Kemenkes tingkatkan layanan JKN untuk tindakan panyakit katastropik

Kementerian Kesehatan RI melakukan peningkatan layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pemerataan dan optimalisasi layanan rujukan jejaring rumah sakit nasional untuk penyakit katastropik seperti jantung, kanker, stroke dan ginjal.

"Percepatan peningkatan cakupan pelayanan rumah sakit rujukan dengan visi 34 provinsi memiliki minimal satu rumah sakit tingkat paripurna atau utama dan 507 kabupaten/kota memiliki minimal satu rumah sakit tingkat madya," kata Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX yang diikuti dari YouTube di Jakarta, Selasa.

Dilansir dari materi pemaparan Dante, kriteria rumah sakit paripurna merupakan klasifikasi layanan terlengkap bagi penanganan pasien dengan penyakit jantung, kanker, stroke, ginjal serta layanan ibu dan anak.

Baca juga: DJSN kaji pembiayaan program kelas rawat inap standar

Layanan yang dimaksud berupa tindakan bedah, kemoterapi, radioterapi, penanganan komprehensif dan mutakhir bagi pasien kanker.

Pelayanan non-intervensi, kateterisasi jantung, bedah jantung terbuka, dan penanganan terpadu dan mutakhir trombolisis bagi pasien gangguan jantung.

Pada pasien stroke dilengkapi dengan fasilitas intervensi vaskular non bedah, intervensi vaskular bedah, penanganan komprehensif hemodialisis.

Rumah sakit paripurna juga lengkapi dengan layanan tindakan uro-nefrologi berupa pasang akses HD, tindakan operatif batu prostat, hemodialisis, CAPD anak, operatif dengan invasive minimal hingga transplantasi ginjal.

Baca juga: BPJS Kesehatan beri JKN untuk keluarga penyanyi cilik Farel

Pada pelayanan ibu dan anak dilengkapi fasilitas pelayanan dasar, pelayanan spesialistik, pelayanan subspesialistik dan pelayanan kasus kompleksitas tinggi.

Pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tersebut dilakukan secara bertahap mulai tahun ini hingga 2028.

"Target 50 persen kabupaten/kota sebelum 2025 dan 100 persen sebelum 2028," katanya.

Menurut Dante, penyakit katastropik seperti jantung, kanker, stroke, ginjal, dipilih sebab memiliki risiko kematian tertinggi serta membutuhkan biaya perawatan kesehatan yang relatif mahal di Indonesia.

Baca juga: Analis: Biaya vaksinasi perlu masuk tanggungan BPJS Kesehatan

Baca juga: Program Rujuk Balik bantu pasien penyakit kronis stabilkan kesehatan