Kemenkes: Tantangan Geografis Persulit Vaksinasi COVID-19

Tasya Paramitha, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Program vaksinasi COVID-19 yang dimulai sejak Januari 2021 membawa dampak penting dalam penanganan kasusnya di Indonesia. Meski begitu, pemerintah memiliki tantangan tersendiri terkait pendistribusian vaksin ke berbagai daerah.

Diakui Plt Dir Jend Kemenkes, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS, Indonesia berbeda dengan negara lain dalam hal geografis. Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Indonesia pun terbagi dalam lebih dari 17 ribu pulau. Perbedaan geografis ini yang memberi kesulitan tersendiri untuk memasok vaksin COVID-19.

"Tantangan geografis, kesulitan-kesulitan ini, mempunyai strategi tersendiri di dalam pelaksanaan setiap program kesehatan, khususnya juga di dalam proses vaksinasi COVID-19," ujar Maxi dalam acara virtual Technoplast bertajuk Tantangan Distribusi Vaksin COVID-19 ke Pelosok Indonesia, baru-baru ini.

Dengan adanya pengalaman dalam melaksanakan program vaksinasi rutin, Maxi menyebut bahwa itu yang menjadi modal utama untuk mendistribusikan vaksin COVID-19 dengan aman. Termasuk untuk pemakaian suhu dingin terhadap vaksin COVID-19, yang serupa dengan vaksin pada umumnya.

"Kecuali vaksin tertentu seperti Pfizer itu mungkin kita belum ada pengalaman. Tetapi untuk yang lain sama logistiknya. Cold chain-nya itu di 2 sampai dengan 8 derajat (Celsius)," ucapnya lagi.

Maxi menambahkan, ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana distribusi vaksin. Mulai dari ketersediaan kendaraan, ketersediaan dan kapasitas sarana atau alat pendingin sesuai karakteristik vaksin, jadwal distribusi, level stok maksimum dan minimum vaksin, dan juga waktu interval vaksin sesuai dengan jenis vaksin.

“Selama proses distribusi harus dipastikan kualitas vaksin COVID-19 terjaga dengan baik. Untuk itu harus dilakukan pemantauan vaksin sepanjang proses distribusi," kata dia.

Ada pun jalur pendistribusian vaksin COVID-19 yang dilakukan oleh Biofarma ke sejumlah daerah telah menggunakan teknologi Bio Tracking dan Bio Detect yang dilengkapi freeze alert. Itu yang akan memberikan peringatan dini ketika ada perubahan suhu yang signifikan dan dapat berdampak terhadap kualitas vaksin.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama PT Trisinar Indopratama (Technoplast), Ellies Kiswoto mengungkapkan Technoplast telah memproduksi Insulated Vaccine Carrier (IVC) berteknologi tinggi yang memenuhi kriteria sistem distribusi cold chain untuk vaksin COVID-19.

IVC Technoplast yang dilengkapi teknologi IOT, mampu memberikan kestabilan suhu ruangan antara 2 hingga 8 derajat Celcius dalam waktu 48 jam, meski suhu di luar ruangan mencapai 30 derajat celcius.

“Teknologi IOT ini tidak sekadar mendeteksi suhu dan lokasi saja, tetapi juga memberikan informasi seperti tanggal pengiriman vaksin dari produsen, jumlah vaksin, real time lokasi, track record suhu, nama kurir, identifikasi pesawat, dan nomor plat mobil. Setiap vaccine box memiliki QR code tersendiri,” terangnya.

Berdasarkan data Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), per 10 April 2021, dari target sasaran vaksinasi sebanyak 181.554.465, baru sekitar 5.050.524 orang yang menyelesaikan dua tahap vaksinasi.

Diharapkan, distribusi vaksin yang baik dan benar membuat target vaksinasi bisa dicapai lebih cepat.