Kemenkes-Kemendikbudristek akselerasi pemenuhan jumlah dokter

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengakselerasi pemenuhan dokter di Indonesia sesuai standar jumlah yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO).

Dilansir dari siaran pers Biro Humas Kemenkes RI di Jakarta, Selasa, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebutuhan dokter di Indonesia masih di bawah standar WHO 1/1.000 penduduk.

"Saat ini jumlah dokter yang dibutuhkan di Indonesia sekitar 270 ribu, sementara saat ini baru ada sebanyak 140 ribu. Artinya masih ada kekurangan dokter sebanyak 130 ribu," ujarnya.

Kondisinya jumlah lulusan dokter di Indonesia per tahun hanya 12 ribu. Setidaknya butuh 10 tahun bahkan lebih untuk mengejar ketertinggalan jumlah dokter minimal sesuai standar WHO untuk melayani 270 juta masyarakat Indonesia, kata Budi.

"Transformasi kesehatan bikin manusia Indonesia sehat, di antaranya dengan pemenuhan dokter. WHO merekomendasikan pemenuhan dokter 1/1.000 populasi masyarakat Indonesia," katanya.

Baca juga: Pemerintah targetkan penuhi kebutuhan dokter untuk 728 Puskesmas

Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan untuk akselerasi pemenuhan SDM dokter di Indonesia perlu inisiatif transformasi yang lebih besar melalui peningkatan kapasitas fakultas kedokteran, menghasilkan dokter, dan dokter spesialis untuk memperkuat layanan primer, sekunder, dan tersier.

"Hal itu sedang kami upayakan oleh komite bersama Kemendikbudristek dan Kemenkes melalui sistem kesehatan akademik yang mengedepankan kolaborasi pendidikan," katanya.

Salah satu yang disepakati adalah peningkatan kuota penerimaan mahasiswa sarjana kedokteran. Nadiem menilai itu adalah prinsip dasar perubahan transformasi kesehatan.

Sebagai tindak lanjut, telah dilakukan penandatanganan Surat Keputusan Bersama tentang Peningkatan Kuota Penerimaan Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran, Program Dokter Spesialis, dan Penambahan Program Studi Dokter Spesialis melalui Sistem Kesehatan
Akademik antara Kemenkes dan Kemendikbudristek di Jakarta, hari ini.

Dikatakan Nadiem pihaknya berkomitmen mempercepat pemenuhan dosen yang berasal dari rumah sakit pendidikan dengan berbagai macam inisiatif, antara lain mengupayakan percepatan pengusulan nomor induk dosen khusus (NIDK), memberikan penugasan dan bimbingan teknis kepada perguruan tinggi yang diberi tugas membuka prodi baru dokter spesialis, dan memberikan beasiswa LPDP untuk mahasiswa program dokter spesialis.

Baca juga: Kemenkes jalankan Inpres 3/2022 lewat integrasi data kesehatan terpadu

Kemendikbudristek akan memperkuat kebijakan sistem seleksi mahasiswa dan penjaminan mutu kelulusan melalui uji kompetensi sesuai standar nasional pendidikan kedokteran.

Selain itu, menyusun kebijakan untuk menjamin pemenuhan mahasiswa kedokteran dengan komite bersama khususnya untuk perlindungan dari segala bentuk perundungan dan seksual.

Kebijakan tersebut mengatur juga tentang beban kerja, hingga pemberian insentif untuk mahasiswa program dokter spesialis yang mendukung pelayanan di RS pendidikan.

Baca juga: Menkes: Kembali pakai masker meski COVID-19 RI di level aman WHO

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel