu.

Di sisi lain, ungkap Bayu, impor Indonesia terjadi peningkatan untuk bahan baku dan barang modal, yang berarti banyak investasi di dalam negeri dan membutuhkan pasokan bahan baku yang banyak.

"Salah satu contoh adalah pabrik kosmetik yang ada di Indonesia, sebanyak 85 persen bahan bakunya harus diimpor, memang impor kosmetik akan menurun, namun impor bahan bakunya jelas meningkat," kata Bayu.

Bayu mengharapkan dunia industri dalam negeri bisa mengisi kebutuhan bahan baku untuk industri-industri besar tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir pekan lalu mengumumkan total nilai ekspor Indonesia sepanjang 2012 mencapai 190,04 miliar dolar AS, atau turun 6,61 persen dari jumlah nilai pengiriman barang dagangan ke luar negeri pada 2011 sebesar 203,5 miliar dolar AS.

"Secara keseluruhan selama tahun lalu, baik sektor migas maupun nonmigas, merosot yang mengakibatkan terjadi akumulasi penurunan total ekspor," kata Kepala BPS, Suryamin, di Gedung BPS.

Sementara itu, total impor Indonesia selama 2012 mencapai 191,67 miliar dolar AS, meningkat 8,02 persen jika dibandingkan dengan nilai impor pada tahun 2011 yang mencapai 177,44 miliar dolar AS.

Kenaikan total nilai impor, menurut dia, terutama didorong melonjaknya impor migas sebesar 4,58 persen dari 40,71 miliar dolar AS menjadi 42,57 miliar dolar AS, dan impor nonmigas sebesar 9,05 miliar dari 136,73 miliar dolar AS menjadi 149,11 miliar dolar AS.

"Kenaikan impor migas disebabkan peningkatan impor hasil minyak dan gas masing-masing sebesar 1,94 prsen dan 118,17 persen," kata Suryamin.

Adapun kenaikan impor 10 barang nonmigas tertinggi selama 2012 daripada tahun sebelumnya adalah barang dari besi dan baja yang meningkat 36,82 persen dari 3,57 miliar dolar menjadi 4,89 miliar dolar, disusul impor kapal terbang dan bagiannya naik 31,39 persen menjadi 4,4 miliar dolar.

Sementara untuk kendaraan bermotor dan bagiannya naik 28,29 persen menjadi 9,75 miliar dolar.(rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...