Kemendikbudristek promosikan kearifan Bali kepada anggota ASEAN

Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia mempromosikan kearifan lokal Bali kepada anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) jelang puncak Konferensi Tingkat Tinggi G20.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kemendikbudristek Fitra Arda sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Denpasar Bali, Selasa menyatakan tema yang diangkat dalam "Natural Dyes of ASEAN Workshop" bersama Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara salah satunya adalah promosi kearifan lokal sebagai jalan kebudayaan untuk hidup yang berkelanjutan.

Fitra Arda mengatakan dengan hadirnya puluhan perwakilan negara ASEAN yang berlatar belakang kebudayaan tersebut, Indonesia menjadi contoh pelaksanaan memberdayakan ekosistem kebudayaan, ketahanan budaya dan kontribusi kebudayaan dalam dunia internasional dengan konsep sustainabelity culture.

Ia berharap dari forum kebudayaan tersebut muncul resolusi yang dapat memperkuat ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan seperti penguatan ekosistem pewarna alami.


Baca juga: Kanim Bali kenalkan kearifan lokal pada delegasi G20

Baca juga: Delegasi asing GPDRR belajar kearifan lokal Bali hadapi bencana


Fitra Arda mengatakan forum ini juga diharapkan menjadi edukasi kepada generasi milenial agar menggali dan mewariskan pengetahuan, serta mempromosikan kearifan lokal yang memperhatikan aspek keseimbangan lingkungan.

"Kita berkumpul di Bali dalam rangka memperkenalkan kearifan lokal kepada dunia, khususnya para peserta ASEAN. Selain itu, meningkatkan kesadaran bahwa material dan kearifan lokal itu penting kita lestarikan, untuk memupuk kreativitas dan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Dalam hal seni dan budaya, terutama di bidang kebutuhan sandang atau mode pakaian yang ramah lingkungan," katanya.

Fitra menjelaskan ada beberapa kegiatan yang dilakukan delegasi ASEAN pada 7-11 November di Bali salahnya mengunjungi dan mengikuti kegiatan perajin di Bali dimana mereka akan belajar dan mengenal bagaimana penggunaan pewarna alam dalam berbagai kerajinan tekstil.

Selain itu, menurut Fitra kegiatan ini sangat diperlukan untuk mendorong warisan budaya di negara-negara anggota ASEAN untuk dilestarikan, dikembangkan dan dipromosikan lebih lanjut.

"Dengan menggali kembali tradisi budaya pewarna alam dapat memberikan potensi untuk membudidayakan berbagai tanaman yang menjadi sumber pewarna, sehingga menghidupkan kembali rantai nilai dari pertanian, daya dukung alam, kerajinan serta industri pariwisata," kata dia.

Dia berharap"Natural Dyes of ASEAN Workshop" sebagai kegiatan yang penting sebagai jalan kebudayaan untuk hidup yang berkelanjutan.

"Utamanya kita dapat meningkatkan saling pengertian dan kolaborasi antara negara-negara Anggota ASEAN melalui pertukaran ide dan konsultasi, yang mengarah pada komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan program kerja sama, sebagaimana juga mengadopsi kehidupan yang berkelanjutan, khususnya dalam tekstil kerajinan tradisional dan kontemporer," kata dia.

Baca juga: Kearifan Tumpek Wayang dan Bali mandiri energi untuk G20