Kemenkes Kembali Datangkan 70 Vial Obat Penawar Gangguan Ginjal Akut dari AS

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimpor 70 vial obat penawar atau antidotum untuk Gangguan Ginjal Akut Atipikal Progresif (GgGAPA) Fomepizole dari Amerika Serikat. Pemerintah sebelumnya telah mengimpor 200 vial Fomepizole dari Singapura, Jepang dan Australia.

"Kita beli untuk stok emergency. Enggak banyak, cuma 70 vial," kata Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Rizka Andalucia kepada wartawan saat ditemui di ICE BSD, Banten, Kamis (3/11).

Menurut dia, kondisi pasien gagal ginjal akut yang diberi fomepizole menunjukkan hasil membaik. Penggunaan obat itu masih dilakukan kepada anak-anak.

"Terapi dengan Fomepizole masih dilakukan pada anak-anak yang sekarang sedang dirawat dan hasilnya Alhamdulillah baik," kata Rizka.

Dia mengatakan, jumlah obat penawar disediakan akan disesuaikan kebutuhan. Rizka memastikan pemerintah akan berusaha menyediakan obat penawar tersebut dari pelbagai pihak.

"Untuk mengadakan lagi, kita lihat kebutuhannya. Kemarin kan ada 246 (vial) donasi dan yang kita beli. Masih cukup sampai saat ini, tapi akan kita stok untuk kasus emergency," ujar dia.

Rizka mengatakan, kasus gagal ginjal akut semakin menurun. Dia berharap tak ada lagi penambahan kasus gagal ginjal akut.

"Kita sudah tidak berharap lagi ya ada kejadian (penambahan kasus) tersebut ya, dan Ahamdulillah dalam waktu satu minggu ini, kasusnya sudah sangat-sangat decline. Bisa dibilang hampir tidak ada ya," ujar dia.

Indonesia Belum Produksi Obat Gagal Ginjal Akut

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menceritakan 'perburuan' mencari obat Fomepizole untuk pasien gagal ginjal akut atau Gangguan Ginjal Akut Atipikal Progresif (GgGAPA). Sebab, Indonesia tidak memproduksi obat tersebut.

"Kita langsung mencari karena di Indonesia enggak ada obatnya ya. Kita lihat ada di Singapura akhirnya bisa beli 30 vial dari Singapura."

Obat Fomepizole dari Singapura ini sebenarnya stok darurat yang dimiliki. Dalam hal ini, Singapura mempunyai cadangan stok obat darurat nasional atau yang disebut National Emergency Stock.

"Saya telepon Menteri Kesehatan Singapura, rupanya Fomepizole ini termasuk obat cadangan mereka. Mereka memiliki obat-obat cadangan, National Emergency Stock. Jadi, kita harus ambil dari National Emergency Stock mereka," ucap Menkes Budi Gunadi.

"Karena saya punya hubungan pribadi (dengan Menkes Singapura), kita bisa telepon dan dikasih 30 vial, tapi mesti beli gitu ya."

Tak hanya dari Singapura, Budi Gunadi Sadikin juga menelepon Menteri Kesehatan Australia. Stok Fomepizole di sana ternyata cukup banyak sehingga Australia memberikan donasi.

"Kemudian telepon Menteri Kesehatan Australia, kita dikasih 16 vial ya, ini donasi. Yang terakhir, kebetulan minggu lalu ada Meeting G20, jadi bisa ketemu sama teman-teman dari Jepang dan Kanada," ucapnya.

"Akhirnya minta juga ke mereka, dikasih 200 vial (dari Jepang) dan cepat. Sekarang sudah datang juga itu. Karena pasien kita sekarang sudah menurun drastis, tinggal 34 pasien, mungkin sudah 30 pasien ya, turun drastis. Ya cukuplah, karena dibutuhkan satu sampai dua ampul per pasien."

Dari Australia, Indonesia mendapat donasi 16 vial Fomepizole. Obat ini juga sudah datang.

Untuk tambahan stok obat Fomepizole, Menkes Budi Gunadi pun melirik Amerika Serikat (AS). Di sana, stok obat sangat banyak dan merupakan sumber produksi Fomepizole.

Rencana Fomepizole yang akan dibeli dari AS sejumlah 70 vial. Perkiraan kedatangan pada minggu keempat November 2022.

"Kita sekarang juga sudah melihat sumbernya dari Amerika, mungkin kita beli lagi untuk mencapai (stok) ke level tertentu. Karena sudah terbukti, orang yang dikasih ini sembuh ya," kata dia. [gil]