Kemenkes: 30 Persen Masyarakat Masih Ragu Divaksinasi Covid-19

·Bacaan 3 menit
Warga lansia saat disuntik vaksin COVID-19 di SDN 05 Penggilingan, Jakarta, Kamis (25/2/2021). Pemerintah berharap vaksinasi tahap kedua terhadap lansia selesai pada Mei 2021 guna menekan penyebaran COVID-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan masih ada 7 persen masyarakat yang menyatakan tidak mau disuntik vaksin Covid-19, sementara itu 30 persennya masih ragu untuk menerima vaksinasi Covid-19.

Nadia mengatakan, keraguan untuk divaksinasi covid-19 tersebut timbul karena berbagai motif dan alasan. Mulai dari sikap yang tidak percaya dengan pemerintah, hingga banyaknya hoaks yang beredar di masyarakat.

"Masih ada 30 persen masyarakat yang ragu divaksin dan 7 persen yang tidak mau divaksin. Ini menjadi tantangan kita untuk memastikan vaksinasi bisa tercapai," kata Nadia dalam forum diskusi virtual yang disiarkan di youtube Alinea, Rabu (17/3/2021).

Nadia menyebutkan, berdasarkan catatan Kominfo per 1 Maret 2021, ada 1.459 hoaks mengenai Covid-19 yang beredar di media sosial. Oleh karena itu, dia meminta masyarakat untuk mengakses informasi mengenai vaksinasi melalui website resmi Kemenkes atau Satgas Covid-19, dan tidak percaya dengan pesan berantai yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya seperti yang kerap kali ditemukan di whatsapp.

Nadia juga melihat, alasan masyarakat yang masih ragu divaksin juga dikarenakan mereka mempermasalahkan efikasi vaksin yang digunakan Indonesia saat ini. Seperti diketahui, vaksin yang dipesan dan digunakan Indonesia pertama kali yakni vaksin Sinovac dari China, yang mana efikasinya 65,3 persen.

"Tidak perlu memilih vaksin mana yang efikasinya lebih baik. Efikasi kan hasil yang didapatkan dari uji klinis tahap ketiga, dan ada banyak faktor-faktor lain yang dikendalikan," pesannya.

Seperti yang diketahui, selain Sinovac, Indonesia juga memesan 5 merk vaksin lainnya dengan efikasi yang beragam, rata-rata efikasi vaksin tersebut 90 persen. Kelima vaksin itu yakni Sinopharm dari China, Pfizer dari Jerman. Moderna dan Novavax dari Amerika, serta vaksin AstraZeneca dari Inggris yang mana 1,1 juta dosisnya sudah tiba di Indonesia pada 8 Maret lalu.

Dapat Izin Edar

Oleh karena itu, dia meminta masyarakat untuk tidak menunda jika mendapatkan kesempatan untuk divaksinasi. Menurutnya, menunda disuntik vaksin bukanlah hal yang bijak, karena hal itu sama saja membiarkan diri sendiri lebih berisiko terpapar Covid-19.

"Misalnya kita baru mau divaksin dengan vaksin yang datang di bulan September, berarti sampai September, kita biarkan diri kita terpapar Covid-19," kata dia.

"Sebenarnya apa pun merk vaksinnya, yang terpenting itu manfaatnya. Vaksin Sinovac menurunkan jumlah kejadian infeksi hingga 65,3 persen. Orang yang tidak divaksin Sinovac berisiko terinfeksi Covid-19 3 kali lebih tinggi daripada mereka yang divaksin," kata Nadia menjelaskan.

Nadia kembali menegaskan bahwa seluruh vaksin yang sudah mendapatkan izin edar darurat dari BPOM, tandanya telah memenuhi syarat untuk bisa digunakan oleh manusia dan terbukti bisa memberikan perlindungan atau antibodi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof Amin Soebandrio mengungkapkan bahwa waktu pembentukan herd immunity erat kaitannya dengan efikasi vaksin, waktu proteksi vaksin, dan jumlah populasi yang divaksin.

Berdasarkan pengalaman wabah penyakit sebelumnya, Amin menyebutkan, jika efikasi vaksin dan waktu proteksi vaksin rendah, maka jumlah populasi yang divaksin harus lebih tinggi atau harus cepat terpenuhi. Begitu pula sebaliknya.

“Kita suka nanya, kalau sudah disuntik vaksin apakah saya punya proteksi dan berapa lama proteksinya bertahan? Kita harus lihat dulu durasi proteksinya berapa lama, lalu efikasinya, dan sudah berapa persentase populasi yang sudah divaksin?”

Oleh sebab itu, kata Amin, semakin cepat seluruh target populasi divaksin, maka semakin cepat pula herd immunity terbentuk. Untuk itu, dia mendorong masyarakat agar mendukung program vaksinasi pemerintah dengan tidak menunda-nunda disuntik vaksin Covid-19.

Reporter: Rifa Yusya Adilah

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: