Kemenkes: Rutin isi K3JH hindari telatnya deteksi penyakit pasca-haji

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta setiap jamaah haji yang baru kembali ke Tanah Air untuk mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH) guna menghindari telatnya deteksi berbagai macam penyakit setelah menjalani ibadah haji.

“Nanti selama di rumah itu ada masa 21 hari setelah pulang ke Tanah Air. Selama 21 hari ke depan, ada kartu kewaspadaan jamaah haji itu harus diisi dan dimonitor betul,” kata Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril, dalam "Siaran Sehat bersama Dokter Reisa" yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Syahril menuturkan selama 21 hari ke depan, jamaah harus terus rutin mengisi kondisi kesehatannya melalui kartu tersebut. Apabila dalam rentang waktu itu terdapat gejala-gejala yang timbul, maka jamaah harus segera melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, seperti puskesmas.

Pemantauan dalam KJ3H sendiri dimaksudkan sebagai deteksi dini berbagai macam penularan penyakit, seperti COVID-19 dan meningitis. K3JH merupakan salah satu upaya pemerintah menjaga jamaah haji tetap sehat usai melaksanakan ibadah di Arab Saudi.

“Tentu saja kita juga tidak berharap ada jamaah haji yang mungkin saja karena faktor macam-macam, dia jatuh sakit. Jangan mudah panik, tetap diurus dan tetap diawasi oleh satgas dan pemerintah kita, agar jamaah haji yang sudah pulang ini dapat dirawat ke rumah sakit rujukan. Itu semuanya tidak bayar ya, sudah disiapkan pemerintah,” kata dia.

Selain mengisi K3JH, Syahril meminta agar semua pihak dapat memaklumi dengan masih terjadinya penularan COVID-19, diharapkan keluarga dapat menghindari bersentuhan, seperti mencium tangan ataupun berpelukan.

Penerapan protokol kesehatan, seperti penggunaan masker, mencuci tangan serta menjaga jarak, juga harus terus dijalankan sebagai upaya mencegah penularan virus.

Menurut Syahril tidak hanya K3JH, pemerintah juga mengerahkan dokter dan perawat di tiap kloter untuk bisa mendeteksi dini seluruh penyakit yang kemungkinan mengenai jamaah haji.

Kesehatan jamaah juga akan diperiksa melalui debarkasi di daerahnya masing-masing, sehingga jamaah haji yang sehat dapat langsung dipulangkan. Namun, bagi jamaah yang terdeteksi memiliki gejala seperti COVID-19, misalnya, maka akan diberikan pemeriksaan lebih lanjut.

“Nanti tes antigen, kalau dia positif dilanjutkan dengan PCR. Kalau PCRnya tetap positif, maka akan dilakukan isolasi mandiri yang akan dilakukan oleh Satgas di situ, pemerintah setempat di situ. Contohnya kalau di Jakarta di Wisma Atlet,” ujar dia.

Syahril berharap semua jamaah bisa pulang dengan sehat dan selamat tiba di tujuannya masing-masing.

Dirinya juga berharap jamaah dapat mematuhi kebijakan karantina mandiri, agar setiap anggota tidak terkena penularan virus, utamanya karena masih pandemi COVID-19 ataupun kemungkinan buruk lainnya.

“Dilakukan karantina mandiri di rumah itu dengan pembatasan-pembatasan. Sekali lagi, bukan karena tidak boleh, tapi karena kita ingin menghindari semuanya (berbagai macam penularan penyakit),” ujar Syahril.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel