Kemenkes harap tes antigen mandiri tidak untuk hindari status hitam

Kementerian Kesehatan mengharapkan tes antigen COVID-19 yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat tidak untuk menghindari status PeduliLindungi berwarna hitam.

"Ini kan untuk kita bersama. Jangan lagi mencoba untuk mengakali atau menyiasati agar bisa terbang, itu tidak baik. Jujurlah pada diri kita sendiri," ujar Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril dalam bincang-bincang yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Ia meminta agar tes mandiri COVID-19 tidak disalahgunakan oleh masyarakat agar dapat melakukan aktivitas, termasuk melakukan perjalanan.

Ia juga berharap agar tes antigen yang dapat dibeli oleh masyarakat dapat dijadikan sebagai upaya pencegahan dini untuk menghindari penularan semakin luas.

"Kita jujurlah, gunakan secara bijak," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Syahril juga meminta kepada masyarakat untuk tetap disiplin protokol kesehatan untuk mencegah kenaikan kasus menyusul adanya subvarian baru Omicron seperti BA.4, BA.5, dan BA.2.75.

"Intinya dengan adanya subvarian baru ada kecenderungan meningkat," katanya.

Baca juga: Ahli nilai pemberian dosis penguat kedua bagi nakes langkah tepat

Saat ini, lanjut dia, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 masih berfluktuasi, ini menunjukkan masih ada ancaman bagi masyarakat.

"Risiko ini perlu diedukasikan kepada masyarakat," katanya.

Ia mengharapkan, prediksi kenaikan kasus hingga mencapai 20.000-an tidak terjadi seiring pelaksanaan protokol kesehatan dan meningkatnya cakupan vaksinasi di masyarakat.

"Prediksi hingga mencapai 20.000 kasus bisa saja tidak tepat karena intervensi kita bagus, kedisiplinan protokol kesehatan kita tingkatkan, vaksinasi kita tingkatkan yang akhirnya penularannya tidak tinggi. Tapi tetap risikonya tetap ada, ini tanggung jawab bersama," tuturnya.

Sebelumnya, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengajak masyarakat untuk berperan aktif mencegah lonjakan kasus COVID-19 dengan cara memakai masker dan melengkapi diri dengan vaksinasi hingga dosis penguat.

"Memakai masker dan protokol kesehatan lainnya serta diiringi dengan vaksinasi 'booster' (penguat) dapat mencegah lonjakan kasus COVID-19," katanya.

Baca juga: 56,1 juta penduduk Indonesia mendapatkan vaksinasi dosis penguat
Baca juga: Perawat penerima vaksin booster kedua separuh dari 1,9 juta nakes

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel