Kemenkes Tegaskan Kesimpulan Etilen Glikol Penyebab Gagal Ginjal Bukan Asumsi

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Kesehatan membantah anggapan kesimpulan cemaran etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG), dan etilen glikol butil ether (EGBE) pada obat sirop jadi penyebab gangguan ginjal akut hanya asumsi semata.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril menegaskan, kesimpulan pemerintah soal cemaran EG dan EDG merujuk pada temuan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. WHO mengindikasikan penyebab gagal ginjal karena EG dan DEG dan Fomepizole menjadi opsi pengobatannya.

"Jadi bukan berdasarkan asumsi semata," tegas Syahril melalui keterangan tertulis, Jumat (4/11).

Dia mengklaim, penggunaan Fomepizole berdampak positif. Sebanyak 95 persen pasien gagal ginjal akut di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan perkembangan yang terus membaik usai mendapatkan Fomepizole.

Syahril menjelaskan, pertimbangan pemberian Fomepizole kepada pasien gagal ginjal akut karena adanya perbaikan kondisi pasien. Sehingga disimpulkan pengobatan menggunakan Fomepizole terbukti efektif menyembuhkan dan mengurangi perburukan gejala.

"Kami sampaikan tidak ada komersialiasi obat-obatan oleh Kemenkes, tetapi semata mata hanya untuk menyelamatkan anak anak," tegasnya lagi.

Syahril menyebut, Indonesia cukup beruntung telah memiliki 246 vial Fomepizole. Sebagian besar atau 87 persen dari obat tersebut merupakan donasi gratis dari negara lain. Sudah sebanyak 17 rumah sakit di 11 provinsi mendapatkan distribusi Fomepizole.

Dia mencatat, sejak 18 Oktober 2022, kasus gagal ginjal akut di Indonesia menurun. Penurunan terjadi setelah Kementerian Kesehatan meminta tenaga kesehatan dan apotek tidak memberikan obat sirop kepada anak.

Kesimpulan Penyebab Gagal Ginjal Akut Terlalu Prematur

Peneliti Keamanan dan Ketahanan Kesehatan Global Dicky Budiman menilai, kesimpulan pemerintah gangguan ginjal akut disebabkan cemaran etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG), dan etilen glikol butil ether (EGBE) pada obat sirop terlalu prematur.

Penilaian ini bukan tanpa sebab. Menurut Dicky, data gangguan ginjal akut rujukan pemerintah saat ini hanya berasal dari hasil pemeriksaan di rumah sakit. Bukan data kondisi yang terjadi di lingkungan masyarakat.

“Kalau bicara terdeteksi dari hasil pemeriksaan ada etilen glikol dan dietilen glikol, bisa saja. Artinya bisa jadi landasan. Tetapi untuk menyimpulkan bahwa semua ini hanya karena etilen dan dietilen glikol, ya, menurut saya terlalu prematur,” kata Dicky, Jumat (4/11).

Dia menyebut, ada sekitar 30 hingga 40 persen pasien gagal ginjal akut tidak mengonsumsi obat sirop. Kondisi ini menunjukkan, etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butil ether tidak bisa menjadi alasan kuat penyebab gagal ginjal akut.

Dicky menduga, ada penyebab lain gagal ginjal akut selain etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butil ether. Misalnya, pasien mengalami dampak pernah terinfeksi Covid-19, kemudian mengonsumsi obat lain selain sirop.

“Jadi jangan disimplifikasi, jangan disederhanakan karena ingin cepat,” ujarnya.

Pemerintah Perlu Buka Hasil Analisa Gagal Ginjal Akut

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama menilai, tidak tepat bila kesimpulan penyebab gagal ginjal akut diambil dari data sejumlah pasien saja. Padahal, total pasien gagal ginjal di Indonesia sebanyak 304 anak.

Tjandra meminta pemerintah melakukan analisa mendalam penyebab gagal ginjal akut pada anak. Langkah yang dilakukan bisa dimulai dari mengecek satu per satu obat yang dikonsumsi pasien. Kemudian memeriksa riwayat infeksi pasien, faktor lingkungan, hingga kebiasaan tertentu.

“Untuk analisa ini maka tentu perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) yang amat ketat pada setiap dari 304 anak itu, termasuk bagaimana keadaan di rumahnya, atau tempat bermain, atau di sekolahnya kalau sudah sekolah, dan lain-lain,” ujarnya.

Eks Kepala Balitbangkes Kemenkes ini menyarankan pemerintah membuka lengkap hasil analisa terhadap seluruh pasien gagal ginjal akut.

“Akan baik kalau dikeluarkan analisa dalam bentuk semacam tabel lengkap dari 304 kasus ini. Masing-masing dituliskan informasi demografinya, lalu informasi perjalanan penyakitnya, lalu obat-obat apa saja yang dikonsumsi sebelum sakit pada setiap anak itu dan juga berbagai faktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya penyakit,” kata Tjandra. [tin]