Kemenkes: Deteksi dini faktor risiko untuk ibu hamil belum optimal

·Bacaan 2 menit

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Erna Mulati mengatakan deteksi dini pada faktor risiko untuk ibu hamil yang saat ini dimiliki oleh Indonesia belum mampu berjalan secara optimal.

“Beberapa kendala yang kita hadapi dalam melakukan deteksi dini faktor risiko sampai saat ini belum optimal,” kata Erna dalam dalam Webinar Selamatkan Perempuan Indonesia yang diikuti di Jakarta, Rabu.

Erna menjelaskan bahwa faktor-faktor risiko persalinan mulai dari fase sebelum dan saat hamil sangat penting untuk dideteksi lebih dini. Berdasarkan dari hasil data yang pihaknya miliki, sebesar 85 persen ibu hamil sudah mendapatkan pelayanan dengan melakukan kunjungan antenatal (ANC) minimal empat kali.

Namun dari besarnya jumlah tersebut, hanya terdapat 2,7 persen ibu hamil yang mendapatkan pelayanan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Sedangkan sebanyak 84 persen melakukan pemeriksaan dengan bidan yang tidak memiliki standar kompetensi dan kewenangan untuk mendeteksi penyakit penyerta dan non-obstetri.

Seperti penyakit jantung, tuberculosis, autoimun, HIV maupun diabetes mellitus. Menyebabkan komplikasi akibat non-obstetrik menjadi penyebab angka kematian ibu (AKI) ketiga tertinggi di Indonesia.

Baca juga: Pentingnya deteksi dini untuk mengetahui preeklamsia pada ibu hamil

Baca juga: Akademisi: Pemenuhan gizi calon ibu hamil mencegah risiko stunting

Menurut Erna, tidak berjalan secara optimalnya deteksi dini itu, kemudian menyebabkan 76 persen kematian ibu terjadi di fase persalinan dan pasca persalinan.

Dengan rincian sebanyak 36 persen meninggal pada masa persalinan karena pendarahan, mengalami rupture uterus maupun hipertensi dan 40 persen ibu dinyatakan meninggal pada masa persalinan karena mengalami infeksi, pendarahan maupun komplikasi obstetrik dan non-obstetrik.

Menyadari penting untuk segera meningkatkan kemampuan deteksi dini tersebut, dia mengatakan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan melalui peningkatan kemampuan bidan baik melalui pelatihan deteksi penyakit penyerta atau non-obstetrik.

Pihaknya turut memperluas kolaborasi tidak hanya dengan dokter umum tetapi juga dokter kandungan lainnya, serta meningkatkan peran dari rumah sakit angkatan milik TNI dan Polri untuk meningkatkan pelayanan antenatal dan neonatal.

“Kita berusaha agar masyarakat semakin peduli, agar mereka betul-betul dalam kondisi ideal untuk hamil dan sehat. Baik calon pengantin maupun wanita pasangan usia subur, sehingga mereka dalam kondisi yang layak hamil,” tegas Erna.

Baca juga: Ibu hamil dengan risiko tinggi banyak tidak tertangani di rs

Baca juga: Hamil di atas 30 tahun tingkatkan risiko diabetes dalam kehamilan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel