Kemendikbudristek optimistis inovasi mahasiswa buat masyarakat maju

·Bacaan 4 menit

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Prof Nizam optimistis inovasi dari mahasiswa yang mengikuti program Bangkit dari Google bisa membuat masyarakat lebih maju.

"Saya tidak ragu Indonesia bisa semakin maju dengan adik-adik yang dahsyat ini, yang berpikir untuk kemajuan masyarakat," kata Nizam di konferensi pers daring Bangkit 2021, Kamis.

Baca juga: Google Melihat Ekonomi Bangkit Kembali

Dia memuji tiga proyek dari 15 proyek akhir Bangkit 2021 yang dipresentasikan dalam konferensi pers, yakni aplikasi BACARA (Bantu Bicara) yang menerjemahkan bahasa isyarat Indonesia secara langsung, aplikasi Buangin untuk mengatasi keterlambatan pengambilan sampah di tengah volume sampah rumah tangga yang meningkat saat pandemi, juga aplikasi Kaki Keenam untuk membantu pedagang kaki lima.

Nizam mengatakan, aplikasi penerjemah bahasa isyarat Indonesia yang dipresentasikan siang ini patut dipuji karena ingin memecahkan kendala komunikasi dengan teman mendengar, teman tuli dan teman bisu.

"Bagaimana membuat bahasa isyarat lebih mudah dipahami dengan mereka yang tidak paham, begitu pula sebaliknya," kata Nizam.

Sebanyak 466 juta orang di dunia memiliki gangguan pendengaran dan 2,9 juta orang di Indonesia merupakan teman tuli dan bisu. Sebanyak 5.000 bayi terlahir bisu setiap tahunnya di Indonesia.

Baca juga: Google luncurkan program pendidikan Bangkit 2021

Sementara itu, Buangin diciptakan atas landasan volume sampah di sektor rumah tangga yang meningkat selama pandemi dan menyebabkan banyak sampah ditinggalkan di jalan. Sekitar 66,8 persen masyarakat masih menangani sampah dengan cara dibakar, hanya 1,2 persen yang peduli terhadap daur ulang sampah.

Aplikasi ini diharapkan bisa membantu mengatasi masalah sampah di kota, terutama di masyarakat urban dari skala terkecil di rumah tangga, serta bisa membantu pemakai memilah sampah organik, anorganik dan beracun.

Aplikasi ini memiliki fitur tempat sampah pintar dengan sensor elektronik yang diletakkan di setiap gang rumah tangga. Tempat sampah pintar ini secara otomatis akan memperbarui status di aplikasi Buangin bila sudah penuh 70 persen, juga menunjukkan arah tempat sampah yang penuh agar bisa segera diangkut.

Nizam mengatakan, selain penjadwalan sampah, nantinya perlu dipikirkan skema lebih besar agar sistem ini bisa membuat kota jadi lebih bersih, sehat dan hijau.

Sementara aplikasi Kaki Keenam merupakan upaya digitalisasi pedagang keliling kaki lima dengan aplikasi Android dan gawai IOT. Kaki Keenam didasari oleh kesadaran bahwa tidak semua pedagang kecil mampu beralih ke metode digital untuk menjangkau orang-orang yang berada di rumah saja. Dengan aplikasi tersebut, masyarakat bisa memanggil pedagang kaki lima ke rumah mereka untuk membawakan makanan yang diinginkan. Dengan membuat gawai IoT, pengembang ingin membantu pedagang yang tidak punya akses internet atau smartphone.

Baca juga: Topik belajar daring meningkat 450 persen dalam pencarian Google

"Lanjutkan terus, jangan berhenti, terus menginspirasi," pesan Nizam.

Hari ini angkatan kedua dari program Bangkit, program dari Google yang dirancang untuk mempersiapkan para mahasiswa dengan keterampilan dan sertifikasi teknologi yang kini sangat dibutuhkan, telah menyelesaikan lebih dari 700 jam kursus untuk setiap mahasiswa yang telah berlangsung selama enam bulan. Tahun 2021, sebanyak 2.250 mahasiswa dari 250 universitas telah menyelesaikan materi kursus selama satu semester, yang bobot studinya setara dengan 20 SKS.

“Syarat agar bisa lulus dari program Bangkit tidaklah mudah. Kurikulumnya sangat menantang, disertai dengan banyak tugas, dan tugas akhir yang sangat mendorong para siswa untuk menerapkan kemampuan barunya,” ucap Managing Director, Google Indonesia, Randy Jusuf.

“Kami sangat bangga kepada semua siswa program ini, yang 30 persennya adalah perempuan dan 70 persennya berasal dari kota-kota kecil di daerah dan wilayah pedesaan dari seluruh Indonesia.”

Google bekerja sama erat dengan pemerintah dan sektor universitas untuk mengembangkan kurikulum Bangkit dan meluncurkannya melalui program Kampus Merdeka. “Kami sangat bangga dengan pencapaian ini, tetapi kami tidak akan mampu melakukannya tanpa dukungan dan dorongan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi,” ucap Randy menambahkan.

Tingkat kelulusan tahun ini 80 persen, lebih tinggi dibanding tahun 2020 ketika Bangkit pertama kali diluncurkan dengan peserta hanya 300 siswa. Tahun ini, berkat kemitraan bersama Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan 15 partner universitas, Bangkit menerima lebih dari 40.000 pendaftaran dari 3.000 lokasi.

“Tingkat kelulusan ini sangat luar biasa dan jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu. Terlebih lagi karena kurikulum tahun ini juga jauh lebih menuntut dibanding tahun lalu,” kata Education Program Lead di Google untuk wilayah Asia Pasifik William Florance.

“Ini merupakan bukti betapa mahasiswa Indonesia punya motivasi yang sangat tinggi ketika diberi kesempatan untuk maju ke tingkat yang lebih tinggi.

Semua peserta program Bangkit diwajibkan mengerjakan tugas akhir kelompok yang terkait dengan salah satu prioritas strategis yang disebutkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial.

Lima belas tim teratas -- diseleksi dari tim-tim lainnya dan dipilih oleh panel juri ahli dari bidang akademis, teknologi, dan bisnis -- akan menerima dolar AS 5.000 dari Google, dan jika lulus penilaian oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dapat menerima 5.000 dolar AS tambahan untuk menyelesaikan proyeknya.

Bursa kerja virtual selama satu bulan untuk para lulusan ini akan dimulai pada 26 Juli. Para penyedia lapangan kerja yang tergabung dalam Konsorsium Perekrutan Bangkit termasuk Wings Group, Bank BTPN, Fazz Financial, Kalbe Farma, Tokopedia, Gojek, Ruangguru, dan masih banyak lagi, mereka akan memprioritaskan para lulusan baru ini dalam ratusan lowongan pekerjaan dan kesempatan magang.


Baca juga: Akademi Edukreator 2021 resmi dihelat dengan kelas-kelas baru

Baca juga: Google segera setop Play Services untuk Android Jelly Bean

Baca juga: Google Calendar akan dilengkapi fitur konfirmasi acara virtual

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel