KemenESDM: Program subtitusi biomassa dongkrak bauran EBT 1,8 persen

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim program substitusi biomassa atau co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara akan meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 1,8 persen.

"Program co-firing ini akan meningkatkan bauran EBT sekitar 1,8 persen melalui substitusi sebagian batu bara dengan biomassa sampai dengan kurang lebih 10 persen," kata Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Selasa.

Pemerintah Indonesia menggunakan biomassa sebagai substitusi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara untuk mempercepat pemanfaatan EBT menuju target 23 persen pada tahun 2025. Program co-firing sejalan dengan upaya Indonesia menuju target netralitas karbon pada tahun 2060.

Kementerian ESDM memproyeksikan kebutuhan biomassa untuk co-firing sekitar 10,2 juta ton per tahun pada 2025 dan implementasi program itu akan memberikan dampak terhadap penurunan emisi sekitar 11 juta ton karbondioksida.

Edi menyampaikan co-firing tak hanya meningkatkan kontribusi EBT pada bauran energi nasional, tetapi juga berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan.

Baca juga: Transisi energi, Dewan Energi Nasional dukung program "Co-firing" PLN

“Program co-firing merupakan bagian dari ekosistem listrik kerakyatan dan land preservation program yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan biomassa, sehingga sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi setempat karena membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah,” jelas Edi.

Pada 2022 target pemanfaatan biomassa sebanyak 450 ribu ton yang akan menghasilkan produksi energi hijau sebesar 334 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 340 ribu ton karbondioksida.

Hingga April 2022 realisasi co-firing telah sebanyak 175 ribu ton biomassa dan menghasilkan produk energi hijau sebesar 185 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 184 ribu ton karbondioksida.

Edi mengungkapkan hingga saat ini PLN telah berhasil melakukan implementasi pencampuran biomassa dengan batu bara pada 31 lokasi dari target 35 lokasi di tahun 2022. Dalam waktu dekat PLTU Air Anyir berkapasitas 2x30 megawatt sebagai unit pembangkitan utama di Pulau Bangka akan turut aktif dalam menerapkan program co-firing biomassa tersebut.

Baca juga: PLN pakai bahan bakar biomassa di 28 PLTU

PLN sudah menjalin kontrak untuk penyediaan woodchip pada PLTU Air Anyir sebesar 15.000 ton untuk periode satu tahun dan direncanakan pengiriman perdana ke unit pada Juli 2022 mendatang.

PLTU Air Anyir telah melakukan uji bakar menggunakan woodchip 5,0 persen dengan hasil aman dan memenuhi parameter desain pada 19 April 2021. Pengujian dilakukan pada beban kotor 25 megawatt dengan menggunakan 36 ton biomassa dengan hasil secara umum kondisi semua parameter boiler dan operasi normal.

Sebagai langkah strategis menjaga kontinuitas pasokan biomassa, PLN telah mengupayakan penyediaan bahan baku dari berbagai sumber antara lain melalui pemanfaatan lahan tanaman energi, pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan, pemanfaatan lahan kering, serta pemanfaatan sampah.

“Untuk mempercepat implementasi co-firing biomassa pada PLTU, Kementerian ESDM telah melakukan penyusunan Peraturan Menteri ESDM tentang pemanfaatan biomassa sebagai campuran bahan bakar pada PLTU yang saat ini telah memasuki tahap harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM,” pungkas Edi.

Baca juga: Dirjen EBTKE: Pajak karbon PLTU tingkatkan pemanfaatan energi bersih

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel