Kemenkes Tanggapi Soal Vaksin COVID-19 Produksi China Kurang Efektif

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah China memberi pengakuan mengejutkan terkait vaksin COVID-19 produksinya yang ternyata kurang efektif dalam mencegah penyakit menular tersebut. Hal itu membuat pemerintah China hendak mengkombinasikan vaksinnya agar lebih efektif.

Menanggapi hal itu, Jubir Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyebut bahwa Indonesia tengah menunggu laporan baru dari pihak terkait. Sebab, berbagai langkah uji klinis harus kembali dilakukan oleh penguji vaksin.

"Tentang adanya rencana pemerintah China mencampur vaksinnya, kita tunggu saja karena ini kan masih harus melalui berbagai uji klinis untuk memastikan bahwa ide ataupun inovasi ini memiliki efektivitas," kata Nadia, dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan RI, Senin 12 April 2021.

Saat ini, vaksin buatan China berasal dari perusahaan Sinovac dan Sinopharm. Indonesia sendiri telah memakai salah satunya, yakni CoronaVac buatan Sinovac. Sebelum dipakai secara massal, Nadia menegaskan pemerintah telah melakukan uji klinis dan hasilnya pun sangat baik.

"Vaksin Sinovac yang saat ini kita gunakan masih cukup efektif untuk menekan laju penularan. Dari uji klinis di Universitas Padjajaran pun angka pembentukan antibodi yang muncul selama uji klinis tahap 3 yakni 95-99 persen artinya sudah sangat baik," beber Nadia.

Dikutip dari laman Al Jazeera, Pejabat tinggi pengendalian penyakit di China, mengakui bahwa vaksin corona buatanya memiliki efektivitas yang rendah. Pihaknya lantas mempertimbangkan untuk mencampur vaksin tersebut dalam upaya untuk meningkatkan kemanjurannya.

"(Vaksin COVID-19 China) tidak memiliki tingkat perlindungan yang sangat tinggi", kata Gao Fu, direktur Pusat Pengendalian Penyakit China.

Beijing telah mendistribusikan ratusan juta dosis di negara lain, kebanyakan di Afrika, Amerika Selatan, dan bagian Asia lainnya. Tingkat efektivitas keseluruhan Sinovac, ditemukan serendah 50,4 persen selama uji coba tahap akhir di Brasil meskipun kinerjanya lebih baik di Indonesia dan Turki.

“Sekarang dalam pertimbangan apakah kami harus menggunakan vaksin yang berbeda dari jalur teknis yang berbeda untuk proses imunisasi,” kata Gao tanpa menjelaskan apakah itu akan mencakup vaksin buatan luar negeri.