Kemenhub berdayakan tol laut untuk tingkatkan perekonomian masyarakat

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut memberdayakan seluruh potensi transportasi laut dan infrastruktur pelabuhan untuk dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Kami akan terus memberikan pelayanan terbaik untuk memperkuat sektor maritim guna mewujudkan ekonomi masyarakat yang lebih baik terutama di wilayah Timur Indonesia, salah satunya dengan program tol laut," kata Direktur Jenderal Perhubungan Laut Arif Toha di Jakarta, Kamis.

Arif mengatakan pelaksanaan tol laut telah memberikan kontribusi dan manfaat khususnya dalam menekan angka disparitas harga, serta meningkatkan pemerataan ekonomi antara wilayah barat dengan wilayah timur Indonesia.

Ia menjelaskan program tol laut memiliki 33 trayek yang dilayani dengan mengoperasikan 32 kapal dengan menyinggahi 130 pelabuhan untuk mendistribusikan barang, menjaga ketersediaan barang, dan turut menggali potensi unggulan daerah yang bisa didistribusikan ke luar daerah tersebut.

"Muatan berangkat terbanyak yang diangkut oleh kapal tol laut di antaranya semen, beras, air mineral, dan minuman ringan. Sedangkan komoditi muatan balik terbanyak di antaranya adalah kayu, kopra, rumput laut, batang pohon kelapa, dan arang," ujarnya.

Selanjutnya, Kemenhub juga telah melakukan inovasi dan terobosan dalam rangka Ketahanan Pangan Nasional, salah satunya dengan membuat pola perdagangan baru dari wilayah pusat pangan baru (food estate) seperti Merauke ke wilayah Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Pada pelaksanaannya, saat ini program tol laut juga telah didukung oleh aplikasi yang mempermudah pelaku usaha dalam melakukan proses pemesanan hingga pengiriman barang.

“Kami juga melakukan kerjasama melalui aplikasi SITOLAUT dengan BRISTORE dengan sistem end to end user untuk memberikan kemudahan dan memperlancar distribusi dan sistem pembayaran ke masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut Arif menyampaikan, program tol laut berhasil dilakukan di Provinsi Maluku dan Maluku Utara, yang saat ini dilalui oleh 10 trayek tol laut dengan menyinggahi 28 pelabuhan.

Adapun jumlah muatan berangkat maupun muatan balik yang cukup besar pada tahun 2022, di mana sampai dengan akhir bulan Agustus sudah mencapai 9.009 TEUs, dengan rincian 6.585 TEUs muatan berangkat menuju Provinsi Maluku dan Maluku Utara, dan 2.424 TEUs muatan balik dari Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Ia menyebutkan jumlah tersebut akan terus bertambah sampai dengan akhir tahun 2022.

Jika dibandingkan dengan tahun 2021, di mana muatan dengan menggunakan tol laut di kedua provinsi tersebut hanya 7.876 TEUs, dengan rincian 5.146 TEUs muatan berangkat dan 2.730 TEUs muatan balik.

Ia menegaskan keberhasilan program tol laut ini tidak lepas dari subsidi yang diberikan pemerintah sehingga tarif angkutan barang dengan kapal tol laut lebih murah dibandingkan dengan tarif kapal komersil.

Saat ini sudah terjadi disparitas harga yang semakin mengecil antara harga Barang Kebutuhan Pokok dan Penting (Bapokting) di wilayah asal barang atau Hub (Jakarta, Surabaya dan Makassar) dibandingkan di wilayah-wilayah yang menjadi hinterland dari pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi oleh kapal-kapal tol laut.

Beberapa contoh disparitas harga di beberapa wilayah di Maluku dan Maluku Utara, menurut data dari Kementerian Perdagangan, di antaranya harga minyak goreng di Surabaya Rp17.600 per liter, harga di Kepulauan Tidore sebesar Rp20.000; harga semen di Surabaya sebesar Rp54.800 per sak, harga di Morowali sebesar Rp60.000; dan harga tepung terigu di Surabaya sebesar Rp9.700 per kg, harga di Buru Selatan sebesar Rp10.000 per kg.

"Contoh-contoh tersebut menunjukkan disparitas harga yang relatif kecil. Hal ini menjadi salah satu indikator keberhasilan tol laut," pungkasnya.


Baca juga: Optimalisasi tol laut dukung distribusi barang
Baca juga: Setelah vakum dua tahun, kapal tol laut kembali bersandar di Bintan
Baca juga: Pelni berharap pengusaha Jabar manfaatkan tol laut Pelabuhan Patimban