Kemendag Pastikan Harga Telur Sudah Kembali Normal

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Harga telur bergerak tidak normal dalam beberapa hari terakhir ini. Dalam beberapa minggu lalu harga telur sempat turun hingga Rp 19 ribu per kilogram (kg). Namun saat ini naik tinggi hingga Rp 26 ribu per kg.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan menjelaskan, perhitungan harga telur saat ini mengikuti skema yang lama yaitu harga bahan dasar untuk peternak, pakan, dan DOC.

"Jadi kalau tidak ada kenaikan, maka kalau DOC di bawah sekitar Rp 6.000, Pakan di bawah Rp 8.500, biaya produksi telur per kg itu sekitar Rp 19 ribu hingga Rp 21 ribu sehingga harga yang normal kalau di pasar itu Rp 24 ribu," terang Oke kepada Liputan6.com, Kamis (17/11/2021).

Kenaikan harga telur ini sebetulnya adalah kembali ke harga normal. Ketika harga telur turun hingga menyentuh Rp 17 ribu di beberapa tempat, sempat menuai keluhan dari peternak karena biaya produksinya lebih dari Rp 17 ribu. Hal ini tentu saja membuat mereka jual rugi.

Saat harga terus anjok, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membantu peternak dengan menurunkan harga jagung pakan menjadi Rp 4.500 dari Rp 6.000. Penurunan ini diharapkan bisa membantu menekan biaya produksi.

"Jadi pada sebelumnya, yaitu bulan lalu, terjadi penurunan tajam. Dari rata-rata dari Rp 24 ribu turun hingga menjadi Rp 15 ribu. Dan sekarang naik tajam lagi kembali ke harga normal sebetulnya yaitu di atas Rp 24 ribu . Namun yang disorot adalah kenaikan tajam itu. Maka telur ini sebenarnya kembali ke harga normal, meski ada naik sedikit Rp 1.000-2.000," jelas Oke.

Harga ini adalah untuk menutupi kerugian mereka (peternak) selama dari bulan Juli sampai beberapa bulan terakhir ini karena terdampak PPKM yang membuat penutupan restoran, dan catering, kata Oke. Sehingga konsumsi telur berkurang dan hanya mengandalkan daya beli masyarakat.

"Maka kita mengambil intervensi untuk mengembalikan telur ke harga normal yaitu Rp. 24.000 ke atas," pungkasnya.

"Jadi sebenarnya (harga telur) itu tidak naik, karena kalau kita lihat dari angka-angka sebelum pandemi dan PPKM, harga telur berada di kisaran tersebut. Ini adalah kenaikan untuk ke harga normal, bahkan dengan biaya produksi di atas Rp 19 ribu - Rp 21 ribu," tambah Oke.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pedagang Sebut Harga Telur Ayam Tak Wajar

Telur ayam dikumpulkan di perternakan kawasan Telaga Kahuripan, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/11/2021). Rendahnya harga telur ayam menyebabkan para peternak di Bogor terpaksa menjual telur ayam di bawah harga pasar, dengan harga Rp 16.000 per kilogram. (merdeka.com/Arie Basuki)
Telur ayam dikumpulkan di perternakan kawasan Telaga Kahuripan, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/11/2021). Rendahnya harga telur ayam menyebabkan para peternak di Bogor terpaksa menjual telur ayam di bawah harga pasar, dengan harga Rp 16.000 per kilogram. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, harga telur naik tak wajar di di pasar tradisional wilayah DKI Jakarta. Saat ini, harga telur berkisar Rp25.000-Rp26.000 per kilogram (kg) dari harga normal di kisaran Rp 20.000-Rp 21.000 per kg.

"Telur itu (harga) normal di kisaran Rp 20.000 an. Tapi kalau sudah di atas Rp 23 ribu, Rp 24 ribu itu sudah tidak normal. Apalagi saat ini sudah di Rp 25 ribu sampai ke atas, artinya kenaikan sudah tidak normal, sudah di luar kewajaran," kata Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri, saat dihubungi Merdeka.com, Selasa (16/11/2021).

Abdullah menduga, kenaikan harga telur ayam tersebut diakibatkan oleh dua faktor. Pertama, tidak adanya keseimbangan antara ketersediaan barang (supply) dengan permintaan(demand) yang tinggi.

"Kedua, mungkin karena faktor distribusi. Seperti cuaca ini yang tidak menentu ini juga bisa jadi pemicu. Akibatnya, harga telur ayam naik tinggi," bebernya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel